-->

STANDAR BARU BERGEGURITAN BAGI ANAK

 


STANDAR BARU BERGEGURITAN BAGI ANAK

Taman Tembang dan SastraBudaya – Sebuah langkah yang mungkin kurang populer bagi para penggiat sastra, khususnya geguritan, yakni membuat buku yang bermaterikan geguritan untuk anak sekaligus mengadakan lomba baca geguritan bagi anak. Namun, para penggiat seni sastra yang tergabung dalam Komunitas Sastra Giri Kawedhar (KSGK) berani mencoba hal tidak lazim tersebut meskipun semuanya masih butuh banyak perbaikan di sana-sini.

“Setidaknya kami telah berani melangkah meskipun masih banyak kekurangan, baik dari segi materi geguritan maupun standar baca geguritan bagi anak-anak. Untuk itu, mudah-mudahan langkah yang dilakukan oleh teman-teman di Komunitas Sastra Giri Kawedhar (KSGK) ini mendapatkan perhatian bagi para pelaku seni dan semua masyarakat budaya agar anak-anak kita menemukembali dunianya, habitatnya, fitrahnya sebagai anak. Dan yang lebih utama, anak-anak mengenalkembali budayanya, yakni budaya Jawa lewat seni baca geguritan sehingga diharapkan tumbuh rasa cinta dan memiliki terhadap seni budayanya,” ujar Parpal Poerwanto selaku ketua panitia.

Keberanian para pegiat seni dari Komunitas Sastra Giri Kawedhar (KSGK) ini mendapat apresiasi dari warga pecinta budaya, Satya Graha (35). “Komunitas Sastra Giri Kawedhar (KSGK) adalah satu komunitas yang bergerak untuk literasi sastra dan budaya Jawa. Rata-rata pegiatnya adalah guru dan pelaku seni budaya, tidak hanya dari Wonogiri saja, tetapi bahkan luar Jawa. Cukup banyak karya sastra KSGK yang telah diterbitkan, salah satunya buku kumpulan geguritan yang bertajuk Geguritan Kangge Lare: Lela Ledhung.”

Lebih lanjut Satya Graha mengatakan bahwa Lomba Geguritan yang diadakan oleh KSGK ini patut diapresiasi. Bukan hanya untuk mengejar prestasi, tetapi nguri-uri seni dan budaya Jawa. ”Sinambi mengapresiasi dan nguri-uri budaya Jawi, mari berkompetisi. Lambat laun, akan tercipta standar baru bergeguritan.”

Berkaitan dengan pernyataan di atas, seoarang pegiat seni yang juga merupakan dedengkot KSGK, Kun Prastowo, menanggapi bahwa kompetisi itu perlu dikenalkan bagi anak-anak sejak dini. “Saya sangat tertarik dengan kata 'kompetisi' karena sejatinya hal itulah yang selama ini sangat minim ditemui anak-anak yang sedang bertumbuh menemukan jati diri.”

Lebih lanjut Kun Prastowo menyatakan bahwa kompetisi, apapun jenis bidangnya, selayaknya menjadi hal yang jamak dilakukan bagi anak-anak agar nantinya mampu memaknai arti persaingan secara positif. Dapat memahami dan menghayati proses berkompetisi sehingga generasi mendatang menjadi pribadi yang siap menyongsong masa depannya. Menang atau kalah dalam sebuah kompetisi bukan hasil akhir. Manakala menang, itu sebagai pembuktian bahwa proses telah berjalan sesuai kapasitasnya. Apabila masih kalah, ya harus terus meningkatkan kemampuannya.

Wonogiri sebagai salah satu kabupaten yang masih kental dengan budaya Jawa sudah selayaknya sering memberi ruang-ruang kompetisi bagi generasi muda untuk berkompetisi sekaligus menata kembali upaya untuk terus melestarikan sastra lisan yang merupakan bagian dari budaya Jawa.

Kepedulian semua pihak diharapkan akan semakin semarak.

“Keberpihakan untuk turut nguri-uri budaya adalah hak, namun kesadaran untuk berperan dalam upaya nguri-uri, melestarikan dan ndhudhah sastra Jawa merupakan langkah awal agar budaya Jawa dapat menjadi filter bagi invasi budaya asing,” tegas Kun Prastowo.

Seperti diketahui bahwa gelaran lomba baca geguritan anak baru saja usai. Dalam kegiatan ini bertindak sebagai juri 1 adalah Budi Wahyono (Semarang), juri 2  Arih Numboro (Surakarta), dan juri 3  Eko Wahyudi Merapi (Kebumen). Kejuaraan ditentukan dengan dua tahap. Tahap pertama adalah 30 peserta yang mendapat like terbanyak dalam unggahan Youtube masuk final. Kemudian dari 30 finalis itu akan ditentukan juara 1, 2, dan 3. Selain itu juga dipilih juara pilihan pemirsa dengan like terbanyak sebagai juara favorit. Berturut-turut adalah para juara. Panji Cayapata Siladri dari SDN 1 Wonogiri sebagai juara 1, Khanita Alvina Zahra dari SMPN 1 Wonogiri sebagai juara 2, Indra Dwi Kurniawan dari SMPN 5 Wonogiri sebagai juara 3. Sedangkan juara favorit diraih Hanifa Wilda Amrullah dari SDN 1 Tempursari, Sidoharjo, Wonogiri (Pal).

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "STANDAR BARU BERGEGURITAN BAGI ANAK"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel