-->

KEGELISAHAN ITU (SEMOGA) TERBAYAR

 


KEGELISAHAN ITU (SEMOGA) TERBAYAR

Taman Tembang dan SastraBudaya – Hari itu, Jumat Wage, Mas Guru Bonang sangat dilematis. Betapa, baru saja ia dapat telpon dari seorang sahabat yang mengabarkan bahwa Bapak Roeswardiyatmo seda. Di sisi lain, ia punya niat kesanggupan untuk ke rumah ibunya –pada saat itu, karena sejak njenggruk selama satu bulan—ia belum sempat bertandang ke rumah ortunya. Maka, pilihan jatuh ke bertandang ke rumah ortunya. Tepat, ternyata pilihan yang tepat. Misalnya hari itu ia melayat, tentu akan semakin menjadi pikiran ibunya. Dari adiknya diperoleh keterangan, jika hari itu Mas Guru Bonang tidak datang, besuk pagi ibunya akan datang menjenguk. Padahal, waktu itu tensi ibunya mencapai 250 dan baru saja pulang dari dokter.

Mas Guru Bonang merasa lega. Namun, di sini lain ia juga merasa gelisan dan getun karena tidak bisa takziah. Ya, bagi Mas Guru Bonang, Bapak Roeswardiyatmo almarhum memiliki tautan kisah yang sayang untuk dilupakan.

Waktu itu, sekira tahun 2002, Mas Guru Bonang merasa sendirian untuk berekspresi di bidang seni budaya, khususnya seni tulis-menulis. Mangsudnya, sukar sekali untuk bergaul dengan para pelaku seni sastra di Wonogiri. Mas Guru Bonang seperti anak yang lindap tersesat di rimba para penulis senior di kota gaplek itu. Keberadaannya tidak tertampak. Kerdil terabaikan.

Kemudian, kegelisahaannya itu diutarakan kepada seorang teman dan terbetik sebuah ide. Mangkanya, ia segera membuat “odo-odo” agak keberadaannya sedikit diendus. Diadakannya sebuah lomba baca puisi untuk anak SMP se-Kabupaten Wonogiri. Menurut prediksi, dalam ajang tersebut meraih peserta sebanyak 30 saja sudah hebat. Ternyata, pesertanya jauh melampui, yakni sekira 200 orang. Maka kelabakanlah Mas Guru Bonang. Namun karena itulah ada hikmahnya. Atas jasa Pak Suharno Prihutomo, maka dipanggillah para sastrawan senior di kota gaplek itu untuk membantu Mas Guru Bonang yang umbas-umbis karena kebingungan. Nah, berawal dari situlah Mas Guru Bonang bisa kenal dan akrab dengan Pak Roeswardiyatmo dan kawan-kawan.

Sejak saat itu, setiap diadakan kegiatan budaya yang selalu Mas Guru Bonang terlibat di dalamnya. Juga, kadang bertiga (dengan Mas Didit Setyo Nugroho) kami ngobrol ngalor-ngidul. Satu yang menjadi kekaguman Mas Guru Bonang atas beliau, yakni kesanggupan naik sepeda motor dari Solo-Wonogiri PP di malam hari, bahkan dalam cuaca yang dingin oleh gerimis. Hal itu dilakukan hanya untuk diskusi.

Oh ya, kata beliau, untuk ukuran sastrawan Mas Guru Bonang itu terlalu klimis. Beda sekali dengan beliau. Waktu masih menjadi guru, kata beliau, selalu berambut gondrong. Sayang itu diutarakan ketika beliau sudah pensiun dari Kadinas. “Coba itu diutarakan ketika Bapak masih menjabat, saya juga akan gondrong,” jawab  Mas Guru Bonang waktu itu.

Di waktu lain, ketika Mas Guru Bonang ikut cipta lagu campursari tingkat Jawa Tengah, di mana final kegiatan itu di laksanakan di Objek Wisata Gajahmungkur. Pada ajang itu Mas Guru Bonang mendapat predikat lagu terbaik lewat lagu berjudul Kenangan Waduk Gajahmungkur. Saat panitia menyebut nama Mas Guru Bonang untuk ke panggung menerima piala, tak ada sambutan atau tepuk tangan dari hadirin. Setelah beberapa saat lengang, majulah Pak Roeswardiyatmo memberi ucapan selamat dan memeluk Mas Guru Bonang, barulah Bapak Bupati dan  para pejabat naik panggung memberikan ucapan selamat. Dan terbitlah tepuk tangan.

Akan tetapi, bukan hal di atas yang menjadikan Mas Guru Bonang merasa gelisah. Kegelisahan itu bermula dari kesanggupan Mas Guru Bonang yang tidak kesampaian hingga Pak Roeswardiyatmo wafat. Pada waktu, di saat beliau telpon Mas Guru Bonang untuk menerbitkan karyanya. Mas Guru Bonang menyanggupi dan akan bertandang ke rumah beliau. Namun, hingga beliau wafat kesanggupan tadi belum terlaksana.

Itulah yang membuat Mas Guru Bonang berhari-hari dirundung kegelisahan.

Pada 23 April 2022 malam, ada yang meminta untuk berteman di facebook. Biasa, Mas Guru Bonang sok selektif dalam berteman. Maka dibuka dulu profil siapa yang mengajak berteman itu. Loh, ternyata putra dari Pak Roeswardiyatmo. Setelah dikonfir, maka kami berlanjut chating di in-box. Dus, berlanjut ke WA.

Hari ini, Senin (9/5), Mas Whisnu, putra Pak Roes, bersama istrinya berkenan rawuh ke rumah Mas Guru Bonang. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Mas Guru Bonang untuk meminta maaf serta berkeinginan untuk melunasi kesanggupan, yakni menerbitkan karya almarhum. Dengan demikian, semoga kegelisan itu tidak muncul lagi. (PAL).


Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "KEGELISAHAN ITU (SEMOGA) TERBAYAR"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel