FILM KI AGENG DONOLOYO SEGERA TAYANG
FILM KI AGENG DONOLOYO SEGERA TAYANG
Taman Tembang dan Sastra – Budaya – Film Ki Ageng Donoloyo (KAD)
yang diproduksi oleh CTD Productions hasil garapan sutradara Imam Santosa siap tayang
pada pertengahan bulan Agustus 2022. Film yang diangkat dari buku cerita rakyat
berjudul Cempurung tulisan Kun Prastowo dan Parpal Poerwanto itu melibatkan
tidak kurang dari 130 pemain.
Imam menjelaskan bahwa para pemain dalam film KAD ini
merupakan talenta lokal Kabupaten Wonogiri. “Kami memberikan kesempatan bagi
masyarakat Wonogiri untuk terlibat dalam proses pembuatan film Ki Ageng
Donoloyo ini. Sekitar 130 pemain yang terlibat. Sebagian besar dari Kecamatan
Slogohimo, khusus warga Desa Slogohimo yang terlibat sekitar 10 orang.”
Sementara itu menurut salah seorang penulis cerita, Kun
Prastowo, diangkatkanya cerita rakyat yang berlatar belakang berdirinya Hutan
Donoloyo merupakan media edukasi bagi masyarakat."Film Ki Ageng Donoloyo
diharapkan menjadi tonggak awal tumbuhnya ekonomi kreatif di Kabupaten
Wonogiri. Di samping itu diharapkan dapat menjadi gerakan untuk pelestarian
alam dan pengenalan potensi wisata serta upaya untuk mengangkat kembali cerita
rakyat yang merupakan kekayaan budaya lokal."
Lokasi syuting film KAD dipilih tempat-tempat yang eksotis,
di antaranya di Girimanik, Geneng Padarangin Slogohimo, Desa Kepyar Purwantoro,
Alas Kucur Badegan, dan Desa Dawung Kismantoro. "Selain menyajikan lokasi
yang eksotis, kisah yang ditampilkan dalam film tentu dipermanis dengan sisipan
cerita agar alur cerita menjadi maksimal. Kekuatan gambar, dialog, dan akting
para pemain menjadi nilai tambah pada film ini," ungkap sutradara, Imam
Santosa.
Rencananya, film Ki Ageng Donoloyo akan ditayangkan di balai
desa se-Kecamatan Slogohimo serta masing-masing kecamatan se-Kabupaten Wonogiri
bekerjasama dengan pemerintah desa/kelurahan setempat.
Film ini menceritakan kisah perjuangan Ki Ageng Donoloyo
yang berhasil membuat hutan jati di mana salah satu pohon jati yang diberi nama
jati Cempurung dijadikan saka guru Masjid Agung Demak Bintoro.
Dikisahkan, menjelang runtuhnya kerajaan Majapahit dan awal
berdirinya Kasultanan Demak Bintoro, di tengah masyarakat terjadi perbedaan
pandangan hidup yang membuat banyak sentana nata merasa tidak nyaman dan
memilih linggar dari lingkungan keraton.
Adalah Raden Donokusumo bersama kakak perempuannya, Raden
Ayu Donowati, serta salah seorang kerabatnya yaitu Raden Meleng memilih
meninggalkan keraton untuk mencari tentreming urip dan padhanging ati;
mengembara ke arah barat.
Raden Ayu Donowati dan Raden Meleng akhirnya membina rumah
tangga dan hidup tentram di tlatah Sukoboyo, sementara Raden Donokusumo
melanjutkan perjalanan dan tinggal di lereng Gunung Braja.
Seiring perjalanan waktu, Raden Meleng berhasil menanam
pohon jati dan tlatah Sukoboyo menjadi alas jati untuk mendukung cita-citanya
melanjutkan trah Majapahit.
Mendengar kabar itu, Raden Donokusumo atau Ki Donosari
berminat menanam pohon jati lalu meminta janggleng kepada kakak iparnya namun
ditolak.
Merasa iba, maka Raden Ayu Donowati secara sembunyi menaruh
tiga butir janggleng di tongkat adiknya, Ki Donosari.
Ajaib, tiga janggleng itu akhirnya tumbuh menjadi pohon jati
yang tinggi besar; jati Denok, jati Sukomangu dan jati Cempurung.
Jati Cempurung merupakan cikal bakal Hutan Donoloyo yang
berada di Kecamatan Slogohimo Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. (Kun Prastowo/Parpal
Poerwanto).

0 Response to "FILM KI AGENG DONOLOYO SEGERA TAYANG"
Post a Comment