-->

MERETAS JALAN PELESTARIAN LINGKUNGAN DAN BUDAYA DI KAWASAN GUNUNG LAWU #Tulisan3

 


MERETAS JALAN PELESTARIAN LINGKUNGAN DAN BUDAYA DI KAWASAN GUNUNG LAWU #Tulisan3

 

Taman Tembang dan Sastra – Budaya – Tamantembangsastra kali ini menyajikan sebuah gagasan yang tertuang dalam buku bertajuk Meretas Jalan Pelestarian Lingkungan dan Budaya di Kawasan Gunung Lawu yang ditulis oleh Donny Prabawa, S.TL. Ini merupakan tulisan ketiga. Selamat membaca.

 

 

b.  Desa Seloromo, Kecamatan Jenawi

     1) Lokasi bencana dan waktu kejadian.

     Lokasi gerakan tanah terdapat di 2 (dua) lokasi yaitu:

·         Dukuh Karang Asem1 RT.4 RW.1 Desa Seloromo, Kecamatan Jenawi, secara geografi terletak pada koordinat: 007o 32’ 27.5” LS dan 111o 06’ 08.7” BT. Gerakan tanah terjadi pada hari Kamis, 16 April 2015 setelah terjadi hujan deras.

·         Dukuh Karang Asem2, Desa Seloromo, Kecamatan Jenawi, secara geografi terletak pada koordinat : 007o 32’ 23.8” LS dan 111o 06’ 05.2” BT. Gerakan tanah terjadi pada hari Kamis, 16 April 2015 setelah terjadi hujan deras.

2) Kondisi bencana dan akibat yang ditimbulkan.

·         Gerakan tanah di Dukuh Karang Asem1 pernah terjadi sebelumnya pada tahun 1982, tipe longsoran berupa nendatan, retakan dan amblesan dengan arah N 3300 E ke arah timur dengan panjang landasan ± 25 m.

·         Gerakan tanah di Dukuh Karang Asem2 pernah terjadi sebelumnya pada tahun 1982, tipe longsoran berupa nendatan dengan panjang mahkota longsoran ±50 m dan lebar ±10 m.

·         Dampak bencana: Di Dukuh Karang Asem1 : jalan sepanjang ±15 m amblas, 2 rumah dan 1 masjid terancam. Di Dukuh Karang Asem2 : badan jalan hancur, 8 rumah terancam.

3) Kondisi daerah bencana.

·         Morfologi: Secara umum, daerah bencana memiliki morfologi berupa perbukitan bergelom-bang dengan kemiringan lereng agak terjal-sangat terjal. Daerah bencana di Dukuh Karang Asem berada pada ketinggian 450 meter di atas permukaan laut.

·             Geologi: Berdasarkan Peta Geologi Lembar Ponorogo, Jawa (Sampurno dan H. Samodra, dkk, 1997), secara regional lokasi gerakan tanah disusun oleh Batuan Gunungapi Lawu yang terdiri dari tuf dan breksi gunungapi bersisipan lava, umumnya andesit. (Qvl). Batuan penyusun di lokasi gerakan tanah yang berada pada permukiman adalah berupa batuan breksi gunung api dan setempat lava.

·         Keairan: Kondisi keairan di lokasi gerakan tanah berasal dari mata air yang berjarak ±1 km dan dimanfaatkan sebagai sumber air bersih bagi rumah tangga dan pertanian/perkebunan.

·         Tata guna lahan: Tata guna lahan pada daerah bencana berupa pemukiman dan kebun campuran.

·         Kerentanan gerakan tanah: Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi Gerakan Tanah pada Bulan April 2015 di Jawa Tengah (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), lokasi gerakan tanah berada pada zona kerentanan gerakan tanah menengah, artinya daerah ini mempunyai potensi menengah - tinggi untuk terjadi gerakan tanah apabila dipicu oleh curah hujan yang tinggi/diatas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan.

4). Faktor penyebab terjadinya gerakan tanah.

          Secara umum gerakan tanah disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut.

·         Sifat fisik batuan kurang kompak, sementasi lemah, bersifat lepas dan mudah hancur, dan dipekirakan terdapat lapisan tufa di bawah batuan vulkanik, yang kedap air diperkirakan bertindak sebagai bidang gelincir gerakan tanah

·         Kemiringan lereng yang agak terjal sampai sangat terjal mengakibatkan tanah mudah bergerak.

·         Hujan deras yang turun dengan durasi lama semakin menjenuhkan tanah dan tanah akan tidak stabil dan terus bergerak.

5). Mekanisme terjadi gerakan tanah.

   Gerakan tanah di lokasi ini adalah jenis longsoran nendatan, retakan dan amblesan. Gerakan tanah ini dipicu oleh curah hujan yang tinggi yang masuk ke dalam tanah melalui retakan dan ruang antar butir menyebabkan tanah jenuh air dan bobot masanya bertambah sehingga tanah tidak stabil (mudah bergerak). Adanya kemiringan lereng yang terjal dan adanya bidang lincir yang kedap (bidang kontak antara tanah pelapukan dan breksi) menyebabkan tanah menjadi tidak stabil dan mudah bergerak. Keadan tersebut mengakibatkan terjadinya longsoran bahan rombakan dan nendatan yang merusakkan rumah-rumah penduduk. Gerakan tanah ini juga menyebabkan terjadinya retakan dan amblasan pada lereng bagian tengah dan bawah yang menyebabkan beberapa rumah serta jalan rusak.

 c. Desa Menjing, Kecamatan Jenawi

    1) Lokasi bencana dan waktu kejadian.

·         Dukuh Selokerto Rt. 2 Rw. 7, Dusun Jambon, Desa Menjing, Kecamatan Jenawi, secara geografi terletak pada koordinat : 007o 31’ 42.3” LS dan 111o 07’ 10.5” BT. Gerakan tanah terjadi pada hari Kamis, 16 April 2015 setelah terjadi hujan deras.

·         Dukuh Selokerto, Dusun Jambon, Desa Menjing, Kecamatan Jenawi, secara geografi terletak pada koordinat : 007o 31’ 36.2” LS dan 111o 07’ 13.4” BT. Gerakan tanah terjadi pada hari Kamis, 16 April 2015 setelah terjadi hujan deras.

·         Dukuh Selokerto Rt. 1 Rw. 7, Dusun Jambon, Desa Menjing, Kecamatan Jenawi, secara geografi terletak pada koordinat : 007o 31’ 35.5” LS dan 111o 07’ 12.8” BT. Gerakan tanah terjadi pada hari Kamis, 16 April 2015 setelah terjadi hujan deras.

·         Dukuh Selokerto Rt. 1 Rw. 1, Dusun Jambon, Desa Menjing, Kecamatan Jenawi, secara geografi terletak pada koordinat : 007o 31’ 46.0” LS dan 111o 07’ 21.1” BT. Gerakan tanah terjadi pada hari Kamis, 16 April 2015 setelah terjadi hujan deras.

·         Dukuh Selokerto, Dusun Jambon, Desa Menjing, Kecamatan Jenawi, secara geografi terletak pada koordinat : 007o 31’ 43.7” LS dan 111o 07’ 15.7” BT. Gerakan tanah terjadi pada hari Kamis, 16 April 2015 setelah terjadi hujan deras.

·         Dukuh Selokerto, Dusun Jambon, Desa Menjing, Kecamatan Jenawi, secara geografi terletak pada koordinat : 007o 31’ 40.1” LS dan 111o 07’ 13.9” BT. Gerakan tanah terjadi pada hari Kamis, 16 April 2015 setelah terjadi hujan deras.

·         Dukuh Selokerto, Desa Menjing, Kecamatan Jenawi, secara geografi terletak pada koordinat : 007o 31’ 43.7” LS dan 111o 07’ 15.7” BT. Gerakan tanah terjadi pada hari Kamis, 16 April 2015 setelah terjadi hujan deras.

·         Dukuh Selokerto Rt. 2 Rw. 7, Desa Menjing, Kecamatan Jenawi, secara geografi terletak pada koordinat : 007o 31’ 40.1” LS dan 111o 07’ 13.9” BT. Gerakan tanah terjadi pada hari Kamis, 16 April 2015 setelah terjadi hujan deras.

·         Dukuh Sumberejo, Dusun Ngracak, Desa Menjing, Kecamatan Jenawi, secara geografi terletak pada koordinat : 007o 31’ 36.2” LS dan 111o 07’ 13.2” BT. Gerakan tanah terjadi pada hari Kamis, 16 April 2015 setelah terjadi hujan deras.

·         Dukuh Sumberejo, Dusun Ngracak, Desa Menjing, Kecamatan Jenawi, secara geografi terletak pada koordinat : 007o 31’ 38.1” LS dan 111o 07’ 06.1” BT. Gerakan tanah terjadi pada hari Kamis, 16 April 2015 setelah terjadi hujan deras.

 2) Kondisi bencana dan akibat yang ditimbulkan.

Gerakan tanah berupa longsoran bahan rombakan, nendatan dan rayapan yang ditandai dengan adanya retakan dan amblesan pada bangunan dan lantai rumah serta pada jalan. Gerakan tanah ini terdapat pada beberapa tempat dan merusak dan mengancam rumah-rumah penduduk. Longsoran bahan rombakan berukuran panjang 6-40 meter, lebar 5-50 meter dan tinggi gawir antara 3-15 meter dengan arah tegak lurus tebing curam. Sedangkan retakanya umumnya hampir sejajar dan tegak lurus tebing curam.

Dampak bencana: 17 rumah rusak, 45 rumah terancam dan badan jalan sepanjang 15 meter amblas.

       3) Kondisi daerah bencana.

·         Morfologi: Secara umum morfologi di Desa Menjing dan sekitarnya merupakan bagian dari lereng perbukiitan bergelombang sedang dengan kemiringan lereng agak terjal sampai terjal. Lokasi bencana gerakan tanah berada pada ketinggian lebih dari 400 meter diatas permukaan laut.

·         Geologi: Berdasarkan Peta Geologi Lembar Ponorogo, Jawa (Sampurno dan H. Samodra, dkk, 1997), secara regional lokasi gerakan tanah disusun oleh Lahar Lawu yang terdiri dari komponen andesit, basal, dan sedikit batuapung yang bercampur dengan pasir gunungapi (Qlla) yang berumur Kuarter, serta satuan Breksi Jobolarangan yang terdiri dari breksi gunungapi yang setempat lava, keduanya bersusunan andesit (Qvjb).

·         Keairan: Sumber air pada lokasi bencana berasal dari mata air yang berada di dekat Candi Cethi, berjarak sekitar 5 km dari lokasi bencana gerakan tanah.

·         Tata guna lahan: Lahan di lokasi gerakan tanah dimanfaatkan sebagai kebun campuran, ladang dan setempat sebagai permukiman.

·         Kerentanan gerakan tanah: Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi Gerakan Tanah pada Bulan April 2015 di Jawa Tengah (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), lokasi gerakan tanah berada pada zona kerentanan gerakan tanah menengah, artinya daerah ini mempunyai potensi menengah - tinggi untuk terjadi gerakan tanah apabila dipicu oleh curah hujan yang tinggi/diatas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan.

        4) Faktor penyebab terjadinya gerakan tanah.  

Secara umum gerakan tanah disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut.

·         Sifat fisik tanah pelapukan yang tebal (> 3 meter), lunak, sarang dan mudah jenuh air.

·         Kontak antara batuan dasar dan tanah pelapukan yang dapat berfungsi sebagai bidang lincir

·         Kemiringan lereng yang terjal – curam

·         Pemotongan pada kaki lereng yang terlalu tegak mengakibatkan lereng kehilangan gaya penyangga dan tanah mudah bergerak.

·         Hujan deras yang turun dengan durasi lama menjenuhkan tanah dan memicu terjadinya longsoran.

       5)  Mekanisme terjadi gerakan tanah.

Akibat curah hujan yang tinggi yang masuk ke dalam tanah melalui ruang antar butir dan retakan tanah mengakibatkan kandungan air dalam tanah meningkat, sehingga tanah menjadi jenuh air, bobot masa tanah bertambah, ikatan antar butir tanah mengecil, dan daya dukung tanah berkurang, hal ini diperparah dengan adanya bidang gelincir (kontak antara batuan dasar dan tanah pelapukan) dan pemotongan pada kaki lereng yang mengakibatkan lereng kehilangan gaya penyangga.

Keadaan tersebut mengakibatkan lereng menjadi tidak stabil dan bergerak mencari keseimbangan baru sehingga terjadi gerakan tanah.

 

             Berkaca dari pengalaman yang telah terjadi di Kabupaten Karanganyar khusunya di daerah rawan bencana seperti Kecamatan Jenawi telah memunculkan sikap-sikap yang lebih ramah lingkungan. Hal ini memberikan inspirasi bagi beberapa warga masyarakat di Kecamatan Jenawi untuk melakukan langkah-langkah preventif sebelum bencana terjadi walaupun sebenarnya sudah ada sejak dahulu kala. Dengan menghidupkan kembali sikap ramah lingkungan baik dari segi kultur ataupun pelestarian lingkungan hidup, hal sederhananya dengan melakukan penghijauan kawasan hutan sekitarnya. (Bersambung ke #4)


Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "MERETAS JALAN PELESTARIAN LINGKUNGAN DAN BUDAYA DI KAWASAN GUNUNG LAWU #Tulisan3"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel