-->

MERETAS JALAN PELESTARIAN LINGKUNGAN DAN BUDAYA DI KAWASAN GUNUNG LAWU #Tulisan4

 


MERETAS JALAN PELESTARIAN LINGKUNGAN DAN BUDAYA DI KAWASAN GUNUNG LAWU #Tulisan4

 

Taman Tembang dan Sastra – Budaya – Tamantembangsastra kali ini menyajikan sebuah gagasan yang tertuang dalam buku bertajuk Meretas Jalan Pelestarian Lingkungan dan Budaya di Kawasan Gunung Lawu yang ditulis oleh Donny Prabawa, S.TL. Ini merupakan tulisan ke-empat. Selamat membaca.

 

SECARIK PENGALAMAN PELESTARIAN  LINGKUNGAN DAN BUDAYA DI KECAMATAN JENAWI KABUPATEN KARANGANYAR JAWA TENGAH

 “Mencegah kejadian sebelum bencana terjadi lebih penting yaitu dengan melakukan langkah  menghilangkan atau secara signifikan mengurangi kemungkinan dan peluang terjadinya fenomena yang berpotensi merugikan tersebut“

Ikeda dalam Tasdiyanto 2011 mengingatkan bahwa upaya untuk mengatasi berbagai bencana lingkungan hanya dapat dilakukan dalam aras kesela-rasan hidup antara manusia dan alam, sependapat dengan Arnold menegaskan bahwa penyakit masyarakat modern yang menimbulkan berbagai bencana lingkungan hidup hanya dapat disembuhkan sebagai suatu Revolusi Spiritual. Mengambil pengalaman dari kawasan Gunung Lawu berada di Kecamatan Jenawi Kabupaten Karang-anyar  Provinsi Jawa Tengah. Pelestarian kebudayaan berorientasi pada harmonisasi manusia dengan alam, mengedukasi alam pikiran manusia atau mindset agar manusia menghargai alam. Jika mencermati data-data di atas, bencana yang terjadi di Kecamatan Jenawi kecenderungannya adalah tanah longsor dan keretakan tanah, ditilik dari karakteristik kebencanaan berhu-bungan dengan air. Untuk mengurangi resiko bencana telah dilakukakan upaya beberapa tokoh masyarakat yang bergerak di pelestarian lingkungan dengan gerakan menanam di kawasan Gunung Lawu di harapkan sebagai konservasi tanah dan air, dipilih jenis tanaman di mana masyarakat dapat memetik buah atau hasilnya tanpa menebang pohon-pohon di hutan.


a.      Best Practice Kebudayaan di Kawasan Candi Cetho Kecamatan Jenawi Kabupaten Karanganyar Provinsi Jawa Tengah

Candi Cetho berada di Kecamatan Jenawi berada di sisi utara  Gunung Lawu, Candi Cetho suatu pening-galan bersejarah dari para leluhur. Gunung Lawu sendiri mempunyai ketinggian 3.265 m dpl, merupakan satu-satunya gunung yang memiliki tiga puncak, yaitu puncak Harga Dalem, Harga Dumiling dan Harga Dumilah. Gunung Lawu terletak di Pulau Jawa, Indonesia, tepatnya di perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Gunung Lawu terletak di antara dua kabupaten yaitu Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah dan Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Di lerengnya terdapat kepundan kecil yang masih mengeluarkan uap air (fumarol) dan belerang (solfatara). Gunung Lawu mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan hutan Ericaceous. Kata “LAWU” menurut masyarakat setempat berasal dari kata UWAL atau “ Pelepasan” dalam budaya Jawa berarti tempat melepaskan beban hidup, bersatunya manusia dengan alam dan Sang Pencipta. Zaman dulu Gunung Lawu bernama Wukir Mahendra  termasuk gunung purba, tercatat sebagai tujuh puncak gunung tertinggi di Jawa dan diyakini masyarakat Jawa sebagai “Pusering Bumi. Gunung Lawu menyimpan potensi alam, keanekaragaman flora fauna, peradaban mas-yarakat sekitar Gunung Lawu yang melakoni tradisi budaya Jawa berbentuk seni tradisi, tarian tradisional, ritual keagamaan. Jejak sejarah yang menyimpan cerita masa lalu termanifestasikan dalam bentuk candi, petilasan, situs sejarah dari peradaban manusia Jawa. Keberadaan candi purba yang masih menjadi satu rang-kaian dari bentuk candi ditunjukkan berupa struktur batu yang digunakan maupun relief candi. Bukti lain yang menunjukkan usia candi di bawah lereng Gunung Lawu lebih tua dibandingkan candi-candi lain di dunia, saat utusan peneliti dari Suku Maya dari Amerika Latin datang ke Candi Cetho pada tahun 1982 silam (menurut masyarakat setempat), ketika itu peneliti dari Suku Maya ini datang ke candi Cetho dengan didampingi oleh pecinta alam asal Australia. Peneliti tersebut sangat tertarik ingin meneliti lebih lanjut adanya candi di Indonesia yang memiliki struktur bangunan mirip peradaban Suku Maya.  Mereka sengaja melakukan penelitian untuk mengetahui jarak pembuatan candi di Indonesia dengan candi yang ada di Suku Maya.  Mereka mengambil sampel lumut dan batu untuk diteliti pada tahun 1982. Hasilnya sangat mengagetkan peneliti Suku Maya ini. Setelah diteliti, ternyata Candi Cetho usianya jauh lebih tua dibandingkan dengan candi milik Suku Maya".  Candi Cetho tersebut bukan dibuat pada zaman Brawijaya. Bahkan jauh sebelum era Brawijaya candi ini sudah ada. Saat Prabu Brawijaya menemukan candi ini, Raja Majapahit terakhir itu menambahkan beberapa bentuk bangunan atau pahatan pada candi. "Keanehan lain adalah hasil pahatan yang terdapat pada  relief  Candi Cetho sangat simpel dan sederhana.  Berbeda dengan pahatan jaman Majapahit yang lebih detil dan rapi, posisi candi di bawah lereng Gunung Lawu ini yang menghadap  ke arah barat. Sedangkan kebanyakan candi di Indonesia selalu menghadap ke timur. Dari penelitian pada kedua candi adalah pahatan yang ada di candi ini bila diamati dan diteliti sudah membentuk pahatan tiga dimensi. Ini menunjukkan bahwa peradaban zaman dahulu sudah lebih dulu mengenal bentuk tiga dimensi. (Dikutip dari Oke.zone.com tahun 2014 ayobuka.com/2014/07/14/ sejarah-dan-asal-usul-gunung-lawu ).

Menurut sesepuh agama Hindu di Kawasan Candi Cetho mengungkapkan semua aktivitas budaya dan keagamaan bertujuan menyelaraskan antara dimensi Sang Hyang Widhi dan dimensi manusia. Terutama tentang pelestarian lingkungan hidup di Gunung Lawu melalui langkah spiritual mampu memberikan pandangan-pandangan hidup yang seimbang, tercermin dari aktivitas keagamaan di Kawasan Candi Cetho khususnya agama Hindu, seperti berikut.

 

1.       Hari Raya Saraswati adalah hari raya untuk memuja Sang Hyang Widhi dalam kekuatannya menciptakan ilmu pengetahuan dan ilmu kesucian yang dirayakan setiap enam bulan sekali. Kekuatan spiritual Sang Hyang Widhi dilambangkan dengan Seorang Dewi yang membawa alat musik Genitri, pustaka suci, teratai serta duduk diatas angsa. 
Komplek pertamanan yang dibangun di lereng perbukitan berada ditengah hutan pinus sebagai arena meditasi dan upacara ritual bagi masyarakat Hindu setempat dalam memuja dan mengagungkan Sang Pencipta dan Sang Penguasa alam semesta. 

 

2.      Pancawalikrama Prosesi di Candi Cetho 

Menurut kepercayaan masyarakat Hindu, candi Cetho merupakan Khayangan Jagat Nusantara, selain itu candi Cetho juga dikatakan sebagai Besakhih Pertama. Selain itu ada upacara memohon keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang dinamai Prosesi Budaya Menghadap Jagad , prosesi ini dilaksanakan setiap 35 hari sekali, jatuh pada setiap malam Jum’at Legi. Sejak dilaksanakannya upacara “KARYA AGUNG NUSANTARA NGETEG LINGGIH TAWUR AGUNG LABUH GENTUH CANDI CETO GUNUNG LAWU”. Candi Cetho merupakan tempat tertinggi di pulau Jawa ini, sehingga diyakini oleh sebagian masyarakat Jawa bahwa Candi Cetho menyimpan banyak misteri peninggalan kebesaran Raja Majapahit terakhir, serta merupakan tempat memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa melalui laku tirakat dan meditasi dalam memperoleh Wahyu Nusantara sebagai sosok seorang pemimpin. Di Candi Cetho terdapat pahatan Phallus dan Vulva yang merupakan konsep Hindu atau Siwa Tantra, yaitu ajaran maithuna sebagai bagian ajaran ”panca ma” dengan konsep kebudayaan Megalitik.  Adapun ajaran maithuna adalah ajaran untuk memperoleh kekuatan internal melalui penyatuan unsur positif purusan (phallus) dengan unsur negatif pradana (vulva) untuk mencapai Jivan Moksa (simbul kesuburan dan penyatuan abadi). Unsur Megalitik adalah pemujaan terhadap arwah nenek moyang melalui penggam-baran bentuk dan vulva secara natural. Oleh karena itu makna simbolik dari pahatan yang ada di Candi Cetho bertema Kesuburan, Kesejahteraan dan Perlindungan. Phallus dan Vulva mempunyai fungsi internal yaitu sebagai media pelaksana upacara diksa di hadapan leluhur dan Dewa Siwa mencapai Jivan Moksa.

 

3.      Prosesi Adat Dawuhan

Suatu  Prosesi adat di Kawasan Candi Cetho untuk menghargai alam, di lakukan di sumber sumber mata air seperti di sendang Macan, sendang Pundisari. Dengan menggelar adat di sumber air tersebut memberikan rasa menghargai alam dengan menjaga  kelestarian seumber air. Air merupakan kebutuhan pokok manusia untuk hidup, aktivitas harian, pertanian, dsb.

 

4.      Prosesi Bersih Desa

Prosesi adat bersih desa di lakukan pada bulan suro dengan menggelar sesembahan di lokasi-lokasi yang di percaya menjadi tempat danyangan artinya manusia mampu menyelaraskan dimensi spiritual dan kehidupan manusia.

 

b.      Best Practice Pelaku pelestarian lingkungan di Kecamatan Jenawi Kabupaten Karanganyar Provinsi Jawa Tengah

Pak Sartono bermukim di Desa Jenawi Kecamatan Jenawi Kabupaten Karanganyar merupakan sosok pelestari lingkungan di Gunung Lawu sejak 20 tahun lalu. Aktivitas pelestarian lingkungan berkaitan dengan profesinya sebagai petani (membentuk Kelompok Tani Ngudi Rejeki), menurut Pak Sartono selama aktivitas pelestarian lingkungan telah menanam jenis Exkaliptus, Cemara, Albasia, Beringin, gayam, Alpokat, durian dsb. Setelah merambah setiap jengkal area di gunung Lawu, semula hanya niat kemauan untuk melestarikan area Gunung Lawu agar terus menghidupi semua kawasan,ruang peresapan air, termasuk jenis kopi Arabica dan Robusta, sebagai secercah harapan menghidupi warga yang bermukim di area Gunung Lawu. Penanaman Kopi memberikan dampak positip bagi konservasi tanah dan air di kawasan Gunung Lawu, pada waktu masyarakat memetik buah kopi untuk di kelola menjadi produk-produk kopi bukan menebang pohonya, sehingga tanaman kopi mampu menjadi penyangga konservasi alam. Kegiatan penanaman bibit kopi bersama Sedulur Cemoro Sewu, Kelompok Tani Bumi Aji 3 desa Anggrasmanis, Kelompok Tani Hutan Cetho Bersinar desa Gumeng bahkan telah berjejaring membentuk Serikat Tani Lawu.

Budidaya kopi yang ramah lingkungan dengan penerapan sistem organik dan agroforestry membe-rikan nilai tambah baik bagi petani maupun lingkungan yakni cara berkebun kopi yang ramah lingkungan, tidak membuka kawasan hutan apalagi di wilayah terjal, dan pada areal kebun atau hutan yang terbuka dilakukan penanaman disela-sela tanaman kopi dengan jenis-jenis pohon naungan yang sesuai dan bernilai ekonomis sehingga memberi nilai tambah bagi pendapatan petani.

Di sisi lain, penanaman tanaman sela juga dapat menghindarkan tanaman kopi dari sinar matahari dan embun secara langsung sehingga pertumbuhan dan produktifitas kopi menjadi lebih baik .Selama ini pegelolaan kopi di kawasan Gunung Lawu belum teroganisir dengan baik.

 Pada akhirnya, adanya tanaman kopi dan pohon naungan akan menciptakan iklim mikro lokal yang sangat dibutuhkan oleh pertumbuhan kopi dan jika terakumulasi serta dilakukan secara massive (lebih luas; besar-besaran) pada tipe pengelolaan lahan yang sama akan berperan dalam upaya pengurangan emisi dan pemanasan global serta menghambat laju sedimentasi. (Bersambung ke #5).


Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "MERETAS JALAN PELESTARIAN LINGKUNGAN DAN BUDAYA DI KAWASAN GUNUNG LAWU #Tulisan4"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel