-->

MERETAS JALAN PELESTARIAN LINGKUNGAN DAN BUDAYA DI KAWASAN GUNUNG LAWU #Tulisan2

 


MERETAS JALAN PELESTARIAN LINGKUNGAN DAN BUDAYA DI KAWASAN GUNUNG LAWU #Tulisan2

 

Taman Tembang dan Sastra – Budaya – Tamantembangsastra kali ini menyajikan sebuah gagasan yang tertuang dalam buku bertajuk Meretas Jalan Pelestarian Lingkungan dan Budaya di Kawasan Gunung Lawu yang ditulis oleh Donny Prabawa, S.TL. Ini merupakan tulisan kedua. Selamat membaca.

  

ANCAMAN BENCANA HYDROMETEOROLOGIS

Berkaca dari proses produksi secara umum mempunyai implikasi secara ekonomi pada dunia secara global. Tidak luput proses industrialisasi juga mempengaruhi kondisi lingkungan kawasan Negara Indonesia. Kekayaan sumber daya alam Indonesia menjadi incaran negara-negara industri dunia, menilik sumber daya alam Indonesia memiliki bukit yang memanjang dari Sumatra, Jawa sampai Nusa Tenggara, demikian pula pegunungan yang berada di pulau-pulau, terdiri lebih dari 400 gunung berapi, dimana 100 di antaranya masih aktif. Pulau-pulau terbentuk sepanjang garis yang berpengaruh kuat antara perubahan lempeng-lempeng tektonik Australia, Pasifik, Eurasia, dan Philipina. Lempeng Eurasia bergerak ke arah timur dan tenggara, sedangkan Lempeng Philipina bergerak ke arah barat. Pertemuan lempeng-lempeng ini membuat Indonesia menjadi salah satu negara yang paling banyak berubah wilayah geologinya di dunia, (menurut sumber www.ri.go.id Departemen Energi dan Sumber daya Mineral, 2004) artinya Indonesia mengalami tiga kali getaran dalam sehari, gempa bumi sedikitnya satu kali dalam sehari dan sedikitnya satu kali letusan gunung berapi dalam setahun.

Melihat kondisi-kondisi tersebut maka dapat dikatakan Indonesia mempunyai potensi sumber daya alam yang luar biasa sekaligus Indonesia juga mempunyai potensi bencana yang besar. Bukti nyata telah terpajang di depan mata seperti dikutip dalam Geotimes.com: pada tahun 2000 terjadi 63 kasus bencana, angka itu merangkak naik di tahun 2004 menjadi 775 kasus. Di tahun 2010 jumlah kasus bencana tanah air meningkat menjadi 1947 kasus. Bahkan di tahun 2018 lonjakan bencana alam menjadi 3405 kasus. Bandingkan di tahun 2020 jumlah kasus kebencanaan melesat menjadi 4650 kasus. Kondisi tersebut menunjukan bahwa Indonesia memang rawan bencana, mengiring pemahaman bencana yang terjadi di suatu lokasi berlangsung tiba-tiba merupakan kejadian luar biasa. Banjir dan tanah longsor misalnya contoh bencana yang tak terjadi dengan tiba-tiba namun diawali dengan hal-hal yang menjadi kerentanan misalnya penggunaan lahan yang tidak sebagaimana mestinya, penyempitan kawasan resapan air. Karena bencana itu merupakan kejadian alam maka masyarakat tidak ada jalan lain kecuali menanggapi pada saat bencana terjadi. Dari berbagai bencana yang terjadi secara nyata telah menghancurkan harta benda milik masyarakat, merusakan fasilitas umum seperti jalan, pendidikan, kesehatan, industri, bidang sosial ekonomi lainya. Banyak warga yang tewas serta menderita cacat permanen, mengakibatkan pengangguran.

Bencana sendiri dapat diartikan suatu kejadian, baik disebabkan oleh alam atau manusia, yang terjadi tiba-tiba atau progresif, menimbulkan dampak dahsyat sehingga komunitas atau masyarakat yang terpengaruh harus merespon dengan tindakan luar biasa. Dari tipe bencana baik tanah longsor, banjir, kekeringan mempunyai satu karakteristik yang berhubungan dengan air sedangkan bencana lainya mempunyai sifat karakteristik yang berbeda. Salah satu faktor utama terjadinya bencana adalah perilaku manusia yang mengubah tata guna lahan untuk keperluan mencari nafkah dan tempat tinggal. Kerusakan lingkungan yang implisit menambah lajunya krisis air semakin di- perscepat oleh pertumbuhan penduduk yang tinggi baik secara alami ataupun migrasi. Munculnya Fenomena Pemanasan Global sekarang ini dengan bertambah panasnya suhu bumi yang disebabkan polusi atau pencemaran lingkungan. Bahwa laju dan tingkat pemanasan bumi telah melewati lebih dari yang terjadi sebelumnya. Selama masyarakat hanya mengenal wacana pemanasan global dari diskusi atau dari media, akan tetapi saat ini telah benar benar terjadi, sehingga harus dicari solusi terbaik mengatasi masalah pemanasan global.

Secara lebih spesifik merunut secara umum wilayah Negara Indonesia mempengaruhi kondisi kawasan lebih kecil, seperti di Kabupaten Karanganyar Provinsi Jawa Tengah menjadi salah satu titik penting karena terdapat Gunung Lawu. Gunung Lawu merupakan gunung purba yang lama tidak aktif. Kawasan Kabupaten Karanganyar menjadi suatu kawasan yang rawan bencana, tercatat menurut data yang dirilis berbagai media dapat dipetakan ada 14 wilayah dari 17 kecamatan di Kabupaten Karanganyar memiliki kerawanan bencana yang tinggi saat musim hujan, 14 kecamatan di Karanganyar yang rawan bencana alam banjir dan longsor pada musim hujan antara lain Tawangmangu, Karangpandan, Gondangrejo, Kerjo, Tasikmadu, Kebakkramat, Jatiyoso, Jumapolo, Jenawi, dan Ngargoyoso. Peristiwa kebencanaan yang dapat dicatat menjadi bencana terbesar yang merengut banyak korban jiwa, harta benda dapat di uraikan di bawah ini.

1     Menurut rilis media dari Liputan6.com, Jakarta - 7 kecamatan di Karanganyar, Jawa Tengah, pada Rabu 26 Desember 2007 silam dilanda bencana longsor. Rumah warga yang berada persis di sekitar lereng Gunung Lawu, rata tertimbun tanah. Longsor terjadi ketika warga sedang terlelap, 58 orang dilaporkan tewas dalam bencana ini. Hujan deras sehari semalam diduga menjadi penyebab longsor. Di lokasi lain seperti di Kecamatan Tawangmangu, Matesih, Jumapolo, Jenawi, Kerja, Ngargoyoso, dan Jatiyoso, korban terbanyak ditemukan di Dusun Mogol Ledoksari, Tawangmangu. Di lokasi ini, 36 orang dinyatakan tewas, puluhan rumah penduduk, fasilitas umum berupa jalan, masjid, sekolahan mengalami kerusakan parah, sosial ekonomi masyarakat terganggu serta membutuhakan pemu-lihan cukup panajang.

 

2   Badan Geologi melakukan analisis kebencanan gerakan tanah di Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah terjadi di beberapa lokasi seperti berikut. 

a.               Desa Lempong, Kecamatan Jenawi

1)      Lokasi bencana dan waktu kejadian.

·    Dukuh Tirip RT 04 RW 02, Dusun Segebyar, Desa Lempong, Kecamatan Jenawi, secara geografi terletak pada koordinat: 007o 31’ 17.7” LS dan 111o 07’ 55.0” BT. Gerakan tanah terjadi pada hari Kamis, 16 April 2015 setelah terjadi hujan deras.

·       Dukuh Ariboyo, RT 01 RW 01, Dusun Segebyar, Desa Lempong, Kecamatan Jenawi, secara geografi terletak pada koordinat: 007o 30’ 53.9” LS dan 111o 07’ 44.2” BT. Gerakan tanah terjadi pada hari Kamis, 16 April 2015 setelah terjadi hujan deras.

2)      Kondisi bencana dan akibat yang ditimbulkan antara lain sebagai berikut.

·  Gerakan tanah di Dukuh Tirip berupa longsoran bahan rombakan yang mengarah ke permukiman dengan arah N 350 E ke arah jalan desa dengan panjang 40 meter dan lebar 60 meter.

·     Bencana Gerakan tanah di Dukuh Ariboyo berupa longsoran bahan rombakan yang mengarah ke permukiman dengan arah antara N 420 E, dengan panjang ±100 meter dan lebar ±20 meter. Dampak bencana: Di Dukuh Tirip: 7 rumah rusak, 16 rumah terancam, di Dukuh  Ariboyo: 2 rumah hancur, 6 rumah terancam.

3)      Kondisi daerah bencana.

·   Morfologi: Bentang alam daerah longsoran dan sekitarnya merupakan bagian dari lereng perbukitan bergelombang kasar, yang berada pada ketinggian sekitar 450 meter di atas permukaaan laut. Relief daerah bencana merupakan perbukitan bergelombang dengan kemiringan lereng yang agak curam sampai curam (150-450).

·    Geologi: Berdasarkan Peta Geologi Lembar Ponorogo, Jawa (Sampurno dan H. Samodra, dkk, 1997), secara regional lokasi gerakan tanah disusun oleh Lahar Lawu yang terdiri dari komponen andesit, basal, dan sedikit batuapung yang bercampur dengan pasir gunungapi (Qlla) yang berumur Kuarter. Batuan penyusun di lokasi gerakan tanah yang berada pada permukiman adalah berupa batuapung yang merupakan endapan lahar G. Lawu dengan tanah pelapukan berupa lempung pasiran, lunak, sarang dengan ketebalan 3 – 4 meter.

·    Tata guna lahan: Tata guna lahan bagian atas lereng berupa kebun campuran dan hutan sedangkan pada bagian bawah lereng dimanfaatkan warga sebagai daerah permukiman.

·  Keairan: Kondisi keairan di lokasi gerakan tanah berupa air permukaan yang cukup melimpah pada musim hujan. Mata air banyak terdapat di sekitar lokasi gerakan tanah yang berasal dari lereng perbukitan kaki Gunung Lawu dan dimanfaatkan sebagai sumber air bersih bagi rumah tangga dan pertanian/ perkebunan.

·        Kerentanan gerakan tanah: Berdasar-kan Peta Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi Gerakan Tanah pada Bulan April 2015 di Jawa Tengah (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), lokasi gerakan tanah berada pada zona kerentanan gerakan tanah menengah, artinya daerah ini mempunyai potensi menengah-tinggi untuk terjadi gerakan tanah apabila dipicu oleh curah.

4)      Faktor penyebab terjadinya gerakan tanah.

     Secara umum gerakan tanah disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut.

·         Kemiringan lereng yang agak curam sampai curam mengakibatkan tanah mudah bergerak.

·         Curah hujan dengan intensitas tinggi dan lama memicu gerakan tanah pada lokasi ini.

·         Batuan penyusun yang bersifat sarang dan mudah meloloskan air dan luruh jika terkena air.

·         Adanya zona lemah yang ditemukan di daerah gerakan tanah.

5)      Mekanisme terjadi gerakan tanah.

Gerakan tanah di lokasi ini adalah jenis longsoran bahan rombakan. Longsoran bahan rombakan terjadi pada areal perbukitan yang mengarah ke pemukiman. Gerakan tanah ini tanah ini dipicu oleh curah hujan yang tinggi yang masuk ke dalam tanah melalui retakan dan ruang antar butir menyebabkan tanah jenuh air dan bobot masanya bertambah sehingga tanah tidak stabil (mudah bergerak). Adanya kemiringan lereng yang curam dan adanya bidang lincir yang kedap (bidang kontak antara tanah pelapukan dan breksi) menyebabkan tanah menjadi tidak stabil dan mudah bergerak. Keadan tersebut mengakibatkan terjadinya longsoran bahan rombakan yang merusakkan beberapa rumah penduduk. (Bersambung ke #3).


Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "MERETAS JALAN PELESTARIAN LINGKUNGAN DAN BUDAYA DI KAWASAN GUNUNG LAWU #Tulisan2"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel