MERETAS JALAN PELESTARIAN LINGKUNGAN DAN BUDAYA DI KAWASAN GUNUNG LAWU #Tulisan1
MERETAS JALAN
PELESTARIAN LINGKUNGAN DAN BUDAYA DI KAWASAN GUNUNG LAWU #Tulisan1
Taman Tembang dan Sastra –
Budaya – Tamantembangsastra kali ini menyajikan sebuah gagasan yang tertuang
dalam buku bertajuk Meretas Jalan Pelestarian Lingkungan dan Budaya di Kawasan
Gunung Lawu yang ditulis oleh Donny Prabawa, S.TL. Ini merupakan tulisan
pertama. Selamat membaca.
AKAR PAHIT
HUBUNGAN
ANTARA MANUSIA
DENGAN ALAM
Akar pahit hubungan antara manusia dengan alam telah di mulai sejak awal peradaban manusia dimulai. Melalui usaha-usaha untuk memenuhi kebutuhan hidup, manusia menyisakan kerusakan lingkungan. Sejarah perkembangan kehidupan manusia menorehkan awal mula manusia bersikap pasrah dan menyatu dengan alam. Pada taraf ini, manusia menjadi satu dengan alam artinya mansuia mengikuti dan bergantung sepenuhnya pada kondisi alam. Keberadaan manusia ditentukan sepenuhnya oleh kondisi alam karena kebutuhan hidup manusia sudah merasa cukup diperoleh secara tradisional.
Ditelisik dari
perkembangan berpikirnya pada taraf tersebut cara berpikir manusia masih berada
pada tahap mitologi melahirkan perilaku mistis yang menyakralkan alam,
menggunakan simbol-simbol alam semesta. Kondisi ini mendorong manusia akrab
dengan legenda atau peristiwa alam semesta, tujuan perilaku ini agar tingkah
laku dan perbuatan manusia lebih baik. Pada masa kehidupan primitif manusia
secara kolektif berburu dan bersifat nomaden, manusia dipengaruhi oleh kondisi
lingkungan alam. Tahap lebih maju manusia sebagai pengumpul pemburu mengenal
cara bercocok tanam dan bersifat menetap di satu kawasan. Munculah suatu
kelompok-kelompok atau semacam suku. Manusia mulai mampu mengendalikan alam
untuk memenuhi kebutuhan hidup dengan bercocok tanam secara tradisional. Pertanian
secara tradisonal memberikan daya dukung lingkungan sehingga mampu memulihkan
dirinya sendiri atau daya dukung lingkungan masih lebih tinggi daripada
kerusakan lingkungan yang ditimbulkan oleh aktivitas manusia. Peradaban yang
masih primitif serta jumlah manusia yang masih sedikit mendorong manusia secara
sadar memperlakukan alam sebagaimana mestinya. Perubahan lingkungan alam dipahami
berada di luar kendali manusia dan karenanya manusia tidak mampu melawan
kehendak alam. Mengenai sikap manusia yang
“pasrah“ terhadap lingkungan memberi-kan
nilai-nilai keharmonisan hidup, alam bertumbuh secara harmonis. Hal ini
termanifestasikan ke dalam ajaran-ajaran yang melarang perusakan alam, bahwa
ada kekuatan lain di luar manusia yang mampu menggerakan alam. Dapat dicontohkan
seperti larangan menebang pohon besar di suatu kawasan tertentu, dianggap pohon
tersebut tempat bersemayam danyangan atau roh penunggu. Seiring bertambahnya populasi manusia di suatu
wilayah maka meningkat pula kebutuhan pangan, papan, pakaian semua kebutuhan
tersebut diusahakan melalui bercocok tanam, berburu membuka suatu hutan sebagai
lahan cocok tanam.
Pada tahap ini usaha
manusia mempengaruhi lingkungan alam yang berdampak merubah alam. Pesatnya
pertumbuhan populasi manusia untuk memenuhi kebutuhan pokok tidak hanya diusahakan
melalui bercocok tanam dan berburu, manusia mulai melakukan inovasi dalam
berproduksi dari konvensional sampai pada tahapan yang lebih maju berupa
peralatan, mesin, dsb. Era berproduksi lebih umum disebut
industri, Revolusi Industri di Inggris menjadi model usaha manusia mampu
mengubah lingkungan alam ke arah jurang kehancuran. Industri membutuhkan sumber
bahan baku mineral, sumber daya alam hutan untuk memenuhi ruang-ruang produksi.
Ibarat satu keping sisi mata uang, kondisi ilmu pengetahuan dan teknologi yang
melahirkan industrialisasi Kapitalisme Global terlanjur mengabaikan lingkungan
hidup. Bencana alam tak terhindarkan seperti pencemaran lingkungan akibat
industrialisasi, penebangan pohon mengakibatkan tanah longsor dan banjir,
fenomena pemanasan iklim global mengancam meluapnya air laut, kekeringan,
sampai gagal panen serta timbulnya berbagai penyakit. Selama proses
industrialisasi, ekologi selalu dijadikan obyek manusia dengan orientasi profit
dan pemenuhan kebutuhan manusia. Praktik industrialiasi bersifat eks-ploitatif,
kapitalistik, dan destruktif telah menciptakan tatanan
ekologi tidak karuan dan bahkan semakin runyam. (Bersambung
ke-2).

0 Response to "MERETAS JALAN PELESTARIAN LINGKUNGAN DAN BUDAYA DI KAWASAN GUNUNG LAWU #Tulisan1"
Post a Comment