REVITALISASI SASTRA ANAK BERSAMA KSGK
REVITALISASI SASTRA ANAK BERSAMA KSGK
Taman Tembang dan Sastra – Budaya – Dunia anak memang jauh berbeda dengan orang dewasa termasuk dalam bersastra ria (termasuk tembang tentunya). Namun, sepertinya belakangan ini dunia sastra anak jarang sekali disentuh (atau memang sengaja tidak terlintaskan). Buntutnya, -- ketika anak-anak lebih nikmat mengonsumsi jatah orang dewasa, kita ambil contoh dalam tembang-tembang Jawa, misalnya mereka lebih hapal dan enjoy dengan tembang Gubug Asmara ketimbang tembang macapat atau lagu-lagu dolanan-- kemudian saling jamaah untuk (pura-pura) prihatin, miris, menyayangkan atau hal-hal yang sejenis dengan hal itu, tanpa ada tindakan nyata.
Menurut Teguh Gw, dalam relasinya dengan sastra, anak memiliki tiga peran: sumber ide (inspirator), penikmat (apresiator), dan pencipta (kreator). Ketiga peran tersebut sama pentingnya dan saling berdampak terhadap pertumbuhannya. Semakin banyak dan sering digali ide karya sastra dari dunia anak-anak, maka akan semakin tinggi minat anak-anak kepada sastra. Makin subur pertumbuhan karya sastra yang “berbicara” tentang dunia mereka dan dengan bahasa mereka, maka anak-anak akan makin betah menggeluti sastra. Perasaan bahwa sastra adalah dekat, mudah, dan enak itu kelak akan memantik hasrat mereka untuk mencipta karya sastra sebagai media untuk mengekspresikan tafsir mereka sendiri atas pengalaman-pengalamannya. Dalam rangka itu, kaum dewasa dituntut untuk memainkan tiga peran fasilitasi: menyediakan karya sastra ramah anak, mendampingi anak-anak dalam upaya mencerna dan menikmati karya sastra, serta memupuk motivasi mereka untuk berkarya.
Berkaitan dengan hal di atas, para penggurit yang tergabung dalam Komunitas Sastra Giri Kawedhar (KSGK) mencoba memberi ruang bagi anak-anak dalam mengenal dunia (sastra)-nya. Berawal dari rame-rame membuat geguritan kanggo lare kemudian dilanjutkan dengan rencana menggelar lomba baca geguritan dengan materi dari buku yang bertajuk Lela Ledhung tersebut.
Mengapa dipilih geguritan dalam langkah awal ini? Menurut Eko Wahyudi kepunahan bahasa (daerah) salah satunya dipengaruhi oleh sikap bahasa para penutur asli. Ada anggapan berbahasa daerah, sama dengan “orang kampungan,” tidak keren, dan tertinggal. Akibatnya para orangtua, remaja, dan anak-anak tidak lagi menggunakan bahasa daerahnya. Kepunahan bahasa daerah artinya terjadi kehilangan identitas, kebhinekaan, sejarah dan segala jenis kearifan lokal yang ada. Komunitas Sastra Giri Kawedhar berusaha menjadi bagian dari penutur, pengembang, dan berkontribusi melestarikan bahasa Jawa sebagai identitas Jawa Tengah melalui revitalisasi sastra Jawa untuk anak. Hal itu dipandang perlu untuk membangun kecintaan anak-anak yang lahir dan tumbuh di tanah Jawa terhadap bahasa Jawa.
Senada dengan hal di atas, Arih Numbara menambahkan bahwa dengan lahirnya buku geguritan kangge lare Lela Ledhung akan berkontribusi dalam kegiatan literasi yang kini tengah digalakkan di sekolah-sekolah. Dengan adanya aktivitas literasi ini diharapkan terjadi pembiasaan membaca buku-buku fiksi dan non fiksi di kalangan peserta didik. Dari kegiatan literasi ini diharapkan revitalisasi sastra –terutama sastra anak—akan tercipta. (Parpal Poerwanto)

0 Response to "REVITALISASI SASTRA ANAK BERSAMA KSGK"
Post a Comment