-->

LELA LEDHUNG, ANTOLOGI GEGURITAN (UNTUK) ANAK-ANAK #GANJAR HARIMANSYAH

 

LELA LEDHUNG, ANTOLOGI GEGURITAN (UNTUK) ANAK-ANAK #GANJAR HARIMANSYAH

Taman Tembang dan Sastra Budaya – Sebuah antologi geguritan untuk anak-anak lahir dari para penggurit yang terkumpul dalam Komunitas Sastra Giri Kawedhar (KSGK). Sebanyak 92 geguritan lahir dari 21 penggurit yang kemudian menjadi antologi Geguritan kangge Lare: Lela Ledhung.. Berikut adalah kata pengantar dari Kepala Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah, Dr. Ganjar Harimansyah.

Pengalaman dudu apa kang wus dialami manungsa; ananging ora liya apa kang wus ditindakake dening manungsa sawuse ana kedadeyan tumiba marang dheweke.

—Aldous Huxley (1894—1963)

Pengalaman—khususnya pengalaman masa kecil—yang diungkapkan oleh para penulis gurit dalam antologi Geguritan kangge Lare: Lela Ledhung ini sepertinya selaras dengan pendapat dalam kutipan di atas. Aldous Huxley, filsuf Inggris yang terkenal sebagai penyunting majalah Oxford Poetry, pernah mengatakan bahwa pengalaman bukan saja yang telah terjadi pada diri kita, melainkan apa yang dilakukan dengan kejadian yang kita alami tersebut. Apakah pengalaman itu menjadi sesuatu yang bernilai baik dan tindakan luhur? Atau justru menjadi sesuatu yang mubazir dan hanya angin lalu? 

Saya kira para penulis gurit dalam antologi ini telah mendudukkan pengalaman itu sebagai “guru yang terbaik”. Bahkan, pengalaman itu telah dikontemplasikan menjadi refleksi sumber-sumber nilai-nilai hidup yang indah.  Misalnya, di dalam permainan gobag sodhor ternyata kita dapat mereguk nilai-nilai luhur, seperti berlatih kerja sama (nglatih kerja sama), mengasah kecerdasan (ngasah kelantipan), dan adu keterampilan (adu keprigelan). Kita juga dapat memetik nilai-nilai luhur untuk tidak membenturkan keinginan (benthik kekarepan) di dalam permainan benthik. Pengajaran untuk hidup hemat (setiti ngati-ati) juga terdapat di dalam permainan dhakon.

Pelajaran tidak selalu berasal dari pengalaman besar. Dari hal sepele seperti sepatu berlubang atau mencari ikan pun kita bisa memetik hikmah tentang kesabaran. Pelajaran berharga dari pengalaman juga dapat dipetik dari hasil mengamati, seperti yang tercermin dari ungkapan bahasa Jawa wang sinawang—yang juga menjadi salah satu judul puisi dalam antologi ini. Ungkapan itu setidaknya memberi pencerahan kepada kita untuk saling bercermin, berempati, atau mengandaikan apabila dirinya berada di posisi orang yang sedang diperbandingkan.

Selian itu, hal yang tidak bisa dipandang sebelah mata adalah pengalaman ketika masih kanak-kanak yang berkaitan dengan jasa orang tua kita, khususnya Ibu. Dengan kaitan itu lalu timbul niat dan tekat untuk berbakti kepada orang tua, seperti yang tersurat dalam gurit Lela Ledhung__yang juga merupakan jadi judul buku ini: 

... // Nalikane ibu lagi dhahar // Dumadakan adhiku rewel // Bandhulan kemrocok teles // Karo nggendhong adhiku // Ibu rengeng-rengeng // ... // Sanalika anggonku mangan kandheg // Semono perjuwangane ibu marang anak // Nembe dhahar wae wis keganggu // Mula aku kudu ngabekti marang ibu // Uga marang bapak // Dene marang adhiku // Aku janji bakal njaga dheweke // Nalikane ibu ibut ngayahi pakaryane.

Saya salut kepada para penulis gurit yang tergabung dalam KSKG yang mengupayakan penerbitan buku ini.  Buku ini tidak saja eksis sebagai karya sastra; lebih dari itu, antologi ini sebenarnya memberi sumbangan berarti untuk turut melestarikan dan memajukan bahasa Jawa.  Di sisi lain, melalui buku antologi Geguritan kangge Lare: Lela Ledhung, kita dapat melihat bukti bahwa bahasa ibu—dalam konteks budaya Jawa diidentikkan dengan bahasa Jawa—ternyata dapat digunakan sebagai alat menyampaikan ide secara utuh, membagi pengalaman, dan mengajarkan nilai-nilai luhur secara estetis dan tentunya didaktis.

Saya juga ingin mengatakan bahwa buku ini menjadi penting dan patut untuk dibaca oleh tenaga pengajar, orang tua, dan anak-anak untuk memahami tindak luhur para pendahulu setelah sesuatu terjadi di dalam hidup mereka. Implikasinya tentu karena di dalam karya-karya gurit ini terdapat banyak nilai-nilai luhur yang dipetik oleh generasi terdahulu dan layak dibagikan kepada para pembaca, terutama kepada generasi muda. Sekali lagi, pengalaman pada hakikatnya adalah pengajaran.

Semarang, 2 Maret 2022

Dr. Ganjar Harimansyah, Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "LELA LEDHUNG, ANTOLOGI GEGURITAN (UNTUK) ANAK-ANAK #GANJAR HARIMANSYAH"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel