KI MANTEB SUDARSONO DAN SEBUAH BUKU YANG TERLUNTA #BAGIAN4
Sunday, 11 July 2021
Add Comment
KI MANTEB SUDARSONO DAN SEBUAH BUKU YANG TERLUNTA #BAGIAN4
Taman Tembang dan Sastra – Budaya – Sesi wawancara pun dimulai. Mas Guru Bonang mendapat giliran rada-rada awal. Semua pertanyaan dijawab dengan lancar. Bahkan, Mas Guru Bonang bisa melihat nilai yang ditulis dari penguji, meskipun sebenarnya si penguji tidak bermaksud untuk memberitahukan.
Keseluruhan wawancara selesai pada jam istirahat siang. Waktunya isoma. Tiba-tiba ada pengumuman yakni nama Mas Guru Bonang disebut. Intinya diminta kembali ke ruang wawancara. Ternyatah wawancara ulang. Kali ini bukan seorang bapak yang tadi mewawancarai tetapi seorang ibu. Wajahnya pun ditekuk. Ada apa gerangan? Rupanya beliau tidak “terima” dengan hasil wawancara sebelumnya. Sebab, menurutnya, buku Mas Guru Bonang tidak sesuai tema, dan tidak baik jika dibaca anak sekolah, meski sudah SLTA. Sebenarnya Mas Guru Bonang sempat menyanggah dengan berbagai argumen, tetapi beliau sepertinya tetap dalam pendiriannya. Alhasil, ketika pengumuman para pemenang, naskah buku tersebut mendapatkan urutan ngisor dhewe.
Malam harinya, tibalah acara seminar. Seminar dipimpin oleh ketua dewan juri, Eka Budianta. Seperti biasa peserta pada acara seperti itu banyak peserta yang ngantuk, termasuk Mas Guru Bonang.
Tibalah acara tanya-jawab. Mas Guru Bonang menanyakan sesuatu yang sebenarnya di luar konteks, yakni mengapa wawancara bisa diulang. Mendengar pertanyaan itu, Eka Budianta langsung berkata, “Mas yang menulis biografi itu, ya?” Kemudian Mas Guru Bonang mengiyakan.
Selanjutnya, Eka Budianta berkata bahwa sejak awal naskah itu memang kontroversial. Dan yang mempertahankan mati-matian adalah beliau. Sebab, menurutnya, gaya kepenulisannya berbeda dengan para penulis lain, terlepas sesuai dengan tema atau tidak. Bahkah, Eka Budianta berkenan memberi pesan kepada Mas Guru Bonang agar jangan memikirkan kejuaraan ini. Teruslah menulis, Anda punya potensi. Di akhir katanya, Eka Budianta berkenan memberikan tiga buah buku sebagai kenang-kenangan kepada Mas Guru Bonang.
Bukan main girangnya hati Mas Guru Bonang mendapatkan tiga buah buku dari seorang penulis hebat seperti Eka Budianta. Namun, bagaimana pun juga dirinya merasa kecewa dengan adanya wawancara ulang tersebut.
Namun demikian semua harus diterima dengan lapang dada. Betul kata Eka Budianta agar Mas Guru Bonang tidak memikirkan kejuaraan itu. Karenanya, pada malam penutupan, ketika panitia menghadirkan grup band, Mas Guru Bonang bisa ambyur menikmati bersama para peserta lainnya. Memang saat itu Mas Guru Bonang belum berani ikut memamerkan suaranya yang pales. Namun, setidaknya mendapat inspirasi bahwa ada beberapa yang tampil dengan nada yang tidak pas, tetapi tetap pe-de. Sejak saat itu Mas Guru Bonang berani tampil ketika ada kesempatan; pada acara-acara tertentu. Dan kini berani menyanyikan lagu-lagu karya sendiri meskipun suaranya jauh dari kata merdu, bahkah cenderung pales. Yo wis ben. Nekat. (Bersambung ke bagian 5 / PAL)

0 Response to "KI MANTEB SUDARSONO DAN SEBUAH BUKU YANG TERLUNTA #BAGIAN4"
Post a Comment