-->

KI MANTEB SUDARSONO DAN SEBUAH BUKU YANG TERLUNTA #BAGIAN5

 

 

KI MANTEB SUDARSONO DAN SEBUAH BUKU YANG TERLUNTA #BAGIAN5

Taman Tembang dan Sastra
Budaya – Sepulang dari acara di nJakarta, Mas Guru Bonang kembali akan menjalani tugas rutinnya, yakni ngurus bocah-bocah. Namun, agak kecewa ketika tiba di sekolah, ternyata surat izin tembusan ke Kepala UPTD dikembalikan oleh Kepala Sekolah kepadanya. “Saya pikir orang atasan tidak tahu, lho Pak. Jadi, surat ini saya kembalikan ke sampean saja,” kata Kepala Sekolah.

Seminggu setelahnya ada acara semacam pengarahan dari Kepala UPTD bagi para guru di Gugus tempat Mas Guru Bonang. Semua guru kumpul mendengarkan arahan dari Kepala UPTD. Namun, isinya ternyata bukan arahan tetapi nada marah dari Kepala UPTD dikarenakan ada salah seorang anak buahnya yang satu mingguan tidak masuk kerja, yakni ke nJakarta, tetapi tidak izin atau pamit. “Saya ini Kepala UPTD, ada acara di tempat ini, di sana...di meja saya, ada keterangan bahwa saya berada di acara ini. Wong guru kok clila-clili tekan Jakarta tanpo keterangan....”

Jelas itu ditujukan kepada Mas Guru Bonang. Pantesan tadi ketika bertemu di halaman, biasanya Kepala UPTD itu ramah kepadanya, bahkan sering memanggil dengan sebutan “Dhi” kok kali ini seolah-olah tidak melihatnya.

Keesokan harinya, Mas Guru Bonang sowan ke kantor UPTD. Dia disambut dengan nada dingin. Namun, setelah semuanya dijelaskan, bahkan Mas Guru Bonang juga membawa surat yang dikembalikan Kepala Sekolah itu, Kepala UPTD wajahnya tidak ditekuk lagi. Sapaan “Dhi” akhirnya terdengar lagi. Bahkan sempat diskusi dengan waktu cukup panjang.

Perihal naskah buku, termasuk dengan ratusan naskah lainnya, ternyata belum diterbitkan oleh Pusat Perbukuan. Entah apa sebabnya. Selang beberapa tahun, Mas Guru Bonang mendapat telepon dari sembuah konsorsium yang menyatakan bahwa naskah buku hasil lomba itu akan diikutnya proyek nasional. Tentu saja Mas Guru Bonang merasa senang, karena bukunya akan terdistribusikan kepada pembaca, yakni para anak SLTA sesuai keperuntukan buku tersebut.

Selang beberapa bulan, ada SMS masuk. Intinya, proyek gagal. Menurut konsorsium tersebut naskah itu (termasuk ratusan naskah pemenang lomba) dipermasalahkan konsorsium lain. Sebab, menurut aturan, katanya semua buku yang diikutsertakan dalam proyek harus melalui seleksi terlebih dahulu. Mas Guru Bonang hanya bisa garuk-garuk kepala.

Mungkin karena merasa rugi atau bagaimana, pihak konsorsium kembali menelepon Mas Guru Bonang. Intinya, menurut pengakuannya, buku tersebut sudah terlanjur naik cetak. Dan Mas Guru Bonang diminta kesediannya untuk mengganti Judul Buku agar bisa dipasarkan. Tentu saja Mas Guru Bonang menolak. Lebih baik naskah buku tersebut terlunta-lunta dari pada terbit tetapi ganti judul sedangkan isinya sama. (Bersambung ke bagian 6-terakhir / PAL).

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "KI MANTEB SUDARSONO DAN SEBUAH BUKU YANG TERLUNTA #BAGIAN5"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel