KI MANTEB SUDARSONO DAN SEBUAH BUKU YANG TERLUNTA #BAGIAN2
KI MANTEB SUDARSONO DAN SEBUAH BUKU YANG TERLUNTA #BAGIAN2
Taman Tembang dan Sastra – Budaya – Setelah menggandeng beberapa tokoh untuk memberikan sekapur sirih, seperti Ki Begug Purnomosidi, Ki Manteb Sudarsono, Ki Tristuti Rachmadi, dan Ki Sutino Hardoko Carito, buku yang bertitel Empu Dalang M. Ng. Warsino Guna Sukasno siap di-launching. Mas Kun Prastowo telah merancang persiapan secara matang. Namun, tiba-tiba semua menjadi batal. Salah seorang kerabat beliau, karena mis-komunikasi, tidak berkenan akan hal itu semua. Jadilah naskah buku itu nganggur. Terlunta.
Seiring berjalannya waktu, yakni pada 2006 Pusat Perbukuan, Kemdikbud, mengadakan sayembara penulisan buku bacaan untuk siswa SD, SLTP, dan SLTA. Setelah minta izin kepada Mas Undung Wiyono dan Mas Kun Prastowo, Mas Guru Bonang berkeninginan akan mengikutkan naskah buku itu dalam lomba yang diadakan Pusat Perbukuan tersebut.
Tidak lupa, Mas Guru Bonang juga akan meminta izin dan restu kepada tokoh yang ditulis, Ki Warsino Guna Sukasno. Dengan ditemani seniornya, Mas Arih Numboro, Mas Guru Bonang sowan ke rumah Ki Warsino Guna Sukasno. Lagi-lagi sebagai moda andalan adalah pesawat Smash Merah.
Sesampai di rumah Ki Warsino Guna Sukasno, Mas Guru Bonang dan Mas Arih disambut kurang mengenakkan. Rupanya Ki Warsino Guna Sukasno “duko”. Ini (mungkin) berkaitan dengan adanya mis-komunikasi sehingga acara peluncuran buku gagal tersebut. Benar. Dengan dandanan tidak seperti biasanya, beliau “menuduh” bahwa Mas Guru Bonang mencari keuntungan dengan mengatas-namakan nama besar beliau. Padahal, ketika wawancara dan diskusi untuk menggali sumber naskah buku tersebut beliau selalu ramah. Bahkan suatu ketika Mas Guru Bonang pernah “sapejagong” dengan beliau bersama pengusaha yang mendanai proyek itu plus Mas Undung Wiyono. Waktu itu baik-baik saja.
Akhirnya, dengan hati-hati Mas Guru Bonang berkesempatan meluruskan semua yang terjadi. Dari awal hingga akhir. Mendengar semua itu beliau reda amarahnya. Kemudian mereka bertiga asyik berdiskusi. Seperti tidak ada masalah sebelunya. Kemudian, Mas Guru Bonang segera menyampaikan maksud kedatangannya. Yakni, mengikutkan naskah buku itu untuk dilombakan. Beliau setuju, bahkan beliau berkenan memberi cendera mata berupa ali-ali (cincin) dan tongkat komando yang terbuat dari kayu liwung.
Mas Guru Bonang merasa bersyukur. Pertama, kesalahpahaman antara dia dengan keluarga Ki Warsino Guna Sukasno terurai sudah. Dan yang terpenting naskah bukunya mendapat restu untuk diikutsertakan lomba (bersambung ke bagian 3 /PAL)

0 Response to "KI MANTEB SUDARSONO DAN SEBUAH BUKU YANG TERLUNTA #BAGIAN2"
Post a Comment