-->

JEJAK PEtuaLANG SETENGAH ABAD

 

JEJAK PEtuaLANG SETENGAH ABAD

Taman Tembang dan SastraBudaya – “Bagaimana kalau para pensiunan Arjuna Sendang Lanang berkemah satu malam saja di Gunung Gandul? Bisa ngobrol ngalor-ngidul mengenang masa muda? Sambil ngopi dan mbakar singkong?” tawaran Kang Gw suatu hari.

Sepi. Tanggapan muncul tidak sampai lima kali. Itu pun hanya bernada basa-basi. Maklum, usia mereka sudah berkisar setengah abad. Itulah alasan yang melatari judul tulisan ini JEJAK PEtuaLANG SETENGAH ABAD. Ini petualangan bocah-bocah tua, usianya 50-an tahun. Bagi yang tidak gemar bertualang, kegiatan di alam bebas pada malam hari berpotensi mengundang penyakit. Lagi pula, meninggalkan keluarga sekadar demi bernostagia bersama teman-teman sekolah bisa memicu tanda tanya. Maka, sejak awal ide gila itu sudah dibatasi: khusus para pensiunan Arjuna. Kaum Hawa tidak diberi peluang untuk bergabung.

Seiring roda waktu yang terus berputar, wacana tidak biasa itu menguap ditelan masa. Si pelontar ide pun boleh jadi sudah melupakannya. Tak dinyana,  sekian minggu kemudian muncul pesan di media percakapan alumni SPG (Sekolah Pendidikan Guru, setingkat SMA—yang riwayatnya berakhir pada 1991) Negeri Wonogiri itu.

“Yi, bagaimana kalau rencana mendirikan tenda itu diwujudkan?” tulis Harso.
Serasa ditagih utang, Kang Gw segera menawarkan jadwal. Kebetulan, pertanyaan Harso muncul dua pekan menjelang hari libur nasional yang jatuh Jumat. Ditambah cuti Sabtunya, waktu mudik tiga hari bisa dibagi. Pendaftaran calon peserta pun dibuka. Tercatat enam nama yang berminat: Kang Gw (Semarang), Harso (Ponorogo), Sriyatno (Wonogiri), Sutardi Sentot (Wonogiri), Sutito (Wonogiri), dan Parino (Selogiri, Wonogiri). Maka, dibuatlah grup percakapan baru, dengan anggota keenam orang itu. Lalu tiga orang lagi diundang untuk bergabung: Yato (Girimarto, Wonogiri), Sriyadi (Sukoharjo), dan Musalim (Jatiyoso, Karanganyar). Ketiganya memenuhi undangan.

Mulailah dibicarakan hal-hal teknis: lokasi, perlengkapan, waktu untuk memulai dan mengakhiri, serta pembagian tugas. Tanpa menunggu komando, Sriyatno mulai menyurvei sejumlah calon lokasi. Tak mau ketinggalan peran, Sutardi menyusul. Setelah ditunjukkan foto dan video tempat-tempat yang ditinjau, lalu ditawarkan kepada para anggota grup. Pilihan jatuh pada Kori.

Kori adalah sebutan sebuah bukit (atau, jangan-jangan seluruh perbukitan yang ada) di wilayah Dusun Randubang, Desa Pare, Kecamatan Selogiri. Melalui jalur lingkar selatan kota Wonogiri, lokasinya berjarak sekitar dua kilometer dari Mapolres Wonogiri. Kawasan perbukitan di sana menjadi area penambangan bahan galian C. Setiap hari ratusan meter kubik batu kandungan bukit diangkut puluhan truk dari sana. Ratusan pelaku ekonomi terlibat; mulai dari pemilik lahan, pengusaha penambangan, operator alat berat, sopir truk, tenaga bongkar-muat, petugas keamanan, hingga pedagang makanan di sejumlah warung sederhana.

Jumat, 2 April 2021 siang Sriyatno mulai beraksi. Tenda milik sekolahnya diangkut dengan pikap yang biasa dipakai sebagai armada angkutan pakan sapi. Untuk tiang dan bubungannya disiapkan empat potong bambu, masing-masing panjangnya sekira dua meter. Peralatan dapur dipinjami Mbak Sulasi, teman sesama alumni yang membuka warung makan di area tambang.

Usai mengantar Kang Gw ke rumah Pakde Parpal di Manjung, Tardi dan Tito bergegas menyusul ke lokasi kemah. Sementara, Kang Gw masih khusyuk menikmati kopi hitam manis dan mi pentil jamuan keluarga Pakde Parpal, bersama Kun Prastowo (Solo) dan Bambang Purmianto (Wonogiri). Pada mudik kali ini, Kang Gw memang punya tiga agenda: sungkem mboknya, berkemah bersama teman-teman lama, dan anjangsana bersama para warga Komunitas Sastra Giri Kawedhar (KSGK).
Setelah mengantongi dua buku, Nalika Rembulan Bunder (kumpulan cerkak—cerpen berbahasa Jawa—karya bersama sejumlah penulis) dan Marang Angin Segara (antologi geguritan—puisi berbahasa Jawa—karya Bambang Purmianto), Kang Gw berpamitan untuk meluncur ke lokasi kemah. Bersamaan kumandang azan Magrib, WIN 100-nya sampai di Kori. Tiga orang peserta tidak tampak di sekitar tenda: Harso, Tardi, Salim. Dari teman-teman yang ada di kemah diperoleh keterangan, Harso dan Tardi turun untuk membeli air minum dan tisu. Sementara, Salim belum menampakkan batang hidungnya dan belum ada berita dari yang bersangkutan.

Hingga enam temannya meninggalkan kemah untuk menunaikan salat di kampung, Harso dan Tardi belum kembali. Mengingat jarak ke lokasi kemah lumayan jauh, keenam peserta bertahan di kampung sekalian menunggu waktu isya. Usai salat Isya mereka baru kembali ke kemah. Harso dan Tardi sudah lebih dulu tiba. Mengagetkan, menu makan malam komplet tersedia di tenda. Di luar skenario, kepergian mereka berdua ternyata untuk mengambil logistik di Bulusulur. Entah bagaimana prosesnya, rupanya Mbak Parti sudah menyiapkan kebutuhan perut teman-temannya. PNS guru dan pebisnis yang juga istri kapolsek yang satu ini memang selalu ringan tangan untuk berbagi rezeki.

Sebelum menyantap hidangan makan malam gratis, para petualang penakluk usia berpose untuk diabadikan melalui jepretan kamera. Tardi, yang sudah bersiap dengan ponselnya, ditahan oleh Harso. Mantan anak Slogohimo itu bersicepat mengambil delapan kaus lalu membagikannya kepada ketujuh teman dan dirinya. Jadilah foto mereka dalam kostum seragam: kaos bergambar warok Ponorogo. Ini pun tidak termaktub di dalam skenario. Begitu mudah Sang Mahamurah menggerakkan tangan-tangan dermawan hamba-hamba-Nya.

Serbuan semut, yang mungkin mencium aroma sedap makanan, memaksa mereka keluar. Tikar dikibas-kibaskan lalu digelar di luar tenda. Tak pelak, kedelapan warok menantang butiran-butiran embun yang mulai berjatuhan ke bumi. Tak hanya itu, serangan pasukan angkatan darat semut pun digantikan oleh pasukan angkatan udara: nyamuk. Gangguan serangga nakal itu melengkapi alasan untuk betah melek hingga pagi. Singkong bakar menjadi camilan menemani kopi dan wedang jahe yang diseruput silih berganti.

Tak rela momentum langka lewat begitu saja, cerita demi cerita mengalir dari bibir mereka. Ada yang memutar ulang kisah kenakalannya semasa sekolah. Ada yang melukis jejak perjalanannya pascalulus dari kmapus Sendang Lanang (julukan populer untuk SPG Negeri Wonogiri). Ada yang lebih seru: pergulatan batin yang tengah menjadi sumber kebimbangan saat ini. Semua itu tidak hadir sebagai cerita hampa. Masing-masing membawa amanat yang kaya akan bahan refleksi. Mereka sepakat, kemah semalam itu menjadi pedepokan sarat ilmu dan hikmah yang tidak pernah dijumpai di ruang sekolah dan kuliah mana pun.

Sepulang dari kemah, tak habis-habisnya delapan personel alumni 1989 SPG Wonogiri itu menulis testimoni di media percakapan mereka. Wacana untuk menggelar kemah tingkat dewa episode kedua pun terus bergulir.
Luar biasa!  (Kang Gw)

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "JEJAK PEtuaLANG SETENGAH ABAD"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel