HEM PUTIH LENGAN PANJANG
HEM PUTIH LENGAN PANJANG
Taman Tembang dan Sastra – Budaya – Untuk kali pertama sejak cukup lama hem putih lengan panjangku tergantung di lemari. Kini kupakai kembali. Di saat puasa memasuki hari ke-23, dan kebetulan kami sekeluarga tidak makan sahur sebab kesiangan. Kupakai karena saya belum punya (tepatnya kain pesanannya belum tiba) seragam baju putih yang diwajibkan untuk kedinasan di hari Rabu. Yang diberlakukannya mulai bulan Mei, dan hari ini adalah kali pertama memakai seragam itu.
Hem putih ini satu-satunya baju putih yang saya punyai sejak 23 tahun 9 bulan lampau. Baju itu saya beli di Bogor pada tahun 1997 silam. Dengan diantar sepupuku, Farida namanya. Memiliki catatan tersendiri, sebab saya hafal dalam momen-momen tertentu saya menggunakan baju itu. Yang paling utama adalah ketika ijab qobul pada 29 Agustus 1997 silam. Sebab baju itu memang sengaja dibeli untuk kepentingan itu.
Selanjutnya pernah kupakai untuk tes seleksi guru bantu pada tahun 2003. Kugunakan dalam wisuda D2 pada 2003. Tes CPNS tahun 2004. Prajabatan tahun 2006. Wisuda S1 pada 2012. PLPG pada 2013, dan widuda S2 pada 2016.
Dan, kini baju itu kupakai lagi. Jadi teringat saat masih muda: nyinom. Saat-saat yang menyenangkan karena bisa kumpul antara muda-mudi, apalagi bisa foto bersama, suatu hal sangat istimewa di masa itu.
Saya sangat terinspirasi atas “perjuangan hem putih lengan panjang” ini, maka akan kuabadikan beliau menjadi judul novelku. Tentunya tidak ada hubungannya dengan hem putih lengan panjang milik beliau Bapak Presiden. Minta restu semoga lancar. Nuwun (Parpal Poerwanto)
0 Response to "HEM PUTIH LENGAN PANJANG"
Post a Comment