-->

SENEN PAHING, HARI YANG PENUH LUCU


 

SENEN PAHING, HARI YANG PENUH LUCU

Taman Tembang dan Sastra – Budaya – Bagi sebagian orang, jarang yang memperhatikan kejadian-kejadian “aneh” bahkan dianggap lucu (bukan sial). Namun, tidak jarang yang suka memperhatikan hal-hal yang dianggap aneh bin lucu tadi, seperti yang dialami Mas Guru Bonang pada hari Senin (Senen, Pahing) kemarin lusa.

Sebenarnya kejadian di hari Senin itu tidak berpengaruh pada kehidupan diri Mas Guru Bonang tetapi hanya sayang saja jika tidak ditulis. Untuk ikutan nulis di Kolom “At Henane”, paling juga tidak dimuat, karena selain tidak layak mungkin juga dianggap mengada-ada.

Pagi itu, sebenarnya Mas Guru Bonang bangun normal, artinya tidak kesiangan. Namun, manula yang satu ini memang agak memiliki kerewelan di orderdil buangnya, membutuhkan waktu sekira setengah jam untuk sekali buang hajat. 

Selesai buang hajat dan mandi, lalu ganti pakaian hendak menuju tempat kerja. Ketika melihat arloji yang menunjukkan pukul 6.52, ia segera bergegas. Sebab, jika presensi sudah melebihi pukul 7.00 sudah dianggap terlambat oleh mesin absensi otomatis tersebut.

Singkat cerita, dipilihlah jalan “sidhatan” agar segera sampai tempat sebelum pukul 7.00. Maka dilaluinya jalan setapak yang masih berupa tanah tetapi bisa untuk akses kendaraan roda dua. Lucunya, demi mengirit waktu, ndilalah di depan ada motor mogok yang posisinya agak melintang. Padahal untuk putar balik jelas tidak bisa. Alhasil, sampailah di tempat pukul 7.09. Padahal, seharusnya waktu dari rumah hingga tempat kerja paling lama empat menit.

Kelucuan berikutnya, ketika hari itu harus menumpuk berkas ke Korwil karena ada berkas yang harus ditandatangani oleh Pengawas. Oh ya, Mas Guru Bonang mendapat kabar untuk mengumpulkan berkas waktunya sangat mendesak. Jadi, semua serba terburu-buru. Sambil tanda tangan, Pengawas sempat meneliti berkas, ternyata ada yang terselip belum ditandatangani Kepala Sekolah. Otomatis harus minta tanda tangan Kepala Sekolah. Mas Guru Bonang segera menghubungi Kepala Sekolah yang saat itu berada di “rumah mbok nom” alias tempat sampiran sebagai kepala sekolah. Untung jaraknya hanya sekira enam kilometer. Lucunya, ternyata stempel tertinggal di “rumah mbok tuwa” alias di tempat kerja Mas Guru Bonang yang jaraknya puluhan kilometer. Tiada pilihan lain Mas Guru Bonang segera bergegas kembali ke tempat kerjanya untuk menstempel berkasnya.

Sesampai di tempat kerja, ingat bahwa berkas masih kurang pas foto yang ber-background merah. Padahal yang ada di file ber-background biru. Sayangnya background itu tidak rata. Ketika di magic wand tool tidak bisa dan harus diedit secara manual (mungkin juga karena gaptek dhing). Otomatis membutuhkan waktu cukup lama. Bersamaan dengan itu Mas Guru Bonang mendapat telpon. Intinya harus segera menyerahkan berkas ke Korwil, jika tidak akan ditinggal. 

Mas Guru Bonang minta kelonggaran waktu karena masih harus cetak foto dan fotocopi beberapa berkas. Dalam kondisi seperti itu, timbul rasa ingin buang air kecil, kebelet. Namun, tetap ditahan oleh Mas Guru Bonang. Nanti akan dilampiaskan sambil menunggu cetak foto dan fotocopi yang kebetulan tempatnya dekat rumahnya.

Setelah menyerahkan file foto dan berkas untuk difotocopi, Mas Guru Bonang bergegas menuju rumah untuk buang air kecil. Tidak lupa isi bensin, kebetulan pom bensinnya tidak jauh dari tempat itu. Singkat cerita, selesai isi bensin, Mas Guru Bonang segera menuju tempat cetak foto. Namun, betapa lucunya ternyata yang dicetak adalah foto yang ber- background biru. Sontak Mas Guru Bonang panik. Bersamaan itu juga HP-nya berdering. Panggilan untuk segera mengumpulkan berkas diingatkan lagi. 

Sambil garuk-garuk kepala belakang, Mas Guru Bonang harus sabar menunggu cetak ulang pas fotonya. Saat-saat seperti itu, serasa waktu sangat lama dan menyebalkan. 

Setelah selesai kemudian tancap gas dengan “mobil Vega R” warisan mbah kakungnya menuju kantor Korwil yang jaraknya sekitar 16 km. Sesampai di Korwil, pegawai yang mengantar berkas sudah bersiap-siap untuk menuju Kantor Dinas. “Telat seperempat menit berkas sampean ditinggal, Pak,” kata pegawai itu dengan tersenyum meskipun ada rasa mangkel tersirat.

Untung saja waktu itu Mas Guru Bonang masih sempat salat zuhur meski waktu sudah menunjukkan pukul 14.15. Dus, disusul makan siang yang kurang nyaman terasa di perut manulanya. (Pal).


Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "SENEN PAHING, HARI YANG PENUH LUCU"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel