Wisata - AKU DAN DIENG
Thursday, 20 December 2018
Add Comment
![]() |
| Wisata - AKU DAN DIENG |
AKU DAN DIENG
TAMAN TEMBANG DAN SASTRA – WISATA – Ini kali keempat saya dolan ke kawasan wisata Dataran Tinggi Dieng. Setelah tiga tahun lalu kecewa. Hujan lebat seharian mengacaukan harapan. Wisata dua keluarga menjadi tak sempurna. Hanya nonton bioskop di Dieng Plateau Theater yang tidak terganggu. Padahal film yang tersaji masih sama. Tayangan geografi dan budaya Dieng. Seperti yang saya tonton dua kali sebelumnya.
Kali ini motif keberangkatan saya berbeda. Bukan untuk menikmati eksotisme Dieng. Negeri di Atas Awan. Persemayaman para dewa itu. Ada motif yang lebih utama. Ingin menikmati kebersamaan. Membersamai kegembiraan. Dengan teman-teman. Yang sekian lama tidak lagi bersama saya. Walaupun tidak sepenuhnya saya tinggalkan.
Sejak menerima undangan sehari sebelum keberangkatan. Saya bulatkan niat. Untuk mengobati kerinduan. Pada teman-teman senapas. Lebih tepatnya, seterengah-engahan napas.
Pesona Dieng sudah dua kali saya lumat hampir habis. Tinggal satu yang masih tersisa dalam impian. Menikmati sunrise di puncak Sikunir. Itu harus bermalam. Di desa tertinggi se-Jawa Tengah. Masyarakat setempat mengeklaim tertinggi se-Nusantara. Tapi saya belum percaya kesahihannya.
Objek pertama, kawasan Candi Pandawa. Tak ada selera untuk masuk. Masih hafal posisi dan formasi candi-candinya. Di samping takut kehujanan. Kehadiran kami memang langsung disambut hujan. Sejak memasuki kawasan Dieng. Meskipun tidak begitu deras.
Berikutnya, kami dibawa ke Dieng Plateau Theater. Tempat pemutaran film dokumenter. Yang bercerita sekelumit tentang kondisi geografis dan tradisi budaya Dieng. Yang didominasi narasi tentang ritual pemotongan rambut gimbal. Film serupa kini secara mudah bisa didapati di jejaring sosial. YouTube, terutama.
Di luar pantauan saya. Ada dua fasilitas tambahan di kompleks bioskop. Pertama, wahana flying fox dan flying bike. Dua unit sepeda bertengger di atas seutas tali baja. Stang dan sadelnya diikat menggantung pada tali lain di atasnya. Siap menguji adrenalin pengunjung. Menyeberangi jalan. Tanpa menginjak permukaannya. Pada ketinggian sekitar delapan meter.
Yang kedua, Batu Pandang Ratapan Angin. Letaknya di samping gedung bioskop. Harus mendaki tebing tinggi untuk mencapainya. Dari sini, panorama sekitar bisa dijelajahi pandangan mata. Bila cuaca cerah. Sejumlah spot untuk berfoto ria juga tersedia. Dengan tarif beragam.
Sayangnya, saya tidak ikut menikmati kedua-duanya. Jatah waktu di sini saya habiskan di kamar kecil. Memang, saya dianugerahi keistimewaan. Selalu tak bisa singkat ketika berhajat. Efek gangguan pencernaan. Kronis. Dari hulu sampai hilir. Kebutuhan ke belakang itu menyelamatkan muka saya. Daripada dibuli teman-teman. Gara-gara takut ketinggian.(Teguh Gw)

0 Response to "Wisata - AKU DAN DIENG"
Post a Comment