Budaya - UJUNG TOMBAK DAN UJUNG TOMBOK
Tuesday, 5 June 2018
Add Comment
![]() |
| Budaya - UJUNG TOMBAK DAN UJUNG TOMBOK |
UJUNG TOMBAK DAN UJUNG TOMBOK
Oleh: Parpal PoerwantoTAMAN TEMBANG DAN SASTRA – BUDAYA – Hari menjelang asar, kota Solo masih ramai ketika Mas Guru Bonang dijemput utusan Mister Yant Mujiyanto. Menyusuri jalanan penuh asap knalpot arah terminal kemudian memotong rel kereta api. Kendaraan parkir di depan warung sate.
Mas Guru Bonang segera menuju Mister Yant Mujiyanto seraya mencium tangannya. Yup, rasa hormat kepada dosen sewaktu kuliah itu masih dijaga. Sebelum duduk, Mister Yant Mujianto menyuruh Mas Guru Bonang untuk menjabat tangan priyayi yang duduk di depannya. Mas Guru Bonang mengulurkan tangan sambil menyebutkan nama. Begitu juga priyayi tersebut menyebutkan nama. Beliau adalah Bapak Bambang seorang dosen Univet Sukoharjo dan juga merupakan saudara ipar Ibu Dr Farida, Direktur Pascasarjana Univet.
Awalnya mereka saling mengabarkan keadaan teman-teman sesama penulis. Selanjutnya terjadi obrolan budaya.
Menurut Pak Bambang, Mas Guru Bonang merupakan guru sejati karena merupakan ujung tombak di dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Guru SD-lah yang sangat berjasa karena di tangan merekalah awal dan dasar pendidikan-pengajaran secara formal itu dimulai. Terutama yang sangat siginifikan adalah mengenai pendidikan budi pekerti. Hal ini akan memberikan warna karakter bangsa bagi generasi penerus di kehidupan berbangsa dan bernegara pada gilirnya kelak.
Mas Guru Bonang tidak bisa mengelak. Sebenarnya pandangan seperti itu sudah sering dilontarkan oleh berbagai kalangan. Namun demikian, ada rasa bangga juga sebagai bagian dari garda terdepan dalam mencerdaskan bangsa. Belum sempat Mas Guru Bonang komentar, Mister Yant Mujiyanto malah menambahkan, “Guru SD itu juga ujung tombok.”
Ujung tombok di sini bukan berarti berhubungan dengan materi. Namun, bisa tombok kesabaran, tombok pengertian, tombok pengabdian, dan tombok-tombok lainnya. Mas Guru Bonang masih ingat ketika mengajar di SDN 1 Wonogiri. Waktu itu mengajar kelas 2. Meskipun SDN 1 Wonogiri itu SD favorit di mana calon siswanya direkrut melalui seleksi dan tentunya ada yang tidak lulus alias ditolak, yang namanya siswa itu dimana-mana ya hampir sama. Sebenarnya, setiap masuk Mas Guru Bonang selalu mengingatkan para siswanya untuk buang air terlebih dahulu bagi yang terasa ingin buang air.
Nah, suatu ketika saat pembelajaran berlangsung tiba-tiba tercium bau gas yang khas dan menyengat. Ketika Mas Guru Bonang bertanya apakah ada yang sakit perut, para siswa tidak ada yang menjawab. Anehnya, bau itu semakin memenuhi ruang dan beberapa siswa mulai terasa mual perutnya karena ingin mengeluarkan isi perut. Tiba-tiba salah seorang siswa menyeletuk sambil berlari keluar, “Si A...mencret Pak...!”
Mas Guru Bonang menenangkan para siswa yang mulai gaduh dan menghambur keluar. Kemudian Si A disuruh pergi ke kamar mandi, sementara Mas Guru Bonang mengambil pasir untuk menutup isi usus yang sudah terlajur keluar dan menyebarkan bau yang sangat-sangat kurang sedap itu. Hal ini tentu tidak akan terjadi pada jenjang SLP, SLA apalagi di perguruan tinggi. Maka dari itu Mas Guru Bonang setuju jika seorang guru SD itu patut diberi lebel sebagai ujung tombak dan ujung tombok.
Akan tetapi, jika seseorang telah berhasil dalam hidupnya, baik materi maupun jabatan, tentu orang tidak akan bertanya dulu si A itu lulusan SD mana. Minimal akan ditanya dia dulu alumni SMA atau perguruan tinggi mana. Nah, apa yang disampaikan Mister Yant Mujiyanto bahwa guru SD itu ujung tombok memang ada benarnya, bukan?
Wonogiri, 070815

0 Response to "Budaya - UJUNG TOMBAK DAN UJUNG TOMBOK"
Post a Comment