Budaya - POIN KEENAM
Saturday, 9 June 2018
Add Comment
![]() |
| Budaya - POIN KEENAM |
POIN KEENAM
Oleh: Parpal PoerwantoTAMAN TEMBANG DAN SASTRA – BUDAYA – Ini adalah poin keenam yang harus dijawab Mas Guru Bonang secara tidak langsung dalam wawancara dengan salah seorang mahasiswa putri (Sabtu, 13/6) lalu. Hal itu disebabkan karena mau tidak mau Mas Guru Bonang harus membaca terlebih dahulu keenam copy-an cerkak yang berhuruf kecil-kecil dan sebagian tidak jelas. Bahkan ada beberapa bagian yang terpotong sehingga harus mengira-ira, termasuk tanggal pemuatan di koran.
Berikut ini hasil rekam Mas Guru Bonang dalam membaca dan mencermati keenam cerkak tersebut secara singkat. Cerkak Tangise Bapak karya Latif N. Janah (Solopos, 2 Oktober 2014) bercerita tentang mimpi seorang bapak mengenai kehidupan ketiga anak-anaknya, yakni Galih, Giyar, dan Bayu serta istrinya, Suminah. Tokoh Bapak menangis karena anaknya yang bernama Galih terjerat hukum karena kedudukannya sebagai wakil bupati yang terkena kasus korupsi. Sayang, endingnya tidak menunjukkan “tangise bapak” sehingga lepas dari judul karena tangis yang senyatanya hanya terjadi di alam mimpi. Ini merupakan salah satu contoh cerkak yang bertemakan sosial-politik yang dikemas dengan bahasa Jawa kekinian. Dengan demikian cocok untuk dijadikan bahan ajar di SMA.
Cerkak berikutnya adalah Piwulang Urip (Solopos,...) karya Suci Harjono. Cerkak ini berbicara tentang keikhlasan terutama dalam berkurban, berarti tentang kehidupan sosial-agama, budi pekerti. Sedikit catatan, selain ada penulisan yang belum pas, yaitu wis ditulis wes, cerkak ini juga dirancukan dalam penyebutan peran antara Simbok (Yu Parti?) dan simboke (Yu Parti?). Cerkak ini juga cocok untuk diajarkan di SMA untuk mengajarkan berbuat kebaikan, rela berkurban.
Cerkak Pit Lempit (Solopos, Oktober 2014) karya Yessita Dewi berbicara tentang asmara yang tidak sampai. Cara penyajian mengalir dengan bahasa Jawa masa kini yang mudah dipahami anak (baca: siswa SMA). Ada sedikit ganjalan atau sesuatu yang hilang ketika rombongan telah sampai di Jogja “swarane Ririn cemengkling neng lobi hotel”. Cerita asmara sejauh tidak mengumbar unsur pornografi dan bahasa yang vulgar tetap cocok untuk bahan ajar siswa SMA.
Wayang, sebuah cerkak yang dimuat di Solopos (4 Desember 2014) merupakan karya Mbah Met. Meskipun jalan cerita ini mengenai seni budaya (wayang) sebenarnya cerkak ini merupakan tema sosial tentang orang yang hidup dalam tarap kemiskinan. Kehidupan tokoh Aku yang dijuluki wayang, karena sewaktu kecil hingga remaja jarang (tidak pernah) ganti pakaian, ibarat wayang. Cerkak ini cocok untuk bacaan anak SMA dengan tujuan (1) untuk mengenalkan seni budaya (berupa wayang), (2) mengaca diri pada kehidupan orang-orang sebelumnya agar bisa mengambil hikmahnya anak-anak bisa menyikapi hidup secara lebih baik serta arif dan bijaksana.
Kini giliran cerkak Sirah Mumet (Solopos, 11 Desember 2014) karya Sutarmanto. Cerkak ini berbicara tentang sebuah keluarga yang sarat dengan permasalahan. Surampok seorang pensiunan penjaga sekolah hidup dalam keadaan miskin bermaksud untuk mencari pekerjaan untuk menambah ekonomi keluarga tetapi gagal. Ditambah lagi anaknya yang terpaksa dropout dari kuliah dan terkenan depresi serta insomnia. Keadaan tambah runyam karena istrinya, Bune Sugus, tidak memahami keadaan. Akhir cerita juga benar-benar membikin “sirah mumet” karena rumahnya terbawa banjir, dan anak-istrinya tidak diketahui rimbanya. Cerkak ini cocok untuk bahan ajar anak SMA karena bermaterikan kehidupan sosial dan dibawakan dengan bahasa Jawa yang mudah dipahami oleh siswa.
Terakhir adalah cerkak karya Astuti Parengkuh dengan judul Ibu (Solopos, 26 Februari 2015). Cerkak ini berbicara tentang kemanusiaan (kasih sayang) meskipun ada topik pembicaraan tentang Aku (Wening) yang mencintai budaya tradisi (jajanan tradisional). Cerkak ini sangat cocok untuk bahan ajar siswa SMA karena mengajarkan tanggung jawab dan kasih sayang kepada orang tua (ibu) dan juga mencintai budaya sendiri (makanan tradisional).
Berdasarkan gambaran diatas, maka Mas Guru Bonang menyimpulkan bahwa keenam cerkak tersebut cocok digunakan sebagai bahan ajar anak SMA karena selain mengajarkan budi pekerti kepada para siswa, cerkak-cerkak itu tidak mengandung unsur-unsur SARA dan pornografi. Selain itu, bahasa yang digunakan sesuai dengan bahasa anak jaman sekarang.
Wonoguru, 210615

0 Response to "Budaya - POIN KEENAM"
Post a Comment