-->

Budaya - ZONA AMAN

Budaya - ZONA AMAN
Budaya - ZONA AMAN

ZONA AMAN

Oleh: Parpal Poerwanto

TAMAN TEMBANG DAN SASTRABUDAYA – Manusia pada umumnya selalu ingin nyaman dan aman. Di medsos banyak status yang merindukan suatu zaman di mana ketika Orba menguasai ini negeri ini. Bahkan, sering kita jumpai tulisan di bak belakang truk, “Piye kabare, isih penak jamanku, to?”

Yup, sebagian orang yang hidup di zaman Orba berkuasa pasti pernah merasakan “rasa nyaman dan aman”. Hidup begitu tenteram serta murah sandang pangan. Itu memang benar adanya, tidak bisa dipungkiri.

Orang yang menyatakan nyaman dan aman karena mereka benar-benar hidup dalam zona aman. Misalnya (sebagian besar) tinggal di Jawa, menduduki jabatan atau memiliki pekerjaan tetap, dekat dengan penguasa baik pusat maupun tingkat kampung, dan mendapatkan kue pembangunan (pinjam istilahe Cak Nun). Namun bagaimana dengan saudara-saudara kita yang tinggal di luar Jawa atau mereka yang tidak kebagian kue pembangunan apakah juga merasa nyaman dan aman? Zaman Orba membuat dan menyisakan luka-luka yang terwariskan hingga kini. Kita ambil contoh di Aceh dan Indonesia timur lainnya.

Zaman Orba mendidik kita untuk mencari muka guna menjatuhkan atau mengorbankan orang lain yang tidak kita sukai. Dulu ketika Mas Guru Bonang masih remaja disuruh ikut kampanye. Sebenarnya dia enggan untuk ikut. Namun oleh bapaknya yang PNS disuruh ikut dengan alasan demi keamanan, yah akhirnya ikut pula. “Ikut saja biar aman, masalah mencoblos silakan pilih sesukamu,” kata bapaknya. Benar, Mas Guru Bonang aman-aman saja meskipun waktu itu tidak mencoblos Golkar. Namun, salah satu teman Mas Guru Bonang yang ketahuan tidak ikut kampanye urusan berikutnya tidak nyaman. Ya, anak itu ditolak mencari pengantar SKKB (sekarang SKCK) di kelurahan. Wal hasil tanpa SKKB setiap melamar pekerjaan selalu ditolak.

Zaman Orba juga membuat kepatuhan-kepatuhan semu agar ABS, asal bapak senang. Banyak kasus proyek-proyek rekayasa alias dabul-dabulan yang penting bapak senang, bawahan aman. Contoh lain di medsos ada yang menulis, dulu ketika Agustusan semua berbondong-bondong ikut merayakan, tetapi sekarang jauh berbeda. Waktu Orba, siapa yang berani tidak ikut Agustusan? Jika ada yang berani dan ketahuan pasti akan dilaporkan ke “atasan” sehingga nasibnya akan berabe.

Memang, kata banyak kalangan reformasi telah kebablasan. Hal itu sebenarnya bisa dimaklumi. Selama 32 tahun bagaikan hidup dalam kerangkeng, maka ketika dilepas ke hutan hewan-hewan itu pasti liar. Yang dulu merasa tidak kebagian kue pembangunan, mereka akan berusaha merebut dengan berbagai cara, kemaruk. Sedangkan yang selama ini  hidup di zona aman kemudian harus keluar pasti tidak siap dan akan melakukan berbagai cara, bangkai pun dihalalkan. Lupa esensi hakikat. Jadilah benar apa yang dikatakan bahwa reformasi kebablasan.


Manusia tidak ada yang sempurna. Jika kita menyoroti kekurangannya saja pastilah sangat menganga. Untuk itu, marilah segera sadar, siapapun pemimpinya kita dukung dengan meningkatkan kinerja kita sesuai porsi kita masing-masing. Negeri ini tidak akan bisa keluar dari keterpurukan jika saling menjatuhkan.

Wonogiri, 110815

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Budaya - ZONA AMAN"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel