-->

Budaya - SADAQAH PUISI

Budaya - SADAQAH PUISI
Budaya - SADAQAH PUISI
SADAQAH PUISI
Oleh: Parpal Poerwanto

TAMAN TEMBANG DAN SASTRA
BUDAYA – Ternyata yang namanya obrolan budaya itu tidak harus terkonsep dan terjadwal dengan ndakik-ndakik. Seperti saat itu, ketika Mas Guru Bonang selesai acara di Hotel Sunan lalu dijemput dan akhirnya merapat di warung sate. Kala itu obrolan budaya masih berlanjut meskipun topiknya ya enteng-enteng saja.

Mas Guru Bonang mengungkapkan tentang kemandegan geliat budaya khususnya seni sastra di Wonogiri. Sebenarnya pernah beberapa kali teman-teman kumpul untuk ngobrol budaya yang agendanya tentang seni sastra. Namun sering kali terjebak dengan romantisme masa lalu, dan akhirnya layu kembali. Mak-undlup istilah Jawanya. Sebagai “anak ragil” di kalangan itu, Mas Guru Bonang serba ewuh pekewuh (penyakite wong nJowo kambuh).

Sementara Mister Yant Mujiyanto tengah asyik dengan sadaqah puisinya. Setiap saat, setiap ada kesempatan, setiap ada acara selalu puisi yang disadaqahkan. Bahkan acara halal bihalal pun tidak luput dengan mitrahi siapa saja yang dijumpa dengan puisinya. Mas Guru Bonang sendiri sudah tak terhitung berapa kali mendapat kiriman copy-an puisi dari Mister Yant Mujiyanto. Kebanyakan dititipkan mahasiswanya.

Menurut Mister Yant Mujiyanto, itu adalah kekayaannya. Puisi, berangkat dari kekayaan hati. Puisi adalah nutrisi nurani sedangkan nasi adalah nutrisi jasmani. Sementara materi bukan berarti tidak penting tetapi asal bisa jalan saja sudah cukup.

Apabila sadaqah nasi,  biaya yang dikeluarkan besar, kemanfaatannya justru sesaat. Berbeda dengan puisi. Puisi bisa digunakan untuk pembelajaran. Di dalamnya terdapat nilai-nilai kehidupan. Nilai-nilai itu tumbuh mekar sebagai nutrisi jiwa sehingga hati menjadi tenang, tenteram, sejuk, dan syahdu. Bagaikan tanaman bunga yang dipupuk dan diairi dengan  teratur. Ledhung-ledhung, segar.

Sebenarnya masih banyak keinginan untuk ngobrol lebih banyak. Namun karena waktu sudah cukup sore, Mas Guru Bonang harus segera pulang biar anak-anaknya sebelum tidur bisa bertatap muka dengan dirinya. Bagaimanapun anak-anak adalah puisi kehidupan sebagai nutrisi hidup berumah tangga. Maka sadaqah sapa dan senyum dari seorang ayah pasti sangat diidamkannya sebagai pengantar tidur, biar tidur lelap tanpa gelisah, ayem.

Tanpa sepengetahuan Mister Yant Mujiyanto, Mas Guru Bonang menuju kasir. Ternyata kecele, sebab nasi sate plus kikil sore itu telah dibayar Mister Yant Mujiyanto sebelum Mas Guru Bonang datang. Berarti kali ini Mister Yant Mujiyanto bukan hanya sadaqah puisi tetapi juga sadaqah nasi plus sate-kikil. Padahal biasanya BMM, alias bayar masing-masing. Wah, Mas Guru Bonang kalah satu nol.

Wonogiri, 070815

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Budaya - SADAQAH PUISI"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel