Budaya - TIDAK MENGHAMBA SELAIN TUHAN
Sunday, 6 May 2018
Add Comment
![]() |
| Budaya - TIDAK MENGHAMBA SELAIN TUHAN |
TIDAK MENGHAMBA SELAIN TUHAN
Oleh: Parpal PoerwantoTAMAN TEMBANG DAN SASTRA – BUDAYA – Mas Guru Bonang datang lumayan awal. Di lantai 3 itu sudah duduk tiga orang teman. Mas Guru Bonang langsung bergabung. Obrolan santai-santai saja. Paling banyak adalah cerita pengalaman diri masing-masing. Seperti biasa, Mas Guru Bonang lebih banyak mendengar dan hanya sesekali ikut bicara. Itupun dengan maksud agar ada yang mulai cas-cis-cus lagi.
Ada cerita yang menarik dari obrolan itu. Ternyata ibu-ibu teman Mas Guru Bonang itu juga mengikuti perkembangan isu Islam Nusantara yang kali ini marak diperbincangkan di media, termasuk media sosial. Meskipun dari sudut pandang yang berbeda dengan nalar yang sederhana pula, ibu-ibu itu asyik memberi tanggapan.
Salah seorang ibu mengisahkan kejadian yang dianggapnya aneh. Maksudnya, keanehan dalam menyikapi hidup beragama yang berbeda dari kebanyakan orang. Ceritanya, salah seorang tetangganya, waktu itu bapaknya meninggal dunia. Ketika orang lain dan keluarga lain sibuk mengurus jenazah sebagaimana layaknya selama ini berlaku di kampung itu, dia, si anak dari yang meninggal tadi, malah duduk-duduk santai bersama istrinya, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Bahkan sesekali terdengar canda mereka.
Mendengar cerita itu ibu yang lain menambah, “Kelompok mereka itu tidak percaya dengan adanya setan, genderuwo, dan sejenisnya. Padahal itu kan makhluk halus ciptaan Tuhan.”
Ibu satunya lagi kemudian bercerita tentang kehidupannya. Dia bercerita dengan diawali kata-kata, “Intinya aku tidak menghamba pada selain Tuhan tetapi kisahku ini benar-benar terjadi. Orang boleh tidak percaya dengan adanya makhluk halus semacam jin, genderuwo atau sejenisnya.
Waktu itu, keluargaku tengah bangkrut. Suamiku menjagokan diri sebagai kepala desa dengan biaya yang sangat besar menurut ukuranku dengan keyakinan menang. Namun apa yang terjadi. Suamiku kalah suara, tipis. Padahal uang yang digunakan sebagian besar adalah berasal dari utang. Terpaksa, rumah kami pun ikut terjual untuk menutup utang.
Selanjutnya kami sekeluarga mengontrak sebuah rumah. Ketika kami sekeluarga mau memasuki rumah itu, datanglah seorang kiai. Kata kiai itu kami sekeluarga akan betah tinggal di rumah itu. Dan masih menurut kiai itu, dalam dua tahun ke depan kami diramalkan bisa membangun rumah sendiri.
Kami sekeluarga hanya mengiyakan saja untuk tidak menyinggu kiai itu. Di pikiranku, jangankan membangun rumah, untuk menutup utang yang masih menganga saja masih bingung dari mana sumbernya.
Waktu terus berjalan. Hari demi hari kehidupan kami semakin baik. Ada kejadian yang tidak masuk akal. Misalnya tercium bau masakan yang sangat sedap dari arah dapur. Padahal malam hari dan tentunya tidak ada yang memasak. Keesokan harinya, minyak tanah untuk persediaan satu minggu tinggal cukup untuk memasak hari itu. Kejadian semacam itu sering terjadi. Kami sekeluarga tidak mempermasalahkannya. Kami anggap itu sadaqah bagi yang membutuhkan.
Tidak terasa semua hutang kami bisa terlunasi. Bahkan tepat dua tahun sejak kami mengontrak rumah itu kami benar-benar bisa membangun rumah sendiri. Dan ketika kami hendak menempati rumah baru, kiai itu datang lagi. Beliau menyarankan agar kami pamitan kepada si penunggu rumah. Anehnya, ketika kami pamitan terdengar suara orang menangis tanpa kami bisa melihatnya. Nah, kejadian ini nyata. Sekali lagi, kami tidak menghamba kepada selain Tuhan. Aku tidak minta tolong kepada makhluk halus penghuni rumah itu. Bahkan selama menempati rumah itu kami sekeluarga tidak memedulikannya sama sekali,” pungkasnya meyakinkan.
Untuk kisah satu itu Mas Guru Bonang tidak berkomentar. Jujur, takut salah karena pengetahuan tentang hal itu sangat-sangat minim. Lebih baik diam dari pada salah, iya kan?
Wonogiri, 090815

0 Response to "Budaya - TIDAK MENGHAMBA SELAIN TUHAN"
Post a Comment