-->

Budaya - JANCUK

Budaya - JANCUK
Budaya - JANCUK

JANCUK

Oleh: Parpal Poerwanto

TAMAN TEMBANG DAN SASTRABUDAYA – Sore itu, Mas Guru Bonang duduk leyeh-leyeh di kursinya yang sudah reyot sambil menikmati telo bakar. HP android usangnya melantunkan lagu Bengawan Solo karya maestro Gesang yang dinyanyikan orang bule, seorang dewasa dan anak kecil (bisa jadi bapak dan anak).

Tiba-tiba ada sepeda motor berhenti. Yup, ternyata Mas Guru Gender yang datang. Tanpa salam dan juga tanpa dimanggake, tamu yang biasa tak diundang undang itu lantas duduk di kursi depan Mas Guru Bonang. Bersamaan dengan itu, Mas Guru Bonang serasa buang gas. Mas Guru Gender menutup hidungnya, “Jancuk, datang-datang bukannya dikasih minum disambut dengan gas beracun...!”

Hal itu mengingatkan Mas Guru Bonang pada peristiwa awal tahun 2000-an. Saat itu Mas Guru Bonang mendatangi undangan ke kantor majalah Jaya Baya untuk menerima hadiah lomba menulis cerkak (cerpen berbahasa Jawa). Baru kledhang-kledhang masuk kantor, tiba-tiba disambut Mas Kicuk Parto, “Jancuk, ditunggu lama sekali!” Sambutan itu bukan suatu kemarahan atau kekesalan. Namun, sambutan akrab bagi Mas Kicuk Parto tetapi serasa aneh di telinga Mas Guru Bonang. Keduanya lantas bersalaman dan berangkulan sambil tertawa-tawa. Waktu itu, antara Mas Guru Bonang dan Mas Kicuk Parta baru kali pertama bertemu. Mereka diakrabkan oleh kondisi yang ada, yang satu seorang pemimpin redaksi, satunya lagi seseorang yang senang belajar menulis dengan bahasa Jawa.

“Ada apa to, kok misuh-misuh?” tanya Mas Guru Bonang kepada Mas Guru Gender. Kali itu Mas Guru Gender  sudah tidak menutup lubang hidungnya. Tampak tangannya ibut mengupas kulit  telo bakar. Selanjutnya, telap-telep sambil plekiken karena memang minumannya belum tersuguh.


“Siapa yang misuh? Menurut  Saya Acheng‎, kata "JAN COX" itu merupakan nama dari sebuah tank Belanda. Waktu itu, setiap ada tank Belanda datang para pejuang berlari sambil berteriak "JAN COX..., JAN COX...," dengan tujuan memperingatkan para pejuang dan rakyat jika bahaya datang. Seiring waktu, kata "JANCOK" itu sendiri cenderung menjadi kata yang dianggap kotor, misuh, dan konotasi buruk yang melekat pada kata tersebut. Meski jika ditanya dari mana dan kenapa kata JANCOK dianggap misuh, tidak ada jawaban atau argumen yang kuat. Namun, tidak mengherankan jika sampai merdeka, ketika marah, kata itu tetapi digunakan. Jancox..., jancok..., jancuk...!”


Mas Guru Bonang manggut-manggut mendengar penjelasan Mas Guru Gender. Kemudian, ia membau sesuatu yang busuk. Ia yakin, bukan dirinya yang mengeluarkan sumber bau itu. Tidak salah lagi, pasti datangnya dari Mas Guru Gender, “Jancoooox..... ngentut, yo?”

Keduanya ngleges. Mereka menikmati telo rebus dengan teh ginastel yang baru saja disajikan Nyonya Bonang, sore itu.

Wonogiri, 060518

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Budaya - JANCUK"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel