Budaya - TUKAR TAMBAH
Saturday, 5 May 2018
Add Comment
![]() |
| Budaya - TUKAR TAMBAH |
TUKAR TAMBAH
Oleh: Parpal PoerwantoTAMAN TEMBANG DAN SASTRA – BUDAYA – Mendengar kata tukar tambah, Mas Guru Bonang mengasumsikannya dengan sebuah benda yang biasa diperjualbelikan. Namun untuk mempermudah transaksi dan saling menguntungkan benda tersebut dapat ditukar dengan benda lain sesuai dengan kebutuhan plus adanya persyaratan, salah satunya menambah harga sesuai nilai uang.
Akan tetapi, tukar tambah yang satu ini menurut Sunny Ummul Firdaus pada acara Seminar Nasional Penguatan DPD di Solo belum lama ini, merupakan “jalan keluar” di antara tawaran poligami dan poliandri. “Saya setuju dengan poligami...,” kata Sunny sambil membuka kepekannya di hp tentang persyaratan poligami. Tentu hal itu mendapat sambutan yang antusias dari audiens pria. “Namun...,” lanjut Sunny, “Suami saya jangan ikut poligami!”
Kemudian Sunny menawarkan bagaimana jika poliandri saja. Tentu audiens semakin riuh. Pokoknya jika bicara tentang poli-poli semacam itu pasti membuat peserta menjadi sumringah. Persoalan poligami memang sangat pelik. Konon jumlah pria dan wanita lebih banyak wanita tiga kali lipat. Apa bila asumsi seorang pria hanya menikahi seorang wanita, maka banyak wanita yang tidak bersuami. Secara nalar, ini adalah salah satu pemicu keretaan rumah tangga karena para suami melirik wanita lajang dan tentunya gayung pun tersambut.
Di sisi lain, sering kita dengar bahwa, “Siapa wanita yang suka dimadu?” Ya. Dimadu memang sakit, bahkan mungkin melebihi diracun. Padahal menurut ajaran agama, seorang pria boleh menikahi 1, 2, 3, atau 4 wanita. Tentunya dengan persyaratan mampu berbuat adil. Sesuai kepekan yang dibacakan Sunny, adil juga merupakan salah satu persyaratan yang harus dibuat dan ditanda-tangani jika ingin berpoligami di negeri ini. Padahal, yang namanya adil kan ukurannya susah, tinggal ditinjau dari sudut mana.
Konon, persoalan poligami di negeri sudah menjadi perbincangan dan perdebatan sejak masa awal kemerdekaan. Kaum nasionalis seperti Soekarno dan kawan-kawan menentang kelompok agama (Masyumi dan konco-konconya yang sealiran), mengenai poligami dilegalkan di Indonesia. Namun, justru Soekarnolah yang benar-benar sukses melaksanakan hidup berpoligami.
Poligami memang pro kontra. Untuk itu secara berseloroh Sunny menawarkan tukar tambah saja, “Dari pada jarang pulang karena sibuk, apa lebih baik tukar tambah saja, ya?” ujarnya berseloroh.
Mendengar celotehan-celotehan itu, Mas Guru Bonang yang awalnya matanya menciut redup, akhirnya tidak jadi ngantuk, apalagi di tivi ada acara poli pante putri.
Wonogiri, 080815

0 Response to "Budaya - TUKAR TAMBAH"
Post a Comment