Budaya - SUGENG
Saturday, 5 May 2018
Add Comment
![]() |
| Budaya - SUGENG |
SUGENG
Oleh: Parpal PoerwantoTAMAN TEMBANG DAN SASTRA – BUDAYA – Murid satu ini memang lain. Selain jauh tertinggal dari teman-temannya, penampilannya pun berbeda. Baju dan celananya lusuh. Dia pindahan dari pulau seberang ketika duduk di kelas empat tiga tahun lalu. Selama dua tahun dia menuntut ilmunya di kelas empat untuk menyesuaikan diri dengan materi dan sosialnya. Anaknya pendiam tetapi juga cukup nekat, suatu saat dia terlibat mencuri uang temannya. Untung segera dapat diatasi dan kejadian semacam itu tidak terulang kembali.
Kini dia sudah duduk di kelas enam. Tentunya dengan nilai dongkrakan supaya bisa duduk di kelas puncak tersebut. Namun, kebiasaan yang tidak masuk akal kadang-kadang masih muncul jua. Misalnya tiba-tiba kencing atau buang air besar di celana.
Hari Senin selepas upacara, Kepala Sekolah mengadakan rapat tak resmi membahas persiapan kemah yang akan berlangsung tanggal 14-15 Agustus 2015. Intinya, Kepala Sekolah menunjuk guru kelas enam untuk memilih anak yang akan diikutkan kemah. Satu regu putra dan satu regu putri masing-masing 12 anak, dengan catatan yang dua sebagai cadangan yang terdiri dari kelas empat, lima, dan enam.
Karena guru yang ditunjuk sudah sanggup dan tidak minta pendapat teman lain, guru-guru lainnya juga sudah yakin bahwa pilihan guru kelas enam sudah tepat.
Ketika itu Mas Guru Bonang menemani dua rekan yang tengah sibuk memotong bambu untuk tongkat dan uba-rampe lainnya dibelakang gedung sekolah. Tiba-tiba terdengan jelas pengumuman nama-nama murid yang akan diikutsertakan dalam kemah nanti. Dari nama-nama itu nama Sugeng tidak disebut. Mas Guru Bonang tercengang. Atas dasar apa Sugeng yang sudah duduk di kelas enam tidak masuk daftar regu kemah sementara anak-anak yang masih duduk di kelas empat ada beberapa yang masuk. Toh sudah menjadi kesepakatan umum bahwa dalam kemah itu bukan untuk mencari kejuaraan, sebab pialanya dalam even lomba nanti akan dibagi rata, tiap sekolah mendapatkannya.
Murid seperti Sugeng perlu motivasi. Bahkan sangat. Dalam kesehariannya dia selalu tersisih, dijadikan olok-olok teman-temannya, bahwa para guru pun kalo ngrumpi juga tidak lepas dari dia.
Sugeng perlu kepercayaan diri, di sinilah peran guru untuk memberikan rasa percaya diri itu. Nah, pada saat Pramukalah semestinya porsi itu diberikan bukan malah dihilangkan. Pramuka selain membutuhkan kecakapan khusus, juga berisikan materi permainan dan pendidikan budi pekerti. Hak Sugeng untuk mendapatkan semua itu. Setidaknya dia berhak ikut berperan di dalamnya. Ingat, lembaga ini adalah lembaga pendidikan. Dan semua anak berhak akan itu. Sugeng sudah duduk di kelas enam, dan baru kali ini mengalami ikut berkemah. Sementara anak-anak kelas lima dan empat masih punya kesempatan pada kemah masa mendatang.
Alhamdulillah, akhirnya guru penyeleksi mau menerima usulan untuk memasukkan nama Sugeng meskipun dengan perdebatan yang alot dengan berbagai argumentasi. Mas Guru Bonang kemudian keluar ruang. Langkahnya menuju anak-anak yang sedang dibimbing oleh Mas Guru Kenong tentang tali temali. Tampak dari kejauhan Sugeng duduk nglesot di lantai sambil melihat teman-temannya yang tengah asyik dengan tali dan tongkatnya. Sesampainya di tempat latihan, Mas Guru Bonang membisiki Mas Guru Kenong supaya Sugeng dilibatkan latihan. Ketika dipanggil, awalnya anak itu ragu, tetapi sejurus kemudian tampak binar di matanya.
Waktu pun berlalu. Sugeng dan teman-temannya sudah menjadi siswa di SMP. Sesekali tempo, Sugeng datang ke sekolah. Ia sowan para guru SD-nya sekadar untuk bersalaman dengan cium tangan. Selain itu, di jalan pun Sugeng juga lebih sopan berkendara (naik motor) dibanding teman-temannya. Ia selalu menyapa dengan mengangguk sementara teman-teman lainnya sudah banyak yang sok tidak mengenal gurunya ketika berpapasan di jalan.
Wonogiri, 040518

0 Response to "Budaya - SUGENG"
Post a Comment