-->

Budaya - TES KEPALA SEKOLAH

Budaya - TES KEPALA SEKOLAH
Budaya - TES KEPALA SEKOLAH

TES KEPALA SEKOLAH

Oleh: Parpal Poerwanto

TAMAN TEMBANG DAN SASTRABUDAYA – Guru Kempul misuh-misuh. Dirinya merasa dikerjai oleh seseorang.
Sinten yang ngerjain to, Pak?” tanya Mas Guru Bonang.

“Guru Kethuk,” jawab Guru Kempul pendek. Mendengar jawaban itu, Mas Guru Bonang menerawang beberapa tahun silam. Yup, Mas Guru Bonang pernah menjadi mahasiswanya.

Sebagai dosen, Guru Kethuk memang agak aneh. Mas Guru Bonang yang kemaki saja masih kalah kemlinthinya. Guru Kethuk suka pamer kemampuan dirinya dan anaknya. Diktat Bahasa Ingris yang tebal itu jarang dibuka. Ia lebih sering mengajar menyanyi dari pada membahas materi di dalam diktat.

Suatu ketika nilai ujian dibagikan dalam bentuk lembaran yang harus dibaca bergantian oleh mahasiswanya. Mas Guru Bonang agak tercengang melihat angka tertera 49 dan suskes menjadi juru kunci. Mas Guru Bonang sempat terbersit ingin protes, tetapi ia urungkan. Sangat tidak tepat protes di hadapan para mahasiswa. Meskipun merasa benar, tetapi Pak Dosen pastinya juga tidak mau mengalah. Untuk itu, ketika pulang Mas Guru Bonang membuntuti Guru Kethuk dari belakang.

Nuwun sewu, Bapak lenggahipun pundi, nggih?” tanya Mas Guru Bonang. Guru Kethuk menyebut suatu tempat dengan singkat dengan sedikit menjaga jarak.

Saat itu juga Mas Guru Bonang bertandang ke rumah Guru Kethuk. Ia agak ragu ketika sampai di alamat yang disebutkan Guru Kethuk beberapa waktu lalu. Rumah itu tertutup rapat. Padahal, logikanya ada penghuninya setidaknya ya Pak Guru Kethuk yang datang lebih awal beberapa menit dari Mas Guru Bonang.

Setelah beberapa kali mengucap salam, pintu rumah pun dibuka. Benar. Guru Kethuk dan beberapa warga rumah itu sedang bercengkerama di dalam rumah.

“Kukira tadi cuma abang-abang lambe,” kata Guru Kethuk sambil mempersilakan Mas Guru Bonang duduk. “Ada keperluan apa, Mas?” tanya Guru Kethuk. Mas Guru Bonang langsung mengutarakan maksud kedatangannya, yakni tentang nilai yang sepertinya ada kesalahan. Mendengar protes itu, Guru Kethuk masuk ke suatu ruangan dan sekembalinya membawa dua lembar kertas.

“Coba cocokkan dengan ini,” kata Guru Kethuk sambil memberikan hasil ulangan Mas Guru Bonang dan satu lagi adalah hasil kerjaan anaknya yang masih kelas 2 SMP.
“Anak saya yang masih duduk di kelas 2 SMP saja cuma salah satu dari jumlah soal lima puluh itu,” kata Guru Kethuk bangga sekaligus nadanya menyinggung atau merendahkan Mas Guru Bonang.

Mas Guru Bonang segera mencocokkan hasil ulangannya dengan hasil ulangan anak kelas 2 SMP itu. Hasilnya sama persis! Dari lima puluh soal, keduanya hanya salah satu, yaitu pada soal nomor tujuh belas.


“Ini, sama hlo Pak.”
“Mosok?” tanya Guru Kethuk seolah tak percaya. Ia kemudian meminta lembar jawab punya Mas Guru Bonang lalu menyuruh mendiktekan hasil ulangan anaknya. Belum sampai nomor lima belas, Guru Kethuk sudah percaya. Kemudian ia membuka laptopnya.  Setelah data dibuka, ternyata skor nilai itu lupa belum dikalikan dua. Setelah dikalikan dua, bertengger di juru kunci atas, yakni 98.

Kembali ke persoalan Guru Kempul yang merasa dikerjai Guru Kethuk.
“Memangnya dikerjai Guru Kethuk apa, to Pak?” tanya Mas Guru Bonang.
Menurut Guru Kempul, sangat kurang kerjaan si Guru Kethuk itu. Ia tahu bahwa Guru Kempul akan mengikuti tes kepala sekolah. Suatu hari Guru Kempul diajak ke rumah Guru Kethuk dengan diiming-imingi sesuatu. Guru Kempul nurut saja. Setibanya di sana, Guru Kethuk mengopi sesuatu ke dalam  flashdisk Guru Kempul.

Guru Kempul senang sekali waktu itu. Ia tidak sabar ingin segera tahu isinya. Sesuai weling Guru Kethuk, ia harus membuka file itu di ruang tertutup dan sesudahnya harus dihapus karena sifatnya S2RS (sungguh sangat rahasia sekali).


Akan tetapi, betapa terbelalaknya Guru Kempul saat itu. Ternyata bukan contoh soal tes kepala sekolah data dalam flashdisk itu. Namun, isinya adalah video tentang orang-orang yang sangat miskin. Ya, mereka sangat miskin karena tak sehelai pakaian pun menempel di tubuhnya. Ngligo blejet. Guru Kempul kukur-kukur sirah sambil menikmati tayangan video para kaum fakir itu. Ia senyum-senyum sendiri, meskipun mangkel.

Wonogiri, 040518

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Budaya - TES KEPALA SEKOLAH"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel