-->

Budaya - KANG KIJO

Budaya - KANG KIJO
Budaya - KANG KIJO

KANG KIJO

Oleh: Parpal Poerwanto

TAMAN TEMBANG DAN SASTRABUDAYA – Seperti biasa, jika ada yang mengajak berteman di fesbuk, Mas Guru Bonang melihat terlebih dahulu profil yang mengajak itu. Kehati-hatian kan penting. Bagaimanapun berteman dengan orang-orang yang bermanfaat serta kita kenal akan lebih baik dan tentunya membawa kebaikan pula.

Sore itu ada yang mengajak berteman. Membaca namanya, Mas Guru Bonang sudah hapal. Sebab, nama belakang Mas Guru Bonang sendiri menggunakan nama itu. Ya, menggunakannya, bukan hanya sekadar sama.

Ceritanya, jaman Narayana, ketika Mas Guru Bonang di tanah rantau, selalu runtang-runtung dengannya. Meskipun selisih umur mereka delapan tahun, mereka tidak canggung. Mas Guru Bonang yang lebih tua bisa momong sedangkan Kang Kijo yang lebih muda juga bisa menempatkan diri. Kebetulan kedua-duanya suka lonyotan (ngebanyol). Cuma sialnya kedua-duanya pernah naksir cewek yang sama.

Sutau ketika keduanya menjadi buruh bangunan. Saat itu ikut membangun rumah Basofi Sudirman ketika beliau menjabat wakil gubernur Jakarta. Pada jam makan tiba, seperti biasa langsung menuju warteg yang tidak jauh dari tempat bekerja.

Namanya juga anak muda, ketika melihat gadis berseragam SMA pasti pandangannya tertuju ke arahnya. Begitu juga dengan Mas Guru Bonang dan Kang Kijo. Kebetulan di seberang jauh ada seekor kucing. Maka timbullah keisengan Mas Guru Bonang. Dia bilang, “Udah punya anak, ya...?”

Kang Kijo tanggap. Dia mengiyakan saja. Mendengar celotehan dua langganannya itu, Pak Warteg yang merasa anaknya menjadi bahan omongan ikut nimbrung semu protes. “Mas, itu anak saya. Dia masih gadis, masih sekolah SMA!”

Mas Guru Bonang dan Kang Kijo tersedak lalu ambil minum (seperti koor). Dengan diberani-beranikan Mas Guri Bonang memberikan penjelasan. “Yang sudah punya anak itu kucing di seberang jalan itu hlo, Pak....”

Mendengar jawaban itu Pak Warteg merah padam mukanya. Mas Guru Bonang dan Kang Kijo ciut nyalinya. Namun, sejurus kemudian Pak Warteg tertawa. Akhirnya dua orang pembeli dan pemilik warung sama-sama tertawa. Mungkin saja Pak Warteg takut kehilangan langganannya sehingga mengurungkan marahnya.

Itu hanya sekelumit kisah nostalgi antara Mas Guru Bonang dengan Kang Kijo. Masih banyak cerita lain yang mungkin lain waktu bisa diceritakan.

Sekarang kembali ke ajakan pertemanan di fesbuk. Ketika meneliti di profil jelas bahwa yang mengajak berteman adalah Kang Kijo, maka Mas Guru Bonang lantas menerimanya. Yup, setelah berteman sore itu saling mengabarkan tentang keadaan dan tentunya keluarga tidak ketinggalan. Maklum, keduanya tidak bertemu sejak masih sama-sama bujang dan kini anak sulung Mas Guru Bonang sudah kelas 3 SMA.

Yah, dialah Kang Kijo sebuah nama yang tercantum di koran atas tulisan-tulisan Mas Guru Bonang ketika awal-awal belajar menulis di media cetak. Hal itu terjadi karena waktu itu Mas Guru Bonang masih ber-KTP kampung, jadi untuk kepentingan ambil honor ya menulis pakai nama Kang Kijo. Sampai sekarang nama itu masih menempel sebagai nama belakang nama pena Mas Guru Bonang. “Kang Kijo, kapan kopi darat...sambil cerita tentang Narsih, Yuli, Ipon, Nining dan siapa lagi ya....hehehe?”

Wonogiri, 130815

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Budaya - KANG KIJO"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel