Budaya - TERLALU DINI
Friday, 4 May 2018
Add Comment
![]() |
| Budaya - TERLALU DINI |
TERLALU DINI
Oleh: Parpal PoerwantoTAMAN TEMBANG DAN SASTRA – BUDAYA – Siang tadi, Presiden Jokowi mengadakan bongkar pasang kabinetnya. Pastinya berbagai komentar bermunculan. Baik yang datang dari kalangan politik, pakar, maupun orang awam. Ada sebuah status di fesbuk yang sangat menggelitik. “Kena reshuffle itu biasa Brur. Yang sedih itu pesan dendeng daging sapi, tapi yang dapat malah telor mata sapi. Terus dibilangin, yang penting sama-sama ada kata "sapi". Lho, dalam kasus telor mata sapi itu jelas sekali kecurangannya. Bukankah ayam yang punya telor? Tapi kenapa sapi yang dapat nama?” (Damhuri Muhammad).
Yup, tersirat jelas bahwa tulisan itu nadanya sudah menilai kualitas si menteri pengganti. Bukankah ini sebuah penilaian terlalu dini? Konon, orang bilang jangan lihat luarnya, penampilannya. Kadang-kadang penampilan itu menipu. Tentang pendidikan? Apa jika pendidikan lebih tinggi itu ada jaminan lebih segalanya dari pada yang tidak sekolah sekalipun.
Mas Guru Bonang tidak membela Pak Jokowi. Toh dibela atau tidak pun juga tidak berpengaruh. Mas Guru Bonang hanya gedibal pitulikur. Hanya saja, apa tidak lebih arif jika kita lihat dulu bagaimana sepak terjang menteri pengganti itu. Belum apa-apa lantas dibandingkan layaknya dendeng dan telor ceplok (mata sapi). Bagaimana pun Presiden telah memikirkan akan hal itu dengan sebaik-baiknya.
Menurut pinisepuh, janma tan kena ingina, tan kena ingira. Manusia tidak bisa diremehkan, tidak bisa diduga-duga. Yang kelihatannya plonga-plongo kadang bisa berbuat melampaui dari pemikiran orang yang menganggapnya remeh temeh.
Sebaliknya, kadang yang berpendidikan tinggi dan penampilan yang meyakinkan tetapi ternyata tak lebih dari suatu gebyar yang menyalak mata kita. Omongannya bisa saja gede, mengkritik pun juga lihai, tapi ternyata semua itu hanya berhenti di mulut saja! Omdo!
Bagaimanapun hukum alam itu berlaku, orang yang suka memandang rendah seseorang pasti suatu saat juga dipandang tidak dengan setinggi dada. Demikian kata si Satria Bergitar. Terlalu!
Wonogiri, 120815

0 Response to "Budaya - TERLALU DINI"
Post a Comment