-->

Budaya - GURU

Budaya - GURU
Budaya - GURU

GURU

Oleh: Parpal Poerwanto

TAMAN TEMBANG DAN SASTRABUDAYA – Bicara tentang guru, Mas Guru Bonang yang kebetulan juga seorang guru, memang tak pernah habisnya. Sampai kapan guru menjadi sorotan? Banyak pakar yang mengatakan bahwa guru di negara kita ini kesejahteraannya masih jauh jika dibandingkan dengan negara lain, misal negara tetangga Malaysia.

Akan tetapi, ketika ada upaya pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan (melalui tunjangan sertifikasi) sorotan juga semakin tajam. Belum layak lah, kinerja tidak ada peningkatan lah, tidak ada bedanya dengan guru yang belum bersertifikasi dan bahkan malah kalah dengan guru honorer lah, pokoknya masih banyak lah-lah lainnya.

Guru adalah garda terdepan dalam hal mencerdaskan anak bangsa. Semua sudah tahu bahwa ketika Jepang terpuruk pada perang dunia mula-mula yang dikumpulkan adalah guru. Dengan adanya guru berarti masih ada pelita untuk mengurai kegelapan, kebodohan. Dan hasilnya nyata, siapa yang meragukan kemajuan Jepang?

Dulu, kita pernah berbangga bahwa banyak guru Indonesia yang dibutuhkan di Malaysia. Padahal, kenyataannya Malaysia membutuhkan tenaga guru dari Indonesia karena mau dibayar murah. Sedangkan guru-guru Malaysia disekolahkan ke luar negeri untuk meningkatkan kompetensinya. Sekarang, kita bandingkan kemajuan pendidikan di negeri jiran tersebut dengan negeri kita tercinta ini. Maka upaya pemerintah untuk meningkatkan kompetensi guru (salah satunya) melalui tunjangan sertifikasi jangan diungkirh-ungkrih. Selain itu mestinya guru juga sadar sesadar-sadarnya bahwa uang sertifikasi itu sebagian persen digunakan untuk peningkatan kompetensi diri.

Selain kesejahteraan dan kompetensi, persoalan lain adalah kurangnya tenaga guru di setiap satuan pendidikan, khususnya sekolah dasar. Sebagai contoh saja, di tempat Mas Guru Bonang mengajar hanya ada 1 Kepala Sekolah, 3 guru kelas (PNS),  2 guru wiyata bakti, 1 guru PAI, 1 guru Penjas dan seorang penjaga yang masih honorer juga. Berarti guru kelas hanya 5 orang, padahal rombelnya ada 6. Boleh jadi kepala sekolah memegang kelas tetapi namanya kepala sekolah juga banyak kegiatan kedianasan yang mengharuskan meninggalkan sekolah. Apa kondisi semacam ini pendidikan akan maju?


Pemerintah harus benar-benar memperhatikan kekurangan tenaga guru jika ingin ketertinggalan pendidikan di negeri ini pelan-pelan dapat dikejar. Maka Mas Guru Bonang merasa gembira ketika Presiden Jokowi berjanji akan mengangkat menjadi PNS dalam waktu tiga tahun. Sebagaimana dikutip dari JPNN, Ketum PGRI Sulistyo mengatakan bahwa sekolah dasar kini membutuhkan 400 ribu guru. Itu belum termasuk kebutuhan guru di tingkat pendidikan lainnya. Selain masalah kurangnya tenaga guru, PGRI juga meminta pemerintah lebih memperhatikan nasib guru honorer. Pihaknya mengusulkan format penyelesaian dua masalah guru honorer, yaitu dari sisi kepegawaian dan kesejahteraan.


Mudah-mudahan apa yang disampaikan Presiden benar-benar terealisasi sehingga layanan kepada anak-anak bangsa dapat optimal, dan tentunya pelan tapi pasti bisa sejajar dengan negara maju lainnya.

Wonogiri, 270715
Parpal Poerwanto

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Budaya - GURU"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel