Budaya - GANTENG
Thursday, 3 May 2018
Add Comment
![]() |
| Budaya - GANTENG |
GANTENG
Oleh: Parpal PoerwantoTAMAN TEMBANG DAN SASTRA – BUDAYA – Baru saja Mas Guru Bonang mendapat in-box dari sahabat di dunia maya. Demikian isinya, “oh..pak budayawan..kok rapi ganteng, nggak dekil, nggak gondrong....”
Mas Guru Bonang membalas in-box itu sambil tersenyum. Tentu isinya ya cuma canda saja. Kan yang namanya fesbuk itu hanya sebagai hiburan di sela-sela rutinitas kerja. Mas Guru Bonang tersenyum bukan karena dikatakan rapi ganteng, nggak dekil, juga nggak gondrong tetapi bolehnya sebutan budayawan itu yang bikin tersenyum. Pantaskah orang seperti dirinya disebut budayawan?
Dulu, ketika Mas Guru Bonang yang belum dianggap keberadaannya di Wonogiri memang sempat “bikin repot” para “senior” yang membanggakan komunitas Dinamit di Wonogiri. Nama Dinamit ini sangat dibanggakan oleh para anggotanya, ya para “senior” tadi. Sebagai anak yang tak jelas asal-usulnya, Mas Guru Bonang sulit untuk masuk ke wilayah mereka. Untuk itu, Mas Guru Bonang bikin acara yang nantinya mau gak mau mereka ikut di dalamnya, karena para “senior” itu diminta tenaga dan pikirannya menjadi juri pada sebuah lomba baca geguritan. Apalagi ada embel-embel tingkat SLTP dan SLTA, tentu para “senior” yang rata-rata juga punggawa di dinas pendidikan itu harus terlibat. Kejadian itu pada awal tahun 2000-an.
Mengapa bikin repot? Menurut info dan pengalaman para sastrawan di Wonogiri, yang namanya lomba baca geguritan itu kurang ngetren, tidak banyak peminatnya. Mendapat peserta 30 orang saja merupakan suatu prestasi yang membanggakan. Tetapi....ternyata pesertanya hampir 200 orang. Untuk itu para “senior” kelabakan. Mereka mengoling teman-temannya agar mau membantu menjadi juri. Acara yang sedianya dimulai pukul 8.00 WIB mundur hingga pukuh 12.00 WIB. Untung saja yang dikoling datang. Mungkin karena merasa sama-sama anggota Dinamit. Akhirnya peserta dibagi beberapa kelompok supaya pelaksaannya cepat selesai.
Berkat kejadian itu Mas Guru Bonang bisa berkenalan dan ngobrol langsung dengan para “senior” seperti Pak Roeswardiyatmo, Pak Siswanto, Pak Setyoko, Pak Sigit, Mas Budi Wahyono, Pak Suharno Prihutomo, Mas Didit Setyonugroho, Mas Sri Sugiyanto, dan lain-lain.
Waktu-waktu berikutnya, sering diadakan sarasehan budaya. Dan Mas Guru Bonang sebagai anak ragil selalu diajak dalam acara tersebut. Namun, mereka selalu berjalan di tempat. Mereka masih asyik bernostalgia dengan ‘kebesaran” Dinamit. Setiap pembicaraan arahnya pasti ke sana. Setiap rencana kiblatnya pasti ke sana. Entah hingga kapan.
Sekali waktu Mas Guru Bonang diskusi dengan Pak Roeswardiyatmo dan Mas Didit Setyonugroho. Pada kesempatan itu Pak Roeswardiyatmo pernah mengolok-olok Mas Guru Bonang. Katanya, sastrawan kok rapi, bersih (tanpa ganteng tentunya). Dia lalu bercerita tentang dirinya yang ketika sudah diangkat menjadi guru negeri pun rambutnya tetap gondrong. Bajunya juga tidak rapi.
Padahal, ketika Mas Guru Bonang menjadi guru, dan saat itu Pak Roeswardiyatmo menjadi kepala dinas, Pak Roeswardiytamo selalu berpakaian rapi dan necis. Mungkin karena jabatannya yang mengharuskan memotong rambutnya yang gondrong. Seandainya saja Pak Kepala Dinas masih berambut gondrong, tentu Mas Guru Bonang senang. Sebab sebelum berkecimpung di dunia pendidikan rambutnya juga gondrong, bahkan wajahnya juga acak-adul tidak ganteng.
Wonogiri, 200715

0 Response to "Budaya - GANTENG"
Post a Comment