Budaya - KITA MISKIN
Sunday, 20 May 2018
Add Comment
![]() |
| Budaya - KITA MISKIN |
KITA MISKIN
Oleh: Parpal PoerwantoTAMAN TEMBANG DAN SASTRA – BUDAYA – Indonesia semakin miskin. Demikian paling tidak beberapa status di media sosial. Rakyat semakin sengsara, komen sebagian lain. Kita miskin? Sengsara? Mungkin anggapan dan kenyataan itu benar adanya. Banyak kaum marginal yang selama ini tidak tersentuh “kemakmuran” atau mendapatkan kue pembangunan (pinjam istilahnya Cak Nun).
Baru saja Mas Guru Bonang buka bersama (bukber) dengan sesama anggota Wandik di sebuah rumah makan. Kebetulan kami harus duduk di meja nomor 64 dan 65. Tiap-tiap meja ada sepuluh kursi. Deretan sebelah selatan masih ada lima meja lagi yang juga penuh semuanya. Jika dihitung kira-kira pengunjungnya ada 700-an orang. Itu yang sudah ngantri, belum giliran berikutnya.
Semua yang datang pasti membawa kendaraan, baik roda dua maupun tiga, eh empat maksudnya. Duduk di sebelah Mas Guru Bonang adalah tetangganya. Salah satu anggota keluarga itu adalah mantan siswanya yang kini sudah duduk di bangku SMP.
Mas Guru Bonang sempat tercenung, dipikirnya acara bukber tidak seramai itu. Pastinya mereka (termasuk kami) punya duit alias tidak miskin. Kalau miskin pasti tidak datang ke tempat itu. Lalu siapa yang miskin?
Tetangga Mas Guru Bonang rata-rata punya lebih dari satu sepeda motor. Juga banyak yang memiliki kendaraan roda empat. Sekali lagi, siapa yang miskin? Yang miskin adalah jiwa-jiwa yang tidak pernah puas. Jiwa-jiwa yang tidak pernah bersyukur. Jiwa-jiwa yang selalu mencari kesalahan tanpa memberi solusi. Jiwa-jiwa yang haus kekuasaan dengan segala topeng di wajahnya. Jiwa-jiwa pendendam yang mengatasnamakan kemanusiaan. Jiwa-jiwa kerdil yang mengatasnamakan membela Tuhan. Padahal, sekali lagi menurut Cak Nun, Tuhan itu tidak perlu dibela karena Tuhan adalah Maha Segalanya.
Wonogiri, 29-06-2015

0 Response to "Budaya - KITA MISKIN"
Post a Comment