Budaya - HARI GINI
Wednesday, 9 May 2018
Add Comment
![]() |
| Budaya - HARI GINI |
HARI GINI
Oleh: Parpal PoerwantoTAMAN TEMBANG DAN SASTRA – BUDAYA – Ketika kita, sebagai orang tua memberikan contoh kepada anak-anak tentang bagaimana susahnya kehidupan kita di masa lalu, tentunya ya kurang pas. Misalnya saja, ketika Mas Guru Bonang masih duduk di sekolah dasar yang saban hari tidak pernah bawa uang saku. Pasti anak-anaknya menjawab, “Hari gini tanpa uang saku...?”
Padahal itu hanya salah satu sisi. Ketika SMP, Mas Guru Bonang cukup jalan kaki. Jarak dari rumah ke sekolah enam kilometer. Berarti pulang-pergi sejauh 12 kilometer. Belum lagi jika hari itu ada pelajaran Keterampilan Khusus dan Keterampilan Terikat. Apabila ada mata pelajaran itu, sehari bisa pulang-balik sejauh 24 kilometer karena pelajaran itu diadakan pada pagi hari sedangkan kegiatan pembelajaran pada siang-sore hari. Maklum, sekolah partikelir.
Lebih “sengsara” lagi ketika itu ada pembangunan sekolah baru yaitu sebuah SD dan satunya lagi SMP. Praktis Mas Guru Bonang dan teman-teman masuk pagi sore. Paginya ikut kerja bakti meratakan lahan untuk lokasi sekolah hingga membuat pondasi. Pekerjaan itu berlangsung berbulan-bulan. Tentunya tidak boleh izin. Ada seorang anak yang benar-benar sakit, bapaknya harus menggantikan ikut kerja bakti menggusur lahan sekolah itu.
Akan tetapi jika zaman sekarang masih ada anak bangsa ini yang harus berjuang keras bahkan bertaruh nyawa seperti yang ditulis Brilio.net yaitu seorang anak bernama Abdul Hafit Minggele (10). Ia tinggal di sebuah pulau kecil di Alor, NTT. Setiap hari ia bergelut menyeberangi lautan selama dua jam untuk menuju sekolahnya. Berarti pergi pulang selama 4 jam di laut. Hafit adalah anak yang memiliki keberanian besar untuk meraih masa depannya. Semoga cita-citanya untuk menjadi polisi dikabulkan oleh Tuhan.
Sebenarnya, anak seperti Hafit yang sudah terbiasa mengalami kesulitan hidup pasti lebih tahan banting, lebih matang. Tidak mudah menyerah. Segala sesuatu akan dihadapi dengan tenang dan sabar. Namun, siapa yang ingin kondisi anaknya seperti Hafit? Tentu tidak bukan?
Sebaliknya, pada anak-anak kita yang sudah terbiasa dimanjakan oleh keadaan, kita sebagai orang tua juga tidak boleh lengah. Jangan sampai anak-anak kita menjadi manusia yang tidak tahan banting, mudah menyerah. Untuk itu orang tua bisa memberikan contoh kepada mereka tentang kisah-kisah perjuangan hidup seperti Hafit dan sejuta anak negeri yang kurang beruntung oleh keadaan. Apabila yang dijadikan contoh adalah realita kehidupan anak-anak seusianya tentu anak-anak kita tidak akan berkata, “Hari gini....”
Wonogiri, 310715

0 Response to "Budaya - HARI GINI"
Post a Comment