Budaya - BANGGA
Thursday, 10 May 2018
Add Comment
![]() |
| Budaya - BANGGA |
BANGGA
Oleh: Parpal PoerwantoTAMAN TEMBANG DAN SASTRA – BUDAYA – Hari menjelang petang. Udara dingin angin kemarau, badan lengket habis keringatan. Mas Guru Bonang membersihkan diri di kamar mandi ketika dua mahasiswa putri UNS bertandang, Sabtu (13/6). Memang mereka sudah komunikasi sebelumnya, tetapi saat itu Mas Guru Bonang mengira bahwa mahasiswa itu membatalkan diri. Sebab hari sudah menjelang petang.
Sebelumnya, mereka sudah membuat janji pada Kamis (11/6), tetapi mendadak batal karena ada tugas mendadak pula yaitu mahasiswa putri itu mendapat tugas menjadi pengiring (pager ayu) pada pernikahan Gibran, putra Presiden Jokowi.
Melihat dua mahasiswa yang semringah, perasaan Mas Guru Bonang bangga. Ternyata di jaman yang serba wah dan modern ini masih ada tunas-tunas bangsa yang cinta budayanya sendiri. Mereka adalah mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa Jawa dari universitas terkemuka di Solo.
Pertemuan petang itu memang wawancara khusus untuk bahan skripsi. Sedangkan sebagai bahan penelitian adalah enam cerkak (cerpen) yang termuat di Antologi Cerkak Aku, Dasamuka, lan Sengkuni karya Mas Guru Bonang. Berarti topik pembicaraan (wawancara) ya seputar keenam cerkak itu. Jujur, meskipun itu karyanya, Mas Guru Bonang harus memutar ingatan tentang tema serta isi pesan yang harus disampaikan dari masing-masing cerkak, sesuai dengan pertanyaan. Emm....maklum, Mas Guru Bonang yang sudah mulai uzur agak susah payah untuk segera bisa menemukan jawaban sesuai yang diinginkan oleh mahasiswa yang berasal dari Jawa Timur itu.
Selesai wawancara yang direkam dengan media HP-canggih, Mas Guru Bonang bermaksud untuk ngobrol mengapa yang dijadikan sumber atau bahan skripsi adalah cerkak-cerkaknya. Namun, salah satu teman dari mahasiswa itu juga menyatakan ingin wawancara juga untuk bahan skripsinya. Dia mengeluarkan copy-an cerkak yang dimuat di sebuah koran lokal. Copy-an sebanyak sembilan lembar itu sudah berpindah ke tangan Mas Guru Bonang. Mas Guru Bonang segera mengamati copy-an itu. Ternyata isinya enam judul cerkak. “Ini bukan karya saya mengapa harus saya yang diwawancarai?” tanya Mas Guru Bonang. Pertanyaan itu dijawab oleh mahasiswa karena atas rekomendasi dosen pembimbingnya. Atas saran dosen pembimbing itu Mas Guru Bonang dijadikan nara sumber dengan kafasitas sebagai ahli sastra.
“Ahli sastra?” demikian Mas Guru Bonang mengulang kata-kata itu dalam hati. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ahli adalah orang yang mahir, paham sekali dalam suatu ilmu. Tentu dalam hal ini adalah ilmu sastra. Banggakah Mas Guru Bonang dengan “predikat” itu? Mungkin ada! Namun, Mas Guru Bonang lebih bangga kepada dua mahasiswa itu karena masih mencintai budayanya sendiri itu. “Semoga ilmumu benar-benar berguna bagi kehidupan berbangsa dan bernegara, sehingga kehidupan negeri ini tidak kehilangan jati dirinya. Aku bangga kepada kalian berdua!”
Wonogiri, 19-06-2015

0 Response to "Budaya - BANGGA"
Post a Comment