Budaya - DARI ANAK MUDA
Friday, 11 May 2018
Add Comment
![]() |
| Budaya - DARI ANAK MUDA |
DARI ANAK MUDA
Parpal PoerwantoTAMAN TEMBANG DAN SASTRA – BUDAYA – Belum lama ini Mas Guru Bonang berkenalan dengan seseorang, tepatnya dia adalah suami mitra kerja Mas Guru Bonang. Lelaki muda yang berpenampilan kalem itu ternyata banyak juga omongannya. Mas Guru Bonang yang memang gagap bicara, hanya sebagai kenong di saat jeda dia bercerita atau menjadi gong ketika satu bahan omongan usai.
Lelaki muda yang lulusan Sarjana Teknik dari universitas terkemuka di Jogja itu kini berkecimpung di dunia sosial. Umurnya kira-kira baru 25 tahunan.
Awalnya dia bercerita mengenai pekerjaannya yang jauh 180 derajat dari latar belakang pendidikannya. Kemudian berganti dengan kehidupan keluarganya dengan tradisi pesantrennya. Dia pun ternyata alumni pesantren terkemukan di Jawa Timur. Namun tak kelihatan sedikitpun bahwa dia itu adalah lulusan pesantren.
Dia lalu meneruskan omongannya tentang kehidupannya yang dianggapnya penuh warna. Selama kuliah, uang kiriman orang tuanya selalu ditabung karena dia sendiri bisa mencari uang untuk biaya kuliah dan kebutuhan sehari-hari di Jogja. Jangan dikira pekerjaannya itu mapan. Dalam mencari penghasilan dia bergaul dengan kaum pinggiran, seperti pengamen, tukang pengumpul barang bekas, dan bahkan pengemis di pinggir jalan.
Menurutnya, kehidupan nyata dengan solidaritas tinggi dia dapatkan ketika bergaul hidup dengan kaum marginal itu. Dan itu tidak ia dapatkan ketika di pesantren. Di pesantren santrinya lebih individual, kurang rasa simpati apalagi empati. Bahkan “kejailan-kejailan” para santri yang sering terjadi. Padahal sebenarnya kejailan itu tentunya bukan ajaran Islam itu sendiri, itu pekerjaan kaum jahiliyah.
Kadang-kadang orang memaknai beragama (Islam) hanya dari unsur-unsur kulitnya saja tetapi tidak dengan realita kehidupan sehari-hari. Orang yang rajin ibadah, rajin sedekah, rajin berkutbah, tetapi juga rajin menebar provokasi, menebar kebencian, menebar perpecahan dan sebagainya. Sehingga umat dibikin bingung, saling curiga, saling membenci, saling mengklaim dirinya paling benar, dan hidupnya tidak tenang. Apa yang demikian itu yang disebut orang beragama? Itu karena kita bangga dengan identitas kita, bukan realitas kita, bukan?
Syaikh Muhamad Abduh, ulama besar dari Mesir suatu ketika melawat ke Perancis dan beliau berkomentar, “Saya tidak melihat Muslim di sini, tapi merasakan (nilai-nilai) Islam, sebaliknya di Mesir saya melihat begitu banyak Muslim, tapi hampir tak melihat Islam”.
Apa yang disampaikan anak muda di atas sebenarnya tidak jauh beda dengan yang diungkapkan ulama besar Mesir itu. Nah, sebagai umat beragama (muslim) yang baik mari kita pahami nilai-nilai Islam dengan baik dan kita ejawantahkan dalam kehidupan sehari-hari agar kehidupan benar-benar islami.
Wonogiri, 240715

0 Response to "Budaya - DARI ANAK MUDA"
Post a Comment