-->

Cerita Wayang - MENDUNG BERGANTUNG DI BUMI MANDURA # 3

Cerita Wayang - MENDUNG BERGANTUNG DI BUMI MANDURA # 3
Cerita Wayang - MENDUNG BERGANTUNG DI BUMI MANDURA # 3

MENDUNG BERGANTUNG DI BUMI MANDURA

Bagian 3

Oleh: Parpal Poerwanto

TAMAN TEMBANG DAN SASTRACERITA WAYANG – Mendung kembali menutup bumi Mandura. Tidak dinyana bahwa permintaan Basu Wara Kangsa merupakan makar secara terang-terangan.

Ya, permintaan dibangunnya pasar di tapal batas itu mengisyaratkan bahwa telah hilangnya tapal batas itu sendiri. Jadi, antara Mandura dan Sengkapura merupakan satu wilayah yang kelak akan dikuasai Kangsa.

Apalagi keinginan kedua jelas bahwa di pasar tersebut akan diadakan adu jago. Jago bukan sembarang jago tetapi jago manusia dari Sengkapura dan Mandura. Taruhannya jelas menunjukkan bahwa Kangsa benar-benar menghendaki Mandura jatuh di tangannya.


Prabu Basudewa sangat bersedih. Keprihatinan itu diungkapkan kepada kedua adindanya.

“Bagaimana menyikapi permintaan Kangsa, dinda Harya Prabu?”
“Sebelumnya mohon maaf jika pendapat saya nanti kurang berkenan. Menurut hemat saya, jelas bahwa Kangsa menginginkan tahta kerajaan Mandura. Kita tahu siapa orang di balik Kangsa. Pasti Surati Mantra orangnya. Siapa jago kita yang sanggup mengalahkan Surati Mantra?” Harya Prabu balik bertanya.

“Biarlah saya yang menghadapi Surati Mantra, Kanda,” hatur Harya Ugrasena.
“Apa sudah dipikir masak-masak Dinda Ugrasena? Semua orang tahu bahwa Surati Mantra itu sakti mandra guna. Pilih tanding.”
“Apapun yang terjadi, saya sanggup menjadi tumbal negara Mandura karena itu adalah warisan leluhurku, tanah kelahiranku.”

“Baiklah jika itu sudah menjadi tekadmu, saya merestui. Namun, masih ada rasa curiga bagi saya. Mengapa adu jago itu diadakan di pasar baru, itu pasti punya maksud tertentu.”
“Mungkin benar apa yang Kanda Prabu katakan. Namun, biarlah sebab saya yakin bisa mengatasi Surati Mantra,” kata Raden Ugrasena mantap.

Belum selesai bertiga membicarakan masalah itu, tibalah Kangsa menghadap Prabu Basudewa.

“Sepertinya terburu-buru. Apa pembangunan pasar sudah selesai, Kangsa?”
“Wah, itu yang akan saya sampaikan, Rama. Namun sebelumnya terimalah sembah sungkem putra Sengkapura Rama Prabu, Paman Harya Prabu, dan Paman Ugrasena.”
“Iya, sembah sungkemmu sudah saya terima. Segeralah kamu utarakan maksud kedatanganmu!”
“Rama Prabu, pasar sudah selesai dibangun.”
“Apa adu jago segera dimulai, Kangsa?” tanya Raden Ugrasena.

“Hua ha ha ha....Paman Ugrasena sepertinya sudah tidak sabar. Ingat Paman, sampean itu sudah tua. Lebih baik mundur saja. Sebab Paman Surati Mantra itu bukan lawan sembarangan.”
“Jaga mulutmu Kangsa. Walaupun aku sudah tua, tidak akan mundur menghadapi seribu Surati Mantra....”
“Hua hahaha... hemmm...Kangsa sangat kagum kepada Paman Ugrasena. Namun bukan itu yang akan saya sampaikan kepada Rama Prabu.”

“Berarti adu jago itu diurungkan? Begitu maksudmu?” tanya Rade Ugrasena.
“Wah...jangan salah paham Paman. Tentang adu jago tetap berjalan tetapi menunggu jadwal yang tepat.”
“Lalu apa maksudmu?” tanya Raden Ugrasena kembali.
“Maaf Paman, aku tidak bicara kepada Paman tetapi akan berbicara kepada Rama Prabu.”

“Baiklah Kangsa, segeralah bicara!” perintah Prabu Basudewa.
“Rama Prabu, Kangsa sudah dewasa. Sudah saatnya punya pendamping. Kangsa mohon pada Rama untuk melamarkan putri idaman Kangsa.”
“Weladalah....apa ini termasuk salah satu persyaratan itu?”
“Betul Rama. Untuk itu sudilah kiranya Rama Prabu berkenan melamarkan.”
“Baiklah putraku Kangsa. Lantas putri mana yang telah menawan hatimu?”
“Wah hanya anak kampung saja Rama. Itu anak Demang Sagopa, si Rara Ireng.”

Bagai disambar halilintar dada Prabu Basudewa mendengar permintaan Basu Wara Kangsa. Langit yang kelam bertambah pekat, tebal. (BERSAMBUNG KE BAGIAN 4).

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Cerita Wayang - MENDUNG BERGANTUNG DI BUMI MANDURA # 3"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel