-->

Novel - SUKA DUKA DALAM RUMAH TANGGA # BIOGRAFI EKO HARTONO

Novel - SUKA DUKA DALAM RUMAH TANGGA # BIOGRAFI EKO HARTONO
Novel - SUKA DUKA DALAM RUMAH TANGGA # BIOGRAFI EKO HARTONO
TAMAN TEMBANG DAN SASTRANOVELSahabat Taman Tembang dan Sastra, berjumpa kembali dengan Taman Novel. Kali ini disajikan sebuah biografi yaitu KURSI RODA SANG PENGARANG bagian 12. Selamat membaca.  

SUKA DUKA DALAM RUMAH TANGGA

Bagian 12

Oleh: Parpal Poerwanto

Setiap manusia normal pasti mempunyai keinginan untuk membangun keluarga. Karena, dengan terbangunnya keluarga maka akan terjalin ikatan batin yang saling mengisi, menerima, dan memberi. Keluarga adalah tumpuan untuk menumpahkan segala cinta kasih antaranggotanya. Keluarga dibangun atas dasar saling membutuhkan. Saling pengertian. Namun demikian, sebuah keluarga tidak mungkin memiliki perjalanan mulus. Suatu saat pasti memiliki riak-riak yang jika tidak bisa diatasi akan membuat keretaan dalam keluarga tersebut. Akan tetapi, jika riak-riak itu dapat diatasi maka akan membuahkan hasil yang manis. Begitu juga dengan kehidupan rumah tanggaku yang kini telah dikaruniai anak laki-laki kembar yang manis-manis.

Mengasuh dua anak sekaligus memang cukup repot dan melelahkan istriku. Apalagi aku tidak bisa ikut membantu. Dengan sabar dan tabah istriku merawat anak-anak. Anak-anak yang membutuhkan perhatian dan perlakuan selama dua puluh empat jam penuh.


Anak kembar memang unik. Jika salah satunya menangis, satunya juga ikut menangis. Bukan hanya itu, dalam urusan buang air saja sering bersamaan. Belum lagi urusan menyuapi makan dan memberi ASI. Beruntung sekali aku beristrikan Parmi. Ia tidak pernah mengeluh. Kesabaran dan ketabahannya tiada dua. Selain mengurus anak-anak, istri juga mengurus pekerjaan rumah tangga lainnya seperti memasak dan mencuci. Untunglah, ada ibuku yang ikut merawat dan menjaga anak-anakku ketika istriku bekerja di dapur atau mencuci.

Pada saat anak-anakku lahir, krisis ekonomi belum terjadi. Biaya persalinan dan membeli susu masih cukup ringan. Kedua anakku memang diteteki istriku sampai usia dua tahun, tetapi karena ASI-nya harus dibagi dua maka sesekali diselingi dengan susu formula.

Keadaan mulai semakin memburuk ketika krisis moneter (krismon) mulai terjadi pada tahun 1997 dan 1998. Apalagi pada saat itu ayahku juga sudah pensiun dari jabatan kepala desa. Kami memang keluarga besar. Jadi, untuk kebutuhan sehari-hari juga besar. Jika hanya mengandalkan gaji pensiun ayah dan ditambah penghasilanku sebagai pengaran tidak mungkin cukup. Untuk itu, ayahku akhirnya juga memutuskan bekerja di Jakarta, didampingi oleh ibuku. Salah satu anakku diajak oleh ibuku. Praktis aku kemudian harus hidup mandiri di rumah bersama istri, anakku yang satu, dan adik laki-lakiku. Adik-adikku yang lain juga merantau ke Jakarta tetapi bekerja di tempat yang berbeda-beda.

Selama hidup terpisah dari orang tua, aku dan istriku berusaha memenuhi kebutuhan sendiri. Dari tahun 1999 hingga tahun 2001, aku dan istriku bahu membahu mengarungi bahtera rumah tangga. Karena penghasilanku sebagai pengarang tak tentu, istriku lalu mencoba berjualan pakaian ex-impor di rumah. Kebetulan ada saudaranya yang menawari. Dia yang punya barang dan kami yang memasarkan. Kami tidak perlu harus berkeliling, cukup memajang baju-baju dan celana bekas dari luar negeri itu di depan rumah. Meski hanya bekas, tetapi kondisinya masih bagus. Harganya juga cukup murah. Awal-awal berjualan cukup lumayan hasilnya.

Akan tetapi, hal itu tak berlangsung lama, hanya bertahan selama dua tahun. Penyebabnya karena saudaraku yang memasok barang tak memiliki cukup modal, sehingga tidak bisa mendatangkan barang-barang ‘baru’. Sedangkan diriku sendiri juga tidak punya modal untuk tidak bergantung kepada saudaraku itu. Di lain pihak beberapa pedagang pakaian ex-impor dengan sistem keliling juga mulai menjamur. Ya, itulah orang kita. Setiap ada orang lain sukses dalam bidang tertentu, maka banyak yang ingin sukses dalam bidang yang sama.

Ketika pasar pakaian ex-impor sudah jenuh, istriku berhenti berjualan. Dia lalu banting setir menjadi penjaja makanan kecil. Dia membuat makanan gorengan yang dijual dari rumah ke rumah. Usaha ini sangat menyita waktu. Istriku selalu bangun pada pukul dua malam untuk membuat dagangan. Dilanjutkan dengan memasak, mencuci, mengurus anak, mengurus aku dan adikku. Setelah semuanya beres, barulah ia menjajakan makanan kecil itu.

Keadaan saat itu setelah krismon memang cukup berat. Harga barang-barang melambung tinggi. Kegiatan gali lubang tutup lubang pun dilakoni. Kami harus pandai-pandai mengatur ekonomi. Penghasilan yang kecil, sementara memenuhi kebutuhan hidup semakin berat karena harga barang-barang mahal. Kami terpaksa harus pinjam sana, pinjam sini. Tak terasa hutang pun menjadi menumpuk banyak. Kami bahkan sempat menggadaikan barang-barang berharga di rumah untuk menyambung hidup. Itu menjadi alternatif terakhir karena kami sudah buntu mencari hutangan.

Aku pernah menggadaikan mesin ketik, barang yang menjadi modal hidupku selama ini dalam menjalani kegiatan mengarang sebelum memiliki komputer. Sangat ironis bukan? Bagi seorang pengarang, mesin ketika adalah senjata utama. Mesin ketik bagaikan pacul bagi petani. Jika petani tidak memiliki pacul lalu apa yang dapat ia kerjakan? Sejak mesin ketik kugadaikan, praktis kebutuhan keluarga bergantung pada istri. Dialah yang harus banting tulang mencari nafkah. Itu semua memang sudah menjadi kesepakatan kami berdua. Jadi istri ikhlas menjalaninya tanpa mengeluh. Padahal setiap hari tenaga istriku sangat terkuras. Selain mencari nafkah, ia harus merawat aku, anakku, dan adikku yang menderita tuna daksa seperti aku.

Aku sempat mengalami masa-masa berat karena dilanda resesi ekonomi rumah tangga. Beberapa bulan tidak ada pemasukan, karena tidak ada satu tulisan pun yang dimuat. Aku memang jarang mengetahui saat tulisanku dimuat di media, karena kurangnya akses dan anggaran yang terbatas untuk membeli majalah atau koran. Untunglah, belum ada satu bulan mesin ketik bisa kutebus.

Aku tidak ingat persis dengan uang dari honor tulisan apa mesin ketik itu bisa kutebus. Namun yang jelas dari honor cerpen, karena aku waktu banyak mengirim naskah cerpen dibandingkan naskah-naskah lainnya. Aku mulai menulis lagi dengan harapan untuk mengejar target agar hari-hari berikutnya banyak naskah yang dimuat di media. Semangatku berkobar karena aku tidak ingin melihat istriku banting tulang untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga.

Sebenarnya peristiwa sulit khususnya masalah ekonomi keluarga sering aku hadapi. Akan tetapi di balik himpitan itu sering datang pula kejutan-kejutan pertolongan Tuhan. Satu lagi ada peristiwa berkesan yang tak bisa kulupakan. Saat itu kami tidak memiliki uang sepersen pun. Penghasilan istri hanya cukup untuk membeli beras dan lauk ala kadarnya. Susu formula untuk si kecil pun sudah habis.  Sementara kami memiliki hutang yang cukup besar dan harus segera dilunasi karena pinjaman di kelompok arisan.

Istriku sampai bingung harus cari pinjaman ke mana lagi, karena di mana-mana sudah punya hutang. Mau minta orang tua tidak enak, karena keadaan orang tua juga pas-pasan. Aku hanya bisa berdoa. Nasi yang sudah disiapkan istri pun tak aku sentuh. Rasanya mulut ini susah untuk digerakkan apalagi mengunyah. Perasaan sangat kelu. Kulihat istriku juga duduk dipojok kursi sambil memangku anak. Pandangannya kosong. Aku tidak berani bertanya apalagi mengganggunya.

Pada saat krisis itu, tiba-tiba datang wesel pos dari sebuah majalah yang nominalnya lumayan banyak untuk ukuranku. Alhamdulillah, dengan honor tersebut bisa untuk melunasi hutang di kelompok arisan itu serta bisa untuk membeli persediaan besar sekitar satu bulan.

Kejutan-kejutan semacam itu sebenar sering kuhadapi. Sebenarnya masih ada kejutan lain yang lebih mengenang dan akan kuceritakan pada bab berikutnya.

Begitulah hidup kujalani dengan apa adanya. Modalku hanya keyakinan, ketabahan, saling pengertian dengan istri, dan tentunya rajin menulis. Aku tidak khawatir bahwa anak-istriku kelaparan jika masih tertanam kemauan di dalam diriku dan diri istriku. Kekuatan cinta kami memang menjadi modal utama. Sebuah ikatan yang isya Allah aku jaga dan pertahankan sampai akhir hayatku. Ikatan yang membuat diri kami merasa ada yang hilang jika salah satu dari kami pergi meninggalkan.


Aku tidak henti-hentinya bersyukur atas nikmat yang diberikan Tuhan kepadaku, terutama istriku yang baik diri dan mengerti keadaanku. Istri yang tidak banyak menuntut bahkan bisa berperan sebagai pencari nafkah ketika ekonomi keluarga dalam kondisi terpuruk. Aku juga bersyukur Tuhan telah memberi “senjata” pada diriku yakni kemampuanku untuk menuangkan ide sehingga menjadi karangan yang mampu menembus meja redaksi. Harapanku semoga pekerjaanku lancar-lancar saja. Yang penting aku sudah berusaha dan berdoa, tentang hasil Tuhan penentunya.

Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi seri berikutnya.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Novel - SUKA DUKA DALAM RUMAH TANGGA # BIOGRAFI EKO HARTONO"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel