-->

Cerpen - SEGUMPAL AWAN DI TANGAN PINKAN # CERNAK

Cerpen - SEGUMPAL AWAN DI TANGAN PINKAN # CERNAK
Cerpen - SEGUMPAL AWAN DI TANGAN PINKAN # CERNAK
TAMAN TEMBANG DAN SASTRACERPENSahabat Taman Tembang dan Sastra, selamat berjumpa kembali dengan taman CERPEN. Edisi kali ini disajikan cerita anak berjudul  Segumpal Awan di Tangan Pinkan dari kumpulan cerita anak Segumpal Awan di Tangan Pinkan karya Didit Setyo Nugroho. Selengkapnya adalah sebagai berikut.

SEGUMPAL AWAN DI TANGAN PINKAN


Di traffic light gadis kecil itu masih menunggu setiap mobil yang berhenti. Dengan langkah kecil ia menawarkan dagangan arum manis di tangannya. Dia jinjing bergumpal arum manis dalam plastik bening itu seperti segumpal awan yang terjebak dalam labirin transparan.
“Kenapa lebih memilih menjual arum manis?” tanyaku iseng dari balik kaca jendela mobil saat berhenti.

Gadis kecil itu menatapku sejenak. Mata jernihnya berkejap seperti mencoba menemukan jawaban yang terbaik.
“Agar aku dapat berbagi keharuman dan kemanisan hidup pada orang lain,” jawabnya kemudian.  Kalimatnya begitu menarik dan enak ditelingaku. Dalam hati aku berfikir, siapa yang mengajari gadis kecil itu.
“Apakah kamu sudah begitu banyak memiliki keharuman dan kemanisan dalam hidup hingga kamu bagi-bagikan kepada orang lain?” tanyaku penasaran ingin mengetahui sejauh mana gadis kecil itu memahami kehidupan.
“Apakah ketika kita memberi harus memiliki? Tanyanya balik sehingga membuatku semakin penasan. Bundar  matanya  masih cerdas menatap.

“Meski baru sekedar impian aku berharap memilikinya. Dan cara cepat untuk mendapatkan itu adalah saat kita membaginya dengan orang lain, itu kata ibuku.” Lanjut gadis kecil itu setelah menunggu begitu lama aku tidak mampu mejawab.
Sebelum aku memberi komentar lampu traffic light sudah berubah jadi hijau. Aku melambaikan tangan dan gadis kecil itu membalas dengan mengangkat tinggi-tinggi gumpalan arumanis di tangannya. Mata jernih, bibir, muka semuanya tersenyum dalam ketulusan.

Sampai di rumah aku masih berfikir tentang gadis kecil dengan segumpal awan di traffic light. Binar matanya, senyumnya, muka ovalnya. Mengapa orangtuanya merelakan gadisnya di jalanan bersama preman dan pengamen? Apakah orangtuanya tidak pernah memperhitungkan akibat dari pergaulan gadis kecilnya.  Meski bukan saudaraku aku semakin penasaran dengan orangtuanya. Apakah ibunya seorang dengan karakter yang kejam yang tega membiarkan anaknya berkeliaran dijalan.

Hampir setiap sore aku keluar melewati traffic light di mana gadis kecil itu menjajakan arum manisnya. Biasanya ia menyapa dengan senyum atau lambaian tangan kecilnya yang bergelantungan arum manis yang bergoyang ketika dia mengangkatnya.


Tetapi sudah tiga hari berturut-turut gadis kecil itu tidak saya jumpai lagi di traffic light. Sakitkah? Atau dia sudah tidak lagi berjualan? Atau barangkali….diculik? bulu kudukku meremang. Begitu banyak berita peristiwa penculikan yang ditayangkan di televisi.

Karena rasa penasaranku aku minta Pak Marno sopir Papah untuk mengetahui tentang gadis kecil itu. Meski agak merinding aku mendatangi anak-anak punk yang     nongkrong     disitu     mereka      merubung dan memperdengarkan musiknya ketika mobil yang aku tumpangi berhenti. Aku turun dari mobil sambil memberi mereka uang kecil. Dengan agak berdebar aku menannyakan pada salah satu dari mereka.

“Di mana teman kamu yang sering berjualan arumanis?” tanyaku
Mereka saling berpandangan, ”Maksud Lu, Pinkan?” tanya salah satu dari mereka
“Yang berkulit putih, berambut panjang?”
“Lha iya Pinkan...!” teriak mereka hampir bersamaan.
“Ya…ya Pinkan,” jawabku sok tahu
“Dia tidak keluar lagi.”
“Kenapa?” tanyaku tidak dapat menyembunyikan kecemasanku.

Beberapa dari mereka kulihat mengangkat bahunya.
“Apakah ada yang tahu  rumahnya?”
“Jalan ini lurus, perempatan terakhir belok kiri terus mentok belok kanan tiga rumah.”
“Lho itukan arah sungai?” tanyaku lagi
“Iya memang rumahnya dipinggir sungai”
“Ya..ya.. makasih ya” kataku melambai mereka dan berlalu dari situ.
Aku memberi informasi kepada Pak Marno. Kemudian perlahan mobil itu menyusur jalan becek perkampungan dan berhenti tepat disebuah rumah limasan paling ujung.

Dari rumah berdinding bambu yang sudah tidak utuh lagi melekat pintu kayu yang sama rapuhnya. Ketika aku mengetuk pintu dari dalam keluar muka tiris, pucat yang terkejut seakan tidak percaya dengan kehadiranku.
“Hey? Bagaimana kamu bisa sampai disini?”

Lalu aku ceritakan tentang kegelisahanku karena ketidakmunculannya di traffic light.
“Silakan masuk!” kata Pinkan,”Ini ibuku” katanya lagi memperkenalkan. Hatiku semakin terguncang ketika aku lihat seorang perempuan setengah baya yang disebutkan sebagai ibunya itu lumpuh tidak dapat berdiri. Bisanya hanya duduk dan membuat arumanis. Perempuan paruh baya itu mencoba beringsut saat Pinkan memperkenalkan.

“Ini temanku….” Pinkan berhenti sejenak,”Hey aku bahkan belum mengenal namamu kamu sudah datang kerumahku.”
“Aurel,” kataku pendek. Kurasa suaraku bergetar karena situasi yang aku hadapi. Pak Marno yang berdiri di belakangku kulihat wajahnya menyiratkan kepedihan. Kemudian Pinkan bercerita banyak kalau ia tidak keluar selama tiga hari karena merawat ibunya yang baru sakit.

Aku berlalu dari situ dengan perasaan bergolak. Sampai dirumah saat makan bersama aku berkata pada Mamah dan Papahku,”Pah, Mah bagaimana kalau ulang tahunku besok tidak usah dirayakan tetapi aku minta uang saja”
Papah dan Mamah saling berpandangan,”Akan kamu belikan apa uangnya?”
“Akan aku berikan pada Pinkan” lalu tanpa diminta aku bercerita banyak tentang Pinkan dan Ibunya yang lumpuh.

Kulihat dahi Papah berkerut. Berkali-kali mengambil napas dalam-dalam seakan ikut merasakan kehidupan berat ketika mendengar ceritaku.
“Biar Papah dan Mamah ikut mengantarmu,” kata Papah tiba-tiba sambil melihat pada Mamah dan kulihat Mamah mengangguk sambil tersenyum penuh pengertian.
“Terima kasih Pah, terima kasih Mah,”ucapku.
Kurasa hari ini hari yang paling cerah dalam hidupku ketika aku bisa memberi sesuatu yang berharga untuk sahabatku.

Sampai di rumah Pinkan aku terkejut ketika hanya menemukan rumah kosong tanpa ada yang menghuni. Ketika saya tanyakan pada tetangganya ternyata Ibu Pinkan sudah meninggal dan Pinkan telah dibawa oleh Pamannya untuk dirawat di Desa kelahiran ibunya. Serasa ada yang hilang dari bagian tubuhku. Tak terasa air mataku menetes. Air mata kepedihan yang tak dapat aku sembunyikan. Karena tidak akan aku temukan lagi gadis kecil dengan segumpal awan di tangannnya.

Wonogiri 2015

Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi kami, ya.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Cerpen - SEGUMPAL AWAN DI TANGAN PINKAN # CERNAK"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel