-->

Nove; - LAKON WAYANG # EMPU DALANG KI WARSINO - BIOGRAFI

Novel - LAKON WAYANG # EMPU DALANG KI WARSINO - BIOGRAFI
Novel - LAKON WAYANG # EMPU DALANG KI WARSINO - BIOGRAFI
TAMAN TEMBANG DAN SASTRANOVELSahabat Taman Tembang dan Sastra, berjumpa kembali dengan Taman Novel. Kali ini disajikan sebuah biografi yaitu Empu Dalang M. Ng. Warsino Guno Sukasno, yang ditulis oleh Parpal Poerwanto. Selamat membaca.  

LAKON WAYANG

Oleh: Parpal Poerwanto   

Sebagai seniman dalang, tentu kurang lengkap jika tidak mencoba membuat sebuah lakon wayang. Begitu juga aku. Hal ini bukan bermaksud untuk gagah-gagahan. Semua itu adalah suatu kepuasan hati yang tak ternilai harganya. Apalagi jika dalam suatu pagelaran lakon ciptaannya yang diminta untuk digelar. Rasanya lebih bahagia ketimbang menerima upah tanggapan.

Memang aku tidak banyak membuat lakon wayang. Terus terang hanya satu lakon wayang yang berhasil aku ciptakan. Aku memang tidak sehebat Narto Sabdo yang usianya cukup jauh di bawahku. Ia adalah seniman besar. Banyak gending, lagu dolanan, dan lakon-lakon carangan yang ia hasilkan.

Melalui proses yang panjang serta bantuan dari beberapa orang akhirnya aku berhasil membuat sebuah lakon carangan yang berjudul Wahyu Kastuba Urip. Untuk diketahui, dalam menyusun lakon ini aku banyak mendapat masukan dari para dalang terutama yang sepuh. Dari berbagai masukan itu aku catat kemudian aku coba kembangkan menjadi sebuah cerita dan akhirnya jadi. Mungkin jalan ceritanya tidak terlalu istimewa. Tapi aku merasa senang dan puas. Mungkin inilah yang disebut dengan wingka katon kencana. Namun siapa mau menghargai karya diri sendiri jika yang bersangkutan tidak mau mengharhainya?


Lakon Wahyu Kastuba Urip ini sering aku pentaskan di berbagai tempat. Tentunya dengan setengah promosi kepada orang yang menanggap bahwa aku punya sebuah lakon hasil buah pikiranku.

Berbeda dengan lakon wayang yang sering aku bawakan kebanyakan diambil dari Kisah Ramayana yang mana banyak menampilkan tokoh kera. Telah kuungkapkan bahwa aku mendapat julukan Dalang Kethek karena kemahiranku dalam sabet terutama pada adegan kethek (kera). Nah, lakon Wahyu Kastuba Urip ini merupakan lakon carangan yang berlatar belakang Mahabarata. Bukan tidak punya maksud jika aku membuat lakon wayang yang berlatar Mahabarata. Hal ini supaya yang menanggap tidak selalu memintaku membawakan lakon di Ramayana saja.

Lakon Wahyu Kastuba Urip merupakan sebuah cerita di mana Pandawa dan Korawa saling berlomba untuk mendapatkan sebuah wahyu yang diturunkan jawata sebagai bekal untuk memenangkan perang besar di antara keduanya. Jalan ceritanya mengambil celah sesudah Pandawa mengutus duta untuk meminta haknya kepada Korawa. Jadi, sebelum perang Baratayuda jaya binangun terjadi. 

Secara singkat ceritanya seperti berikut ini.

Dikisahkan, Pandawa menghilang entah ke mana perginya kecuali, Arjuna. Dalam kegelisahannya, Arjuna mendengar kabar bahwa jawata akan menurunkan wahyu di hutan Ngargapura. Untuk itu Arjuna segera pergi mengharap agar wahyu tersebut bisa jatuh ke dirinya sebagai bekal untuk berlaga di padang Kurusetra di mana perang agung antara Pandawa dan Korawa tidak lama lagi akan terjadi. Maka Arjuna segera memberikan tugas kepada putra-putra Pandawa untuk menjaga keselamatan Negara Amarta.

Kabar akan diturunkannya wahyu Kastuba Urip tersebar ke mana-mana, termasuk Negeri Astina. Mendengar bahwa jawata akan menurunkan wahyu di hutan Ngargapura, para Korawa tidak mau ketinggalan. Prabu Duryudana mengutus beberapa pembesar negara untuk mencari wahyu tersebut.

Maka berangkatlah para Korawa dipimpin oleh senapatinya, Adipati Basukarno. Mereka juga siap siaga membawa senjata Aneh memang, tujuan mencari wahyu bagaikan akan maju ke medan laga. Sementara di istana, Prabu Duryudana hanya ditemani beberapa ponggawa saja.

Tidak disangka, dalam keadaan para pembesar kerajaan tengah pergi, datanglah musuh yang ingin menguasai kerajaan. Musuh tersebut adalah Prabu Kala Wasesa dan Patihnya Kapi Andara. Maksud kedatangan itu sebenarnya untuk meminta agar Negara Astina dikembalikan kepada Pandawa. Atau setidak-tidaknya Pandawa diberi bagian separoh negara Astina. Maka terjadilah perang tanding. Ternyata Prabu Duryudana bukan lawan tangguh bagi Prabu Kala Wasesa. Dalam waktu yang tidak terlalu lama Prabu Duryudana berhasil diringkusnya. Begitu juga dengan para prajurit Astina. Mereka dengan mudah diatasi oleh Patih Kapi Andara. Semua tawanan perang itu selanjutnya dimasukkan ke dalam penjara.

Yang diceritakan sekarang adalah seorang ksatria yang tengah mengadakan perjalanan jauh guna mencari wahyu di hutan Ngargapura. Ksatria tersebut adalah Indra Tanaya. Orangnya tampan dan halus tutur bahasanya. Selain itu, ia juga sakti mandra guna.

Tersebutlah pada waktu itu Indra Tanaya telah memasuki hutan belantara. Tidak salah hutan tersebut adalah Ngargapura tempat di mana wahyu dewata yang bernama Wahyu Kastuba Urip akan turun dari langit. Maka bersamadilah sang ksatria tersebut. Setelah beberapa waktu lamanya bersamadi, ia didatangi dua raksasa. Raksasa yang besarnya hampir segunung itu bernama Salemba dan Bramangkara. Ternyata keduanya adalah penjaga Wahyu Kastuba Urip.

Setelah perdebatan sengit, maka terjadilah peperangan. Indra Tanaya dikerubut dua raksasa pengunggu wahyu tersebut. Ternyata Salemba dan Bramangkara merupakan raksasa yang sangat sakti. Sudah berkali-kali dapat dibunuh namun tetap bisa hidup kembali. Hampir putusasalah si Indra Tanaya. Untung saja ia segera mendapat akal. Ia keluarkan senjata pamungkas. Secara bersamaan kedua raksasa itu dipanahnya.

Tidak ampun lagi kedua raksasa itu terkena senjata Indra Tanaya. Seketika berubah wujud aslinya. Salemba berubah menjadi Batara Brama. Sedangkan Bramangkara kembali ke aslinya yaitu Batara Indra. Serta merta bersujudlah Indra Tanaya kepada kedua dewa tersebut.
Setelah sembah sujudnya diterima, Batara Brama menjelaskan kepada Indra Tanaya bahwa sudah saatnya Wahyu Kastuba Urip untuk segera dimiliki oleh seorang ksatria yang telah berhasil merubah wujud dirinya dan Batara Indra. Akan tetapi, wahyu tersebut tidak bisa dipegang oleh tangan. Untuk mengambilnya haruslah dipanah terlebih dahulu.

Sebelum menjalankan perintah itu, tidak lupa Indra Tanaya minta doa restu kepada kedua dewa tersebut. Setelah memberi restu, kemudian  kedua dewa tersebut kembali ke kahyangan. Mengenai bagaimana cara yang akan dilaksanakan dalam mengambil wahyu diserahkan sepenuhnya kepada Indra Tanaya.

Sepeninggal Batara Brama dan Batara Indra, Indra Tanaya segera menjalankan perintah seperti apa yang dikatakan Batara Brama. Maka, setelah mengheningkan cipta memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa, Indra Tanaya melepaskan anak panahnya. Sasaran pertama adalah daun dari pohon kastuba tersebut. Terkena panah, gugurlah daun dan berubahlah kepada wujud semula yaitu Jimat Kalimasada.


Indra Tanaya kembali mengarahkan anak panahnya. Kali ini yang menjadi bidikannya adalah buah dari pohon tersebut. Sasarannya tepat sekali. Buah kastuba terkena panah seketika kembali kepada asalnya, yaitu senjata Pulanggeni. Kini tinggal pohonnya saja yang masih berdiri tegak di tengah-tengah hutan Ngargapura. Indra Tanaya kembali mengheningkan cipta. Setelah menahan nafas, ia melepaskan anak panahnya. Sasarannya kembali menemui sasaran. Batang pohon itu tertembus anak panah seketika berubah menjadi gada Rujakpolo. Ketiga senjata itu adalah milik para Pandawa. Maka dengan tenangnya Indra Tanaya melangkah bermaksud akan pulang. Akan tetapi, sebelum  melangkahkan kakinya, ia sudah dihadang para Korawa yang dipimpin oleh Adipati Basukarno. Para Korawa hendak meminta dengan paksa wahyu yang telah didapat Indra Tanaya. Maka terjadilah peperangan. Akan tetapi, Indra Tanaya terlalu tangguh bagi para Korawa. Barisan Korawa lari tunggang langgang. Mereka lari kembali ke Astinapura.

Sekarang lain yang dibicarakan. Waktu itu Prabu Kala Wasesa dan patihnya, Kapi  Andara tengah bertemu Indra Tanaya di perjalanan. Maka terjadilah dialog. Prabu Kala Wasesa tahu bahwa senjata Pandawa berupa Jimat Kalimasada, Pulanggeni, dan Rujakpolo berada di tangan seorang ksatria merasa was-was. Prabu Kala Wasesa tahu bahwa senjata itu milik para Pandawa yang sekarang telah dibelanya. Tanpa senjata itu, sangat tidak mungkin Pandawa menang bila sampai terjadi perang baratayuda jayabinangun melawan Korawa. Maka, dengan nada halus dan sabar Prabu Kala Wasesa meminta agar Indra Tanaya mau dijadikan anak angkat.

Kemudian Indra Tanaya bertanya apa maksudnya semua itu. Oleh Prabu Kala Wasesa dijawab bahwa semua itu ia lakukan karena ingin berdarma bakti kepada Pandawa. Bahkan Prabu Kala Wasesa juga menerangkan bahwa dirinya telah berhasil menawan Prabu Duryudana dan para prajuritnya. Menurut Prabu Kala Wasesa, saat inilah para Pandawa akan menerima haknya yaitu Negara Astinapura. Akan tetapi rupanya Indra Tanaya tidak berkenan di hati. Bahkan secara tegas ia menyatakan bahwa para Pandawa tentu tidak akan menerima pemberian orang lain meskipun itu sebenarnya haknya. Para Pandawa hanya mau menerima haknya jika telah keluar keringat atau bahkan jika perlu darah atau nyawa taruhannya. Karena tidak bertemu faham maka terjadilah pertengkaran.

Patih Kapi Andara menantang Indra Tanaya. Kera kecil itu melancarkan serangan dengan gesitnya. Berkali-kali ia meloncat sambil mencakar Indra Tanaya. Karena merasa ngeri Indra Tanaya segera mengeluarkan anak panah. Seketika melesatlah anak panah mengenai dada Kapi Andara dan berubahlah menjadi Anoman.

Melihat itu, Prabu Kala Wasesa murka dan segera menyerang Indra Tanaya dengan ganasnya. Akan tetapi, serangan itu bisa dihindari oleh Indra Tanaya. Bahkan, Indra Tanaya bisa menyarangkan tendangannya dan mengenai tengkuk Kala Wasesa.

Prabu Kala Wasesa semakin murka. Serta-merta ia membabi buta sehingga Indra Tanaya takut bukan kepalang. Indra Tanaya lari mencari selamat. Prabu Kala Wasesa tetap berusaha akan menerkamnya. Dalam situasi terdesak, akhirnya Indra Tanaya menghunus anak panahnya. Ia segera melepaskan anak panahnya dan mengenai sumping (hiasan di kuping) bagian kanan Prabu Kala Wasesa dan berubahlah sumping itu menjadi Raden Nakula.
Kemudian Indra Tanaya melepaskan anak panahnya lagi dan mengenai sumping bagian kiri. Ketika sumping itu lepas berubahlah menjadi Raden Sadewa. Indra Tanaya semakin semangat. Kini ia telah membidik Prabu Kala Wasesa bagian mahkotanya. Ketika mahkota itu terkena anak panah berubahlah ia menjadi Prabu Puntadewa. Semantara itu Prabu Kala Wasesa masih mengamuk. Tanpa membuang waktu lagi Indra Tanaya segera melepaskan anak panah dan mengenai tubuh Prabu Kala Wasesa. Berubahlah menjadi wujud aslinya yaitu Raden Wrekudara.

Keempat Pandawa dan Anoman segera menghaturkan sembah kepada Indra Tanaya. Mereka mengaku kalah. Sebagai hukumannya, Indra Tanaya menyuruh keempat Pandawa dan Anoman  untuk mengeluarkan Prabu Duryudana dari penjara. Maka, segera berangkatlah keempat Pandawa dan Anoman  ke Astinapura. Sementara itu Indra Tanaya menuju Amarta.

Bala Korawa yang kalah perang melawan Indra Tanaya di hutan Ngargapura telah sampai di Astinapura. Mereka tercengang melihat rajanya, Prabu Duryudana, beserta para prajurit berada di dalam penjara. Maka terjadilah percakapan dari luar dan dalam penjara.
Prabu Duryudana menerangkan bahwa semua ini adalah orang suruhan Pandawa. Untuk itu, Sang Prabu mengutus supaya para Korawa menyerang Amarta. Kebetulan saat ini Amarta dalam keadaan tidak terlalu kuat karena yang ada hanyalah anak-anak Pandawa. Tanpa membuang waktu lagi Adipati Karna segera memimpin pasukan menyerang Amarta.

Akan tetapi, di tengah perjalanan pasukan Korawa bertemu dengan seorang ksatria muda. Ksatria muda yang bernama Jala Lengkara menghalang-halangi langkah pasukan Korawa. Tentu saja Korawa marah. Ksatria itu dikeroyoknya. Namun Korawa benar-benar kena batunya. Ternyata Jala Lengkara bukan musuh sembarangan. Bahkan tidak sedikit para Korawa yang menderita luka-luka cukup serius. Melihat pasukannya kalang-kabut, Adipati Karna mengurungkan niatnya menyerang Amarta dan kembali ke Astinapura.


Sementara itu, Pandawa telah sampai di Astinapura. Werkudara langsung menuju ke penjara. Melihat kedatangan keempat Pandawa dan Anoman, awalnya Prabu Duryudana terperanjat dan takut bukan kepalang. Ia mengira bahwa Pandawa telah berhasil membunuh semua pasukannya dan kini saatnya untuk menghakimi dirinya. Maka, serta-merta Prabu Duryudana minta ampun kepada Bima. Dia yakin bahwa Bima mau mengampuni dirinya.


“Dimas Bima, mohon ampun. Janganlah awak yang sudah tidak berdaya ini kamu siksa atau membunuhnya sekaliyan. Aku masih ingin hidup. Kelak, negara Astinapura akan kukembalikan kepadamu.”
“Kanda Prabu. Kedatanganku kemari memang untuk menolong Kanda. Kanda adalah raja agung tentu tidak pantas diperlakukan seperti ini. Mengenai negara Astinapura, biarlah waktu yang menjawabnya.”

Selesai mengeluarkan Prabu Duryudana dan semua prajuritnya, datanglah pasukan Korawa yang kalah perang melawan Jala Lengkara. Melihat hal itu Bima seraya bertanya sebab musababnya sampai para Korawa tubuhnya penuh luka seperti baru saja kalah perang.
Kemudian Dursasana berdalih bahwa para Korawa baru saja dihajar oleh ksatria muda yang bernama Jala Lengkara. Bahkan, Jala Lengkara sesumbar juga ingin membunuh para Pandawa.

Sebenarnya Pandawa tidak terhasut dengan kata-kata Dursasana itu. Akan tetapi melihat saudara tuanya badannya penuh luka, keempat Pandawa itu tidak merelakannya. Kemudian, keempat Pandawa itu melesat pergi mencari Jala Lengkara. Maka  terjadilah perang antara keempat Pandawa dengan Jala Lengkara.

Pertama yang menghadang Jala Lengkara adalah Wrekudara. Panenggak Pandawa itu langsung menerjang tubuh Jala Lengkara. Namun sial, ternyata menemui udara kosong. Maka semakin mengamuklah ia. Saking tidak sabar lagi, dengan sekali gerakan Jala Lengkara bisa mengatasi Wrekudara. Maka majulah kstaria kembar, Nakula dan Sadewa. Kedua ksatria itu mengeroyok Jala Lengkara. Namun ternyata Jala Lengkara bukan musuh mereka. Dengan sekali gerakan Nakula dan Sadewa telah dilumpuhkan Jala Lengkara.

Maka prihatinlah Puntadewa melihat ketiga adiknya yang tidak berdaya di hadapan Jala Lengkara. Di saat genting seperti itu, datanglah Indra Tanaya. Kepada Puntadewa, Indra Tanaya menyatakan akan membantu. Hal ini disebabkan bahwa Pandawa telah menepati janjinya, yaitu mengeluarkan Prabu Duryudana dari dalam penjara.

Indra Tanaya telah berhadapan dengan Jala Lengkara. Ia sengaja menantang untuk membalas kekalahan para Pandawa. Dengan tenang Jala Lengkara meladeni apa kemauan Indra Tanaya. Perang tanding satu sama satu terjadi. Kedua kstaria itu ternyata pilih tanding. Sudah hampir satu jam belum ada tanda-tanda mana yang menang dan mana yang kalah. Namun, karena kalah dalam usia, Jala Lengkara akhirnya keteter pula. Ksatria muda itu sekarang telah dirangket oleh Indra Tanaya kemudian dipukuli dengan penjalin.


Karena sakit, Jala Lengkara menangis minta tolong.  Mendengar itu Indra Tanaya mengejek. Kata Indra Tanaya sangat memalukan bahwa seorang ksatria menangis dalam peperangan. Seorang ksatria itu harus berani mati.

Akan tetapi, Jala Lengkara semakin menjadi tangisnya. Ia mengatakan bahwa ajalnya segera datang. Maka yang bisa menolong hanyalah orang tuanya. Kemudian Indra Tanaya bertanya tentang nama orangtua Jala Lengkara. Ketika Jala Lengkara menyebut nama Raden Janaka kstaria Madukara, berubahlah menjadi wujud aslinya yaitu Raden Abimanyu. Begitu juga dengan Indra Tanaya. Ia segera berubah menjadi Raden Arjuna.

Begitulah kurang lebih lakon Wahyu Kastuba Urip hasil kreasiku.

Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi seri berikutnya.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Nove; - LAKON WAYANG # EMPU DALANG KI WARSINO - BIOGRAFI"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel