-->

Novel - KURSI RODA SANG PENGARANG # BIOGRAFI EKO HARTONO # 13

Novel - KURSI RODA SANG PENGARANG # BIOGRAFI EKO HARTONO # 13
Novel - KURSI RODA SANG PENGARANG # BIOGRAFI EKO HARTONO # 13
TAMAN TEMBANG DAN SASTRANOVELSahabat Taman Tembang dan Sastra, berjumpa kembali dengan Taman Novel. Kali ini disajikan sebuah biografi yaitu KURSI RODA SANG PENGARANG bagian 13. Selamat membaca.  

KURSI RODA SANG PENGARANG

Bagian 13

Oleh: Parpal Poerwanto

Begitulah. Liku-liku dan suka duka dalam menekuni dunia mengarang atau menulis telah aku jalani. Penghasilan sebagai pengarang memang tidak terlalu besar. Terkadang tiap bulan dapat honor, tetapi bulan-bulan berikutnya tidak dapat sama sekali. Dari satu tulisan, khususnya cerpen,  aku pernah dapat honor mulai dari  5000 rupiah sampai 300.000 rupiah. Agak lumayang lagi bila cerber dimuat di majalah, honornya bisa jutaan. Namun, ada juga  momen-momen tertentu yang menjadikan penghasilanku cukup besar. Yakni saat memenangkan lomba mengarang.

Sebagai penulis lepas, aku selalu berusaha mengikuti lomba-lomba menulis naskah cerpen, cerber dan sebagainya yang sering diselenggarakan oleh lembaga atau penerbit (majalah atau koran). Aku memang tidak mempunyai jadwal khusus tetapi selalu mencari informasi lewat internet. Kadang, temanku Budi Wahyono (Semarang) selalu mengabari jika ada lomba. Temanku yang satu ini memang istimewa. Terima kasih Mas Bud.


Menang dalam lomba merupakan kebanggaan tersendiri bagiku. Selain pendapatan yang cukup lumayan untuk ukuranku, aku merasa telah memberikan suri teladan kepada anak-anakku bahwa dari menulis atau mengarang dan tanpa harus keluar rumah seseorang bisa mendapatkan hasil yang cukup banyak. Aku sering berdiskusi dengan istri dan anak-anakku. Antara lain menghitung penghasilan seseorang secara kasar yang diambil contoh dari masyarakat yang tinggal di daerahku. Misalnya A yang bermata pencaharian sebagai petani, B seorang pedagang kecil, C seorang buruh tani, buruh bangunan dan lain-lainnya. Ternyata, berdasarkan hitungan kasar penghasilanku tidak kalah dengan mereka.  Bahkan penghasilanku di atas mereka!

Aku memupuk kemampuan menulisku dengan jalan membaca. Membaca apa saja tulisan yang dimuat di koran, majalah, buku, dan lain-lain. Cerpen, Cerber, artikel, puisi, berita politik, olah raga, dan apa saja. Aku juga suka mendengarkan radio dan menonton televisi (khususnya berita dan film). Semua itu sebagai sarana untuk memperkaya wawasan dan perbendaharaan bahasa. Jujur, aku juga tak malu untuk meniru gaya tulisan orang lain. Aku belajar mengarang dengan cara membaca karya orang lain, terutama cerpen. Aku bisa membaca berulang-ulang sebuah karya cerpen yang kuanggap bagus untuk kudalami di mana letak kekuatannya dan unsur-unsur apa yang membuat cerpen itu menarik hingga bisa dimuat di media cetak ternama. 

Gaya tulisanku mungkin tidak terlalu istimewa dan terkesan konvensional. Aku (mungkin) tidak menawarkan sesuatu yang baru dari hasil karyaku. Karena yang kutulis lebih banyak berkutat pada soal-soal kehidupan sehari-hari, konflik dalam rumah tangga, realitas sosial, dan hal-hal yang umum. Karena orientasi utamaku dalam menulis lebih kepada aspek ekonomi di samping ingin berbagi gagasan atau ilmu kepada orang lain. Aku menulis untuk mencari duit, itu faktor pertama. Karena itu aku selalu mengirim tulisan ke media-media yang mudah menerima tulisanku. Seperti majalah keluarga, majalah anak, majalah remaja, dan koran-koran dengan kelas medium. Tulisanku sangat sulit menembus media papan atas seperti Kompas, Media Indonesia, Jawa Pos, dan koran nasional lainnya.

Akan tetapi, meski tujuan mengarang untuk cari duit, bukan berarti hasil karyaku kacangan. Untuk bisa menembus media yang tergolong menengah itupun aku mesti bersaing dengan banyak penulis, baik penulis ternama disamping para  pemula. Bahkan persaingannya mungkin lebih berat. Karena hampir setiap minggu redaktur media bersangkutan menerima puluhan atau ratusan tulisan yang datang. Alhasil, tulisan yang kemudian dimuat memperlihatkan ‘kualitas’ tersendiri.

Aku tidak pernah kenal dengan redaktur media-media yang aku kirimi tulisan dan tidak ada hubungan istimewa dengan mereka. Maka, jika mereka kemudian memuat tulisanku hal ini menunjukkan penghargaan dan pengakuan tersendiri bahwa tulisanku memang layak dimuat. Dalam hal ini tentunya berhubungan dengan kualitas itu sendiri.

Aku memang bukan pengarang atau penulis top. Akan tetapi menulis atau mengarang sudah menjadi jalan hidupku. Aku tidak bisa hanya menggantungkan honor dari tulisan yang dimuat di media cetak. Aku sering mengikuti lomba mengarang. Sebab, biasanya hadiahnya cukup lumayan untuk ukuranku. Memang belum banyak lomba yang kumenangkan dalam mengikuti kejuaraan. Pengalaman pertama mengikuti lomba aku mendapat Juara III Lomba Cipta Cerpen, Kelompok Peron, FKIP, UNS, Solo, 1993. Saat itu tidak dapat hadiah uang, hanya piagam dan piala. Lalu menjadi Pemenang Harapan Sayembara Novelet Majalah Kartini, Jakarta, 1996 (Hadiahnya kalau tak salah sebesar 350 ribu rupiah). Kemudian pada tahun 2000 aku mendapat Juara II Penulisan Naskah Buku Cerita Keagamaan yang diadakan Departemen Agama RI, Jakarta yang diikuti peserta se-Jawa dan Bali. Aku sempat diundang ke Jakarta dan menginap di Wisma Haji selama satu malam. Aku menerima hadiah uang sebesar 2,5 juta rupiah plus piagam dan plakat.

Berhubung tahun 2000 pesertanya sedikit, Depag kembali mengadakan lomba serupa pada tahun 2001 dan 2002. Kali ini sifat perlombaan nasional karena diikuti warga seluruh Indonesia. Namun, tahun 2001 aku tidak menang. Ketika tahun 2002 diadakan lagi aku terpacu untuk menulis karangan yang lebih baik. Hal ini didasari karena rasa kasihanku kepada adikku. Waktu itu kursi roda adikku sudah rusak parah. Begitu juga kursi rodaku kondisinya tidak kalah mengenaskan. Bahkan, hutangku juga sudah menumpuk karena untuk biaya anakku yang sakit. Sementara orang tuaku juga tidak punya uang. Waktu itu orang tua tidak merantau lagi. Hal ini disebabkan karena faktor usia.

Aku mengikuti lomba penulisan buku cerita keagamaan Depag RI yang kali ini hadiahnya lebih besar pada tahun 2000. Aku mengirim 3 judul sekaligus. Setiap malam aku selalu salat tahajud. Aku berdoa agar diberi kemenangan dalam lomba kali ini. Namun, sepertinya menunggu hasil yang belum jelas membuat perasaan harap-harap cemas.

Di dalam brosur disebutkan bahwa pengumuman lomba pada akhir Oktober 2002. Para pemenang akan diundang ke Jakarta menerima hadiah pada tanggal 4 Nopember 2002. Aku masih ingat persis, sampai hari Sabtu tanggal 2 Nopember belum ada surat panggilan yang datang. Hari-hari sebelumnya aku tak surut berdoa pada Tuhan agar dimenangkan dalam lomba mengarang kali ini. Setaip kali aku dan istri selalu salat malam dan munajat bersama. Aku sempat merasa pesimis dan tak yakin kalau aku akan menang, karena sampai jam 12 siang tidak ada surat yang datang atau pemberitahuan dari panitia. Pada hari Sabtu kerja kantor pos hanya sampai pukul 12 siang. Aku dan istri semakin harap-harap cemas dan pasrah.

Ketika hari sudah menunjuk waktu asar, aku dan istriku menjalankan salat berjamaah. Pada saat salat aku tak sadar menitikkan air mata karena diliputi kesedihan. Dalam hati aku hanya bisa pasrah jika Tuhan tidak mengabulkan doaku. Usai salat, tiba-tiba aku mendengar suara anakku dari luar memanggil-manggil.

“Bapak…! Bapak dapat duit banyak! Bapak dapat duit banyak!” demikian seru anakku sambil membawa sepucuk surat cukup tebal.

Anakku yang masih kecil memang suka mengira kalau aku dapat surat, apalagi suratnya tebal, isinya uang. Padahal tak jarang surat itu berisi naskah yang di-retur atau dikembalikan oleh redaktur. Aku pun cuma tersenyum kecut. Namun ketika surat itu diterima oleh istriku, dia malah berucap dengan suara gemetar dengan wajah pucat.

“Surat dari Depag, Mas…”
Aku tersentak kaget. Aku lalu meminta dia membukanya. Dengan tangan gemetar istriku membuka sampul dan membaca isinya. Istriku berseru terbata-bata sambil menangis haru. “Mas Eko menang… ini surat undangannya. Mas diundang ke Jakarta!”

“Alhamdulillah!” ucapku dengan perasaan gembira tak terlukiskan. Aku rangkul istri dan anakku. Kegembiraanku tumpah bersama rasa haru. Kudengar istriku berulang kali mengucap rasa syukur. Aku menitikkan air mata ketika ia menciumi pipiku.

Aku dan istriku kembali bersujud syukur. Kami semua larut dalam kegembiraan. Aku tak henti memanjatkan puji syukur kepada Tuhan. Aku juga beristighfar karena sempat berprasangka buruk kepada Tuhan. Datangnya surat itu seolah menjadi penawar hati yang gersang, embun yang menyejukkan jiwa. Ini adalah jawaban dari Tuhan pada hamba-Nya yang mau berikhtiar dan berdoa. Karunia Tuhan bagi hamba-Nya yang senantiasa berserah diri.


Setelah ditelusuri kenapa surat itu bisa datang terlambat ternyata berawal dari kantor Depag sendiri. Semua pemenang tadinya hanya akan diberi kabar melalui telepon lima hari sebelum hari H, tetapi di antara semua pemenang ternyata hanya aku yang tidak mencantumkan nomer telepon. Akhirnya dibuat surat undangan yang dikirim pada hari Kamis dengan kilat khusus. Hari Sabtu siang sampai di kantor Pos Tirtomoyo, oleh petugas dititipkan di toko Pamanku. Namun pamanku hari itu harus ke Solo untuk kulakan barang dagangan, sehingga baru sore harinya bisa menyerahkan kepadaku.

Saat itu aku mendapat Juara II untuk kategori bacaan siswa SMP/MTs. Karyaku berjudul: Ukhuwah. Waktu itu jurinya terdiri dari pengarang-pengarang ternama yaitu: Danarto, La Rose, Titi Said, Abdul Hadi WM, dan beberapa lagi dari harian Republika.

Aku diundang ke Jakarta dan menerima hadiah langsung dari Menteri Agama waktu itu Bapak Said Agil Al-Munawar di Kantor Depag berlantai 3. Ayahlah yang menyiapkan persiapan kami. Untuk lebih memudahkan perjalanan, kami menyewa mobil. Kebetulan salah satu kerabat ada yang memiliki mobil mini bus pribadi.

Sebagai orang kampung aku merasa canggung untuk memasuki ruangan besar, megah, dan ber-AC ini. Oleh Ayah aku didorong menuju tempat paling depan. Dengan kursi roda reyot aku bisa bertatapan mata langsung dan bertukar cerita dengan para juri. Naskahku mendapat skor tipis dengan naskah pemenang pertama. Bahkan aku sempat dipuji oleh beberapa juri, karena dari semua naskah yang diterima hanya naskahku saja yang masih diketik dengan mesin ketik manual, semuanya sudah diketik dengan komputer.

Aku duduk bersanding dengan pemenang-pemenang lain yang rata-rata berprofesi guru, dosen, dan kalangan akademisi. Mereka bergelar dari S-1 sampai S-2. Hanya aku saja yang bergelar S-MP. Ibu, istri, dan anak-anakku yang ikut menyertai meneteskan air mata haru menyaksikan aku mendapat hadiah sebesar 7,5 juta rupiah dan berjabat tangan dengan Pak Menteri. Luapan rasa gembira dan bersyukur tidak bisa kulukiskan dengan kata-kata, kecuali hanya berkali-kali mengucap syukur alhamdulillah.


Kulihat Ayahku ikut menangis haru. Mungkin tak terbayangkan dalam benaknya bahwa anak laki-lakinya yang tuna daksa ini dan hanya sempat mengenyam bangku SMP bisa memberikan suatu kebanggaan tersendiri. Aku berhasil mengukir prestasi tingkat nasional.

Ayah, Ibu, istri, dan beberapa saudara memberi ucapan selamat dan menyatakan kagum pada diriku. Namun hal itu tak membuat aku membusungkan dada dan berpuas diri. Bagiku, semua sanjungan dan pujian itu kukembalikan kepada Tuhan. Aku menyadari anugerah yang kuterima ini semata-mata datangnya dari Tuhan. Tanpa pertolongan Tuhan semua ini tak akan kudapatkan. Tuhan telah mengabulkan doa yang setiap hari kupanjatkan. Tuhan juga melihat ketekunan dan kesungguhanku dalam menekuni dunia mengarang ini.

    Sepulang dari menghadiri penerimaan hadiah, aku bak pahlawan yang pulang dengan membawa kemenangan. Waktu itu, uang sebesar 7,5 juta rupiah merupakan nominal yang cukup besar. Jujur saja, aku belum pernah memegang uang sebanyak itu. Aku sangat bersyukur bisa membeli dua kursi roda baru sekaligus. Satu untukku, satu untuk adikku.

Aku juga bisa membeli komputer meskipun bekas serta melunasi hutang. Sisanya aku tabung untuk keperluan mendatang. Perasaanku tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata waktu itu. Selain bersyukur aku berdoa agar di masa-masa mendatang aku diberi kesempatan untuk memenangkan lomba semacam itu. Dan, semua itu akhirnya juga terjawab. Aku sering memenangkan lomba. Bahkan ada juga yang hadiahnya hingga 25 juta rupiah. Namun, peristiwa memenangkan lomba Depag itulah yang kurasakan paling membekas dan mendalam sehingga kujadikan momen kenangan yang paling manis, paling mengesan. Hal ini bukan berarti aku tidak mensyukuri dengan nikmat yang telah Tuhan berikan kepadaku. Namun lebih disebabkan oleh situasi dan kondisi saat itu.


Dari pengalaman itu, aku sangat meyakini bahwa jalan dan kemungkinan akan selalu terbuka bagi manusia yang mau berusaha. Keterbatasan fisik (cacat), minimnya pendidikan, dan kurangnya fasilitas pendukung tidak harus menjadi penghalang bagi seseorang untuk maju dan meraih keberhasilan. Selama napas masih dikandung badan dan otak masih bisa berfungsi, maka tidak ada alasan untuk tidak berbuat sesuatu. Keterbatasan dan beberapa kekurangan yang aku miliki justru menjadi tantangan tersendiri. Aku berusaha mengatasinya dengan upaya semaksimal mungkin. Salah satunya yakni dengan terus berlatih dan belajar. Selain itu tidak lupa memanjatkan doa kepada Yang Maha Menentukan.

Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi seri berikutnya.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Novel - KURSI RODA SANG PENGARANG # BIOGRAFI EKO HARTONO # 13"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel