-->

Cerpen - ORKESTRA ILALANG # CERNAK

Cerpen - ORKESTRA ILALANG # CERNAK
Cerpen - ORKESTRA ILALANG # CERNAK
TAMAN TEMBANG DAN SASTRACERPENSahabat Taman Tembang dan Sastra, selamat berjumpa kembali dengan taman CERPEN. Edisi kali ini disajikan cerita anak berjudul  Orkestra Ilalang dari kumpulan cerita anak Segumpal Awan di Tangan Pinkan karya Didit Setyo Nugroho. Selengkapnya adalah sebagai berikut.

ORKESTRA ILALANG

           
Kami semua terbungkam. Kesepian ruangan ini melebihi kesepian kamar mayat. Bunyi langkah sepatu Pak Bas yang mondar-mandir seperti menginjak hati kami yang sudah menciut. Kami semua tertunduk tidak berani menatap wajah wajah Pak Bas. Belum pernah kami menyaksikan wajah keras Pak Bam. Biasanya wajah Pak Bas lembut dan selalu tersenyum. Bahkan kesabarannya luar biasa ketika membimbing kami bermain musik. Ia selalu member contoh meski berkali-kali kami membuat kesalahan.
“Apa masih kurang aku memberi kesempatan” gumam Pak Bas di tengah kegalauannya.

Kami semua menyadari kalau Pak Bas kecewa dengan sikap Anto teman kami. Anto sudah diberi kesempatan untuk bebas masuk tidak perlu membayar uang les privat seni musik dengan syarat harus datang lebih awal dan membersihkan ruangan. Tetapi sudah tiga kali pertemuan ini Anto tidak datang bahkan yang lebih parah lagi tidak memberikan keterangan.

Kekecewaan Pak Bas yang kedua karena ia harus memberikan contoh vocal berkali-kali sehingga nafas tuanya jadi terengah-engah. Biasanya Anto yang memiliki vocal yang sedemikian kuat dan terasa lunak di telinga kami yang disuruh Pak Bas untuk memberikan contoh. Dan Pak Bas begitu bangga memiliki murid seperti Anto. Pak Bas tidak pernah merasa rugi untuk membebaskan bayaran Anto karena memang Anto amat berbakat.

Dua hari yang lalu aku ke rumah Anto untuk menanyakan mengapa ia tidak masuk les musik. Anto tertunduk. Kemudian jawabnya hampir tidak terdengar,” aku harus menunggu padi di sawah. Sudah waktunya panen dan banyak burung-burung yang datang menyerbu.”

Aku terbungkam. Anto anak satu-satunya Pak Darman, seorang petani yang menggantungkan hidupnya dari sejengkal tanah warisan orangtuanya. Apabila musim panen hamper tiba anto bertugas disawah untuk mengusir burung-burung yang datang akan memakan biji-biji padi yang sudah berisi.


“Kenapa tidak kamu katakana kepada Pak Bas secara terus terang?”tanyaku.
Anto terbungkam sejenak,”aku tidak berani” katanya kemudian,”Pak Bas berasal dari kota mana bisa memahami petani. Yang Beliau bicarakan hanya bagaimana bisa konser di kota besar. Bagaimana kemegahan gedung-gedung  yang dulu dipakai untuk konser Beliau. Bagaimana berkolaborasi dengan orang asing.”

“Tetapi kamu kan belum mencobanya. Kita tidak boleh berburuk sangka dulu terhadap orang lain sebelum mengetahui benar bagaimana sikapnya,” kataku.
Anto menatap wajahku. Raut mukanya kelihatan menyiratkn kesedihan,”Bagaimana kalau kamu saja yang berbicara dengan Pak Bas. Beliau sangat menyukai suaramu. Beliau juga tahu kamu anak pegawai yang memahami benar tentang etika pergaulan orang-orang kelas menengah ke atas…..”
 “Stop. Jangan begitu. Aku adalah aku. Arini teman kamu. Tidak ada keistimewaan apapun” kataku.
“Siapa yang mengetahui keberadaan Anto” teriak Pak Bas tiba-tiba memecahkan lamunanku.

Aku terkejut dan tanpa sadar mengangkat tubuhku.
“O ya kamu Arini. Kemana Anto selama ini” Tanya Pak Bas menatapku. Sudah kehilangan kelembutanya.
“Mem....mbantu orngtuanya mengusir burung disawah Pak,” kataku tergagap.
Pak Bas tercenung sejenak. Aku berfikir searah dengan pikiran Anto. Mana Pak Bas memahami rutinitas petani.

“Apa yang dia kerjakan?” tanya Pak Bas. Suaranya berubah agak datar.
Aku mulai berani menceritakan tentang kegiatan Anto di sawah. Memasang hantu sawah yang di tali dengan kaleng kemudian menarik-narik dengan tali agar kelihatan hidup ditambah berteriak-teriak sepanjang hari agar burung-burung terusir tidak jadi makan padi.
“Apa kamu tahu dimana sawah Anto?” tanya Pak Bas.

Aku terbungkam sejenak karena sulit sekali untuk menunjukkan arah sawah Anto meskipun letaknya dekat tetapi berada di tengah.
“Bagaimana kalau kami semua mengantar Pak Bas kesana? Karena teramat sulit untuk menunjukkan lokasinya...,” kataku tanpa minta persetujuan teman-teman lebih dahulu. Tetapi aku yakin teman-teman setuju.
“Terus kita naik apa?”Tanya Pak Bas
“Jalan kaki saja Pak. Tidak terlalu jauh,” sahutku cepat-cepat.

Seperti dugaanku mereka semua setuju. Kemudian sore itu kami bersama berjalan-jalan menuju sawah Anto.

Setelah berjalan kaki sekitar setengah jam kami sudah dapat melihat rumah Anto. Seorang  laki-laki   kecil  berada di gubug tengah sawah sambil berteriak-teriak dan menggerakkan hantu-hatu sawah yang berderak ketika ditarik.
“Selamat sore Anto!”teriak Pak Bas sebelum kami semua menyapa Anto.

Anto menoleh kemudian terkejut ketika mengetahui yang datang kesitu Pak Bas dan teman-temannya.
“Oh maaf Pak Bas,” kata Anto sambil turun dari gubug kemudian menyambut kami dengan wajah pucat.
“Tidak apa-apa Anto. Arini sudah menceritakan semuanya” kata Pak Bas dengan senyum ramahnya yang tiba-tiba telah kembali cerah.

Kemudian Pak Bas berkeliling persawahan menarik-narik tali sehingga bunyi kaleng yang berisi batu berderak. Pak Bas menarik lagi sambil mengerutkan keningnya tampaknya beliau konsentrasi dengan suara yang terdengar ketika ia menarik tali itu.
Pak Bas kemudian memberi isyarat kepada kami untuk berkumpul di pematang.
“Apakah sulit untuk mencari kaleng bekas disini?” Tanya Pak Bas tiba-tiba.
 “Di dekat saya ada orang yang memiliki usaha barang rosok Pak. Disana banyak sekali kaleng bermacam-macam ukuran,” kataku menyahut.

“Coba besuk kamu beli kaleng sepuluh saja dan yang lain mengumpulkan batu-batu kerikil dan tali sepanjang sepuluh meter,” kata Pak Bas sambil menyerahkan uang lima puluh ribuan pada Budi,”Besuk kita kumpul disini kembali.”
Setelah kami berkumpul dan bermain di dangau Anto, kamipun pulang saat matahari sudah condong kebarat.

Sehari setelah itu kami sudah berkumpul di tempat yang sama. Kami agak terkejut ketika ternyata Pak Bas dan Anto sudah ada disitu. Pak Bas kemudian melubangi kaleng-kaleng yang dibawa Budi dan mengisinya dengan batu kerikil yang tidak sama jumlahnya. Menggoyangkan beberapa kali seolah mengecek bunyinya. Terkadang menambah atau mengurangi jumlah kerikil untuk menetukan nadanya.


Setelah cukup kemudian Pak Bas memasang kaleng-kaleng itu di tepian sepanjang luas persawahan Anto kemudian menarik tali-talinya ke dangau.
“Coba masing-masing pegang satu tali” kata Pak Bas kepada kami.

Kami mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Pak Bas. Kemudian Pak Bas memberi intruksi siapa yang harus menarik talinya kemudian secara bergantian kami mengulangnya.

“Hey…!! ini kan lagu yang sering kita mainkan” teriak Andi yang paling tajam imajinasinya. Pak Bas tersenyum puas ketika bahasa nada kalengnya dipahami Andi.
“Kaleng-kaleng ini masing-masing memiliki nada. Kalian dapat memainkan lagu sesuai dengan nadanya” teriak Pak Bas di tengah suara deru angin. Kalian silakan mencoba menyanyikan lagu yang lain.”

Lantas seharian kami memainkan lagu. Ternyata begitu indahnya. Yang pasti dapat mengusir burung-burung dengan rasa senang.
“Inilah orkestra kaleng…” kata Andi
“Bukan…!! Kedengarannya nggak enak banget,” sanggah Hari,”Ini orkestra rumput. Padi kan juga rumput!”
“Biar enak di telinga dan berkesan intelek, Inilah Orkestra Ilalang,” teriak Anto yang mulai terlihat cerah kembali wajahnya.

Kami semua setuju. Anto memang memiliki kepekaan seni yang paling baik di antara kami. 

Kemudian Anto mengalunkan lagu ketika kami memainkan nadanya. Suara merdu Anto menyusup hamparan butir padi mengantar panen petani.

Wonogiri 2015

Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi kami, ya.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Cerpen - ORKESTRA ILALANG # CERNAK"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel