Novel - BUDAYA WAYANGAN # EMPU DALANG KI WARSINO - BIOGRAFI
Saturday, 7 April 2018
Add Comment
![]() |
| Novel - BUDAYA WAYANGAN # EMPU DALANG KI WARSINO - BIOGRAFI |
BUDAYA WAYANGAN
Oleh: Parpal PoerwantoSebagai seniman, aku mempunyai tanggung jawab moral. Maksudku, sebagai orang Jawa yang mencintai kebudayaannya, aku senantiasa ikut menjaga dan nguri-uri agar warisan leluhur yang adi luhung itu tidak punah. Sebagai wujud pengambadian memang tidak bisa diukur. Namun, sejak muda aku senantiasa berusaha untuk mengabdikan hidup pada budaya Jawa. Sudah jutaan kilo meter aku jalani untuk memperkenalkan budaya Jawa, bahkan sampai menyeberang lautan pun telah aku tempuh. Waktu itu aku ibaratnya Kethek Anoman yang masih muda. Mengenai tokoh wayang yang satu ini memang menjadi panutan hidupku.
Kethek Anoman ketika muda merupakan senapati yang pilih tanding. Sri Rama berhasil menyeberang lautan dan memboyong kembali istrinya tidak luput dari jasa kera putih itu. Rahwana adalah raja rasksasa ingin mempersunting Dewi Shinta. Akan tetapi sayang, waktu Dewi Shinta telah menjadi istri Raden Rama. Tidak urung, Rahwana juga berhasil membawa kabur Dewi Shinta yang konon adalah anak kandungnya sendiri. Maka terjadilah peperangan. Dalam peperangan itu pihak yang benar yaitu Sri Rama mendapat dukungan dari bala kera yang dipandhegani oleh Anoman. Maka Sri Rama berhasil mendapatkan kembali istri tercintanya serta bisa membasmi keangkaramurkaan dengan membunuh Rahwana.
Pengabdian Anoman itu begitu tulusnya. Tidak mempunyai kepentingan apa-apa kecuali hanya melawan segala keangkaramurkaan yang di sebarkan oleh Rahwana raja Alengka.
Setelah tua, ternyata Kethek Anoman masih mengabdikan diri kepada hidup dan kehidupan di bebrayan agung. Ia berdiri sebagai Resi di Padepokan Kendalisada. Nah, hal ini juga yang mengilhami diriku dalam mengabdikan diri atas kecintaanku pada budaya Jawa. Ketika umurku semakin tua, tentu kekuatanku semakin lemah. Maka untuk “melanglang buana” tentunya tidak segesit dulu. Sebagai gantinya aku selalu mengadakan tradisi pagelaran wayang di setiap wetonku. Tempat penyelenggaraanya di tempat tinggalku ini.
Mengapa aku memilih hari sesuai wetonku? Jawabannya seperti di bawah ini.
Menurut pinisepuh, hari kelahiran merupakan hari yang dianggap istimewa. Begitu juga hari kelahiranku yang jatuh pada hari Jemuah Wage. Aku lahir pada hari itu tahun 1921. Hanya itu yang bisa aku tanyakan pada ibuku tentang hari kelahiranku. Lagi pula, orang Jawa tidak mengenal istilah ulang tahun. Yang ada ya weton itu tadi. Jadi, jika aku tidak mengetahui tanggal dan bulan kelahiranku ya tidak masalah.
Aku mengistimewakan hari kelahiran bukan lantaran suka hal-hal yang berbau klenik. Aku memberi arti penting pada hari kelahiranku sendiri tidak lain adalah merupakan wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa bahwasannya masih diberi kesempatan untuk momong anak-putu sekaligus menjawab apa yang aku sebutkan awal tadi, yaitu nguri-uri budaya Jawa.
Kalau ada yang mengatakan acara tersebut sifatnya hura-hura adalah salah besar. Aku mengadakan syukuran tidak mengeluarkan biaya banyak. Sebab, hampir semua tenaga sifatnya hanya sambatan saja. Kalau toh hanya sekedar untuk beli rokok itu suatu hal yang wajar. Nyatanya mereka mau. Belum pernah sekalipun sejak aku selanggarakan yaitu ketika aku pulang dari Medan tahun 1980 acara ini gagal. Bahkan bisa dikatakan semakin tahun semakin banyak orang yang datang untuk menyaksikan. Sementara yang bertindak sebagai dalang dan niyaga secara sukarela silih berganti. Hal ini menandakan bahwa di dalam bekerja, mereka juga dilandasi dengan rasa cinta kepada budayanya. Jadi, meskipun tanpa ongkos, tetap saja jalan.
Pada acara tersebut banyak dalang, seniman, dan pecinta seni umumnya yang berdatangan. Mereka bukan hanya sekedar untuk menikmati hiburan atau tontonan wayang. Sebab, dengan adanya sarasehan itu saling terjadi rerembugan tentang budaya Jawa secara umum maupun tentang seni pakeliran (pedalangan) pada khususnya. Acara itu sekaligus sebagai sarana tukar pengalaman dan pengetahuan. Banyak dalang muda yang memanfaatkan acara tersebut sebagai belajar gratis dari para sepuh. Juga, adanya ikatan batin untuk saling manjaga ukuwah sangat terasa.
Sudah aku katakan bahwa tujuan utama mengadakan pagelaran wayang itu selain untuk mengucapkan syukur kepada Tuhan juga dimaksudkan untuk nguri-uri budaya Jawa. Dalam seni pedalangan misalnya. Aku hanya memperbolehkan cara mendalang yang sesuai pakem atau cara mendalang model dulu (klasik) saja. Jadi, tidak hura-hura seperti yang sekarang terjadi.
Setelah aku saksikan dan amati, ternyata para dalang yang sering mendalang di tempatku juga bisa membawakan seni pedalangan model dulu (klasik) dan bagus-bagus. Penonton pun rasanya lebih sreg. Buktinya, mereka mengikuti jalannya cerita sampai pagi atau pegelaran usai. Hanya saja, aku menjadi bertanya-tanya mengapa kalau mereka mendalang di luar selalu menyajikan tontonan yang penuh hura-hura? Itu memang hak mereka. Hanya saja, aku berharap agar ada dalang yang benar-benar “menjaga” seni pedalangan sesuai pakem yang telah berjalan sebelumnya.
Pada acara itu, banyak dalang yang hadir. Di antaranya Manteb Sudarsono, Anom Suroto, Purbo Asmoro, Ki Sutino, Warseno, dan beberapa dalang muda seperti Tantut, Agus Wiranto, Paimin, Widodo Wilis, dan masih banyak lagi. Ada juga beberapa pesinden terkenal dan seniman lainnya. Mereka gunakan kesempatan itu untuk rerembugan tentang seni budaya Jawa. Jadi, semacam diskusi bersama untuk nguri-uri budaya Jawa yang adi luhung itu.
Secara kebetulan, pada tahun 1999 ketika akan diadakan sarasehan para seninam dalang di rumahku, aku kedatangan tamu beberapa orang dari Jakarta. Para tamu itu bermaksud untuk melihat pagelaran wayang yang pada malam itu akan digelar. Salah satu tamu itu bukan orang Jawa. Karenanya aku sangat tertarik. Sebab, meskipun bukan bukan orang Jawa, beliau menyatakan akan kecintaannya terhadap seni tradisi Jawa. Makanya, aku sangat menaruh hormat kepada beliau.
Beliau itu adalah Bapak Franky Welirang dari Bogasari. Anehnya, sejak pertemuan siang hari itu dan berlanjut di malam harinya kami saling cocok. Beliau adalah salah satu anak bangsa di negeri yang mencintai budaya bangsa termasuk budaya Jawa meskipun berasal dari bukan suku bangsa Jawa. Bentuk komitmen beliau adalah selalu mengadakan tradisi ruwatan dan pagelaran wayang pada setiap bulan Sura sejak tahun 1999. Nah, jika orang yang berasal bukan dari suku bangsa Jawa saja sudi ikut nguri-uri budaya Jawa bagaimana dengan orang Jawa sendiri? Mudah-mudahan ini bukan hanya sekedar pertanyaan klise sehingga mendapat perhatian dari berbagai pihak.
Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi seri berikutnya.

0 Response to "Novel - BUDAYA WAYANGAN # EMPU DALANG KI WARSINO - BIOGRAFI"
Post a Comment