Cerpen - PADA SEBUAH KECELAKAAN # CERNAK
Saturday, 7 April 2018
Add Comment
![]() |
| Cerpen - PADA SEBUAH KECELAKAAN # CERNAK |
PADA SEBUAH KECELAKAAN
Asri merenungi wajah Edo. Ada gurat kepedihan pada raut muka Edo yang masih pucat. Tubuhnya terlihat kurus tersembunyi di balik selimut bermotif bunga yang membungkus tubuhnya. Tangan dan kakinya masih berwarna merah bekas kulit yang mengelupas. Mata Edo masih terpejam. Kadang terlihat mulutnya menyeriangi ketika ia menggerakkan tubuhnya di tengah pejam matanya. Rasa kesakitan mungkin ketika kulitnya yang penuh jahitan yang belum kering bergesekan dengan selimutnya.
Kecelakaan minggu kemarin. Meski tidak ada tulang yang patah ataupun retak. Tidak separah dulu waktu dia ikut balap sepeda motor untuk medan ekstrem. Tetapi cukup memenjarakan Edo dan mengikatnya di kamar tidur hampir seminggu.
“Balap itu ada persyaratannya, ada safety, ada persyaratan medan, tidak liar di jalanan mau jadi jagoan ya?” teriak Papahnya ketika di rumah sakit saat dia baru saja siuman dari kecelakaan. Padahal Papahnya yang mendorongnya untuk menjadi pembalap. Papahnya yang memberi semua fasilitas begitu tahu Edo sering balapan di jalan.
“Pembalap itu pakai otak,” kata Papahnya sambil menunjuk kepalamya sendiri,”harus cerdas, harus teliti, memiliki insting tajam, harus memperhitungkan semuanya dengan jitu. Keselamatan dirinya dan keselamatan orang lain,” lanjut papahnya lagi lebih terdengar ketus.
“Tidak ada pembalap yang bodoh seperti kamu. Karena mereka sadar bertaruh dengan nyawanya sendiri,” lanjutnya lagi dengan nada terpatah tegas dan jelas menusuk.
Edo hanya dapat bungkam. Ia tidak pernah membantah apapun yang dikatakan Papahnya meski terkadang Papahnya salah. Mamahnya mengajarkan itu kepada Edo.
“Ya sudah nikmati saja rasa sakitmu biar kamu dapat belajar dari kegagalan-kegagalan karena kebodohanmu,” kata Papahnya kemudian berlalu dari kamar putih rumah sakit.
Mamahnya yang sejak awal tidak setuju Edo bermain-main dengan sepeda motor hanya dapat menangis kemudian ikut berlalu dari situ ketika melihat keadaan Edo yang yang tidak membahayakan karena harus masuk kekantor. Meninggalkan Edo bersama Pak Kartolo sopir papahnya.
Edo melihat langit-langit ruang yang berpetak-petak sambil mengenang kejadian naas yang menimpanya. Siang tadi ketika ia akan berangkat menuju hutan tempat para crosser sering berlatih ia melihat seorang perempuan membawa laptop yang disilangkan di tubuhnya. Tiba-tiba dari belakang ada pengendara sepeda motor berboncengan menarik laptop dari gadis itu terjadi tarik menarik dan perempuan pengendara sepeda motor itu akhirnya jatuh di trotoar kemudian dua laki-laki itu menggambil laptop dari tangan gadis itu dan meninggalkannya pergi sambil tertawa penuh kemenangan.
Edo yang melihat kejadian itu langsung memacu motornya mengejar dua laki-laki itu. Terjadi kejar-kejaran seperti dalam film gangster. Suara raungan sepeda motor memekakkan telinga terkadang didiringi suara rem yang bercericit saat ban beradu dengan aspal jalan raya. Agaknya dua penjahat itu sudah terbiasa dengan aksinya sehingga ia cukup lihai dalam mengendarai sepeda motornya. Apalagi yang mengejar saat ini hanya bocah kecil yang kebetulan memakai sepeda motor tril. Merasa terlalu lama mengejar Edo membuat spekulasi. Ketika jalan tikungan Edo sengaja menambrakkan sepeda motor yang dinaiki ke pengendara di depannya sehingga dua sepeda motor itupun jatuh terguling. Suara gemuruh kecelakaan menarik perhatian pengendara yang lain.
Edo langsung berteriak-teriak dengan keras, ”Rampok…!....rampok….!” sampai seluruh penghuni di pinggir jalan keluar dan menghajar dua pengendara sepeda motor yang tidak dapat berkutik lagi.
Edo tidak tahu apa yang terjadi kemudian ketika tiba-tiba ia sudah berada di rumah sakit dan kedua orangtuanya datang menjenguk dan papahnya memberi omelan ketika ia baru saja siuman dari pingsannya.
Setelah dirawat selama tiga hari akhirnya Edo diperbolehkan untuk pulang dan berobat jalan. Berhari-hari hanya dikamar di tunggui Pak Kartolo.
“Assalamu alaikum….” sapa seorang perempuan dari balik pintu.
“Wa alaikum salam….” sahut Pak Kartolo dari kamar Edo yang kemudian bergegas keluar menyambut tamunya.
“Apa benar ini rumah Dik Edo?” tanya perempuan itu
“Ya benar Mbak,” sahut Pak Kartolo
“Sekarang dimana dik Edo?”
“Masih sakit, di kamarnya,” kata Pak Kartolo
“Boleh saya ke kamarnya Pak?”
“Silakan Mbak...” sambut Pak Kartolo sambil mengantar Asri nama perempuan itu ke kamar Edo.
Edo masih tertidur. Ketika akan dibangunkan Pak Kartolo, Asri mencegahnya,”Biar saya tunggu sampai bangun Pak,” katanya pelan sambil member isyarat supaya tidak berisik pada Pak Kartolo.
Setelah hampir seperempat jam Edo terbangun. Ketika dilihat ada perempuan disamping tempat tidurnya Edo terbangun dan merasakan keheranan.
“Selamat siang Dik Edo,”sapa Asri ramah.
“Mbak ini siapa?”Tanya Edo masih agak bingung karena baru saja bangun tidur.
“Mbak kan orang yang dirampok kemudian ditolong oleh Dik Edo sehingga dua perampok itu masuk penjara.”
“Ooo,” kata Edo teringat kembali kejadian seminggu yang lalu.
“Laptop yang berisi data tesis dari Mbak sudah kembali kepada Mbak, bukan apa-apa sebagai ucapan terima kasih Mbak memberikan hadiah ini kepada Dik Edo,” kata Asri sambil menyerahkan bungkusan kotak tipis pada Edo.
“Jangan Mbak saya tidak dapat menerimanya. Papah dan Mamah akan marah kalau tahu nanti.”
“Papah sudah tahu semuanya Edo. Mbak Asri sudah mampir ke kantor Mamah pagi tadi dan Mamah sudah menceritakan semuanya pada Papah,” kata Papah dan Mamahnya yang tiba-tiba sudah masuk ke kamar Edo.
“Terima kasih lho Mbak malah merepotkan Mbak Asri,” kata Mamah Asri dengan senyum manisnya.
“Maafkan Papah ya, Le,” kata Papahnya sambil memeluk tubuh Edo.
Ketika Asri sudah pulang dan Edo membuka kotak tipis itu ternyata berisi laptop dan ditempel dengan tulisan yang manis, “Terima kasih atas keberanian Dik Edo sehingga semua data penelitian Mbak Asri terselamatkan. Semoga menjadi crosser yang hebat”
“Semoga menjadi crosser yang hebat,” gumam Mamahnya ikut membaca. Tiba-tiba ia memiliki kebanggaan kepada anak laki-lakinya.
(Wonogiri 2015)
Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi kami, ya.

0 Response to "Cerpen - PADA SEBUAH KECELAKAAN # CERNAK"
Post a Comment