Novel - KELUARGA # EMPU DALANG KI WARSINO - BIOGRAFI
Wednesday, 4 April 2018
Add Comment
![]() |
| Novel - KELUARGA # EMPU DALANG KI WARSINO - BIOGRAFI |
KELUARGA
Oleh: Parpal PoerwantoKeluarga adalah harta yang tidak tertandingi yang dititipkan oleh Tuhan kepada manusia. Maka, jika ada yang menyia-nyiakan amanah itu, tentu termasuk manusia yang merugi.
Perihal membina keluarga, aku telah jatuh bangun selama ini. Seperti yang sudah aku katakan di muka bahwa perkawinanku yang pertama bukan atas dasar suka sama suka dan akhirnya kandas di tengah jalan. Waktu itu, aku menikah dengannya atas dasar berbagai pertimbangan.
Sebagai dalang muda, tentunya aku butuh peralatan seperti wayang dan gamelan. Sebagai anak seorang janda yang tak mempunyai penghasilan tetap, tentu tidak mungkin aku bisa minta kepada Ibu. Sedangkan aku sendiri belum begitu tenar. Pada waktu aku sangat mengidamkan gamelan dan wayang, ada seseorang dari Dusun Sendangrejo yang datang ke rumahku. Setelah berkenalan, kami berdua asyik ngobrol. Beliau menawarkan kepadaku tentang seperangkat gamelan beserta wayang satu kotak. Akan tetapi, waktu itu aku menolaknya sebab tidak memiliki uang untuk membelinya. Beliau tersenyum. Lalu diajaknya aku bermain ke rumahnya.
Singkat cerita aku telah datang ke rumahnya. Kulihat seperangkat gamelan dan sekotak wayang memenuhi rumah limasan yang ukurannya sangat besar. Dalam hati, aku berkata bahwa orang ini cukup kaya. Bahkan sangat kaya jika dibandingkan dengan kehidupanku di Kedung Gebang. Beliau lalu membuka kotak wayang dan memperlihatkan beberapa wayang kepadaku. Tidak lama kemudian datanglah seorang gadis kecil sambil membawa minuman. Teh hangat dua gelas diletakkan di meja tamu.
Kami selanjutnya duduk di ruang tamu. Kulihat orang itu dengan gerakan matanya, seolah-olah mengajakku untuk memperhatikan gadis cilik yang melangkah menuju dapur. Mau tidak mau aku terbawa situasi. Mataku sempat memperhatikan meskipun sekilas. Seorang gadis biasa dan masih kanak-kanak, begitu dalam hatiku.
Sambil menikmati teh, kami melanjutkan bincang-bincang. Aku menyatakan sangat tertarik dengan gamelan dan wayang. Akan tetapi, tidak punya uang untuk membelinya. Sekali lagi, beliau tersenyum seperti ketika mendengar penjelasanku beberapa saat tadi di rumahku. Beliau tidak segera menjawab malahan mengajakku untuk menghabiskan teh yang telah terhidang.
Setelah menghela nafas panjang, beliau mengatakan bahwa gamelan dan wayang itu tidak dijual tapi akan diberikan dengan syarat. Karena tidak sabar aku segera menanyakan persyaratan apa agar aku bisa memiliki gamelan dan wayang. Namun betapa kagetnya aku ketika mendengar bahwa persyaratannya adalah harus memperistri anak gadisnya yang kuanggap masih kecil, dan terus terang, tidak begitu cantik. Aku belum memberi keputusan.
Sesampainya di rumah aku masih memikirkan tawaran itu. Bahkan sampai-sampai aku lupa makan. Semua itu ternyata menjadi perhatian ibu. Beliau seperti faham dengan sesuatu yang bergolak dalam alam fikirku. Akhirnya ibu bertanya mengapa aku sering menyendiri. Awalnya aku mengelak. Akan tetapi, kurasa tidak baik berbohong apalagi kepada ibunya sendiri. Untuk itu aku bicara apa adanya mengenai pertemuanku dengan orang dari Sendangrejo.
Ibu ternyata sudah tahu. Malah ibu menyarankan agar aku menerima tawaran itu. Sebenarnya aku ragu akan menjalaninya, sebab selama ini belum kenal. Jangan-jangan tidak ada rasa cinta di antara kami. Akan tetapi, ibu mempunyai suatu petuah yaitu, witing tresna jalaran saka kulina. Atas baktiku pada orangtua yang tinggal satu-satunya itu aku menyanggupinya. Meskipun pada saat itu usia calon istriku masih sangat muda yakni 13 tahun. Sementara usiaku sudah 20 tahun.
Akhirnya aku benar-benar menikah dengan gadis yang bernama Tami itu. Usianya yang masih sangat muda mempersulit komunikasi di antara kami. Dengan sabar dan telaten aku mencoba bisa menjadi suami yang baik. Selain itu, juga karena tidak adanya pengertian dari mertua, akhirnya aku dan dia terpaksa mengambil jalan pisah.
Beberapa tahun kemudian aku menikah lagi. Ini juga bukan kemauannku. Aku juga dijodohkan waktu itu. Sebenarnya aku sangat mencintai istriku itu. Akan tetapi Tuhan berkehendak lain. Istriku yang bernama Suteki meninggal dunia karena sakit. Aku sempat patah semangat waktu itu. Bagaimanapun, almarhumah Suteki adalah sosok perempuan yang benar-benar aku idamkan. Untung saja semua itu tidak berlarut-larut. Aku segera bangkit kembali dalam menjalankan aktivitasku sebagai dalang.
Perjalanan cintaku memang penuh dengan liku-liku. Jujur saja, sebagai seniman khususnya dalang, tidak susah bagiku untuk mendapatkan gadis yang aku inginkan. Apalagi waktu itu usiaku masih cukup muda. Selain gagah, karena perawakanku mbambangi, wajahku cukup lumayan untuk memikat gadis. Karenanya, setelah menduda beberapa tahun aku berhasil menggaet gadis Tirtomoyo. Gadis itu bernama Sutini.
Pertemuanku dengan Sutini bisa dikatakan kebetulan saja. Waktu itu mendapat tanggapan di Tirtomoyo. Ketika tengah asyik-asyiknya mendalang, kulihat ada gadis cantik yang duduk dekat kotak. Ia tengah asyik menonton wayang yang digelar malam itu. Gadis itu sangat cantik. Sesekali aku curi pandang padanya. Ternyata sorot mata kami sering bertemu. Untuk itu, ketika selesai mendalang aku bertanya pada seseorang mengenai nama gadis itu. Dari jawaban orang yang kutanya, aku tahu nama gadis itu berikut siapa orang tuanya. Tidak lama kemudian aku lamar dia. Alhamdulillah, lamaranku diterima. Akhirnya aku menikah dengannya pada tahun 1952. Dari istriku yang ketiga ini aku dikaruniai seorang anak bernama Sriyono. Namun rumah tanggaku pun tak bisa kupertahankan. Kami pisah baik-baik. Bahkan, sampai sekarang antara keluarga kami di Baturetno dengan Bu Sutini masih sering bersilaturahmi.
Aku semakin laris mendapatkan tanggapan. Aku mulai dikenal bukan saja di daerahku sendiri. Kota-kota besar di Jawa Tengah sudah aku singgahi. Bahkan, di daerah Semarang dan Klaten di mana waktu itu ada dalang kondang seangkatanku yaitu Ki Narto Sabdo pun tidak lepas dari ‘jajahanku’. Aku benar-benar merajai waktu itu. Apalagi ketika G30 S/PKI meletus. Salah satu dalang yang bebas ‘berkeliaran’ adalah aku. Hal ini bukan berarti untuk bersombong diri atau pamer. Namun, supaya bisa dimengerti orang lain maka terpaksa aku ungkapkan. Selain itu, juga bisa dijadikan pengetahuan bagi para dalang muda bahwa liku-liku seniman dalang jaman dulu itu penuh perjuangan.
Aku bukan hanya jago kandang. Artinya, bukan hanya di kota-kota Jawa Tengah saja wilayahku mendalang. Di berbagai kota propinsi Jawa Timur pun, yang pada saat itu tidak sedikit dalang topnya, juga banyak yang menanggapku.
Waktu itu aku bersama dua orang anak buahku, yang satu adalah adikku sendiri Suloto dan satunya lagi adalah penggenderku, Sutarto, malang melintang di berbagai kota kabupaten di propinsi Jawa Timur. Kami bertiga hidup diperjalanan. Artinya, setiap kali mendalang di satu tempat (kota) kemudian disambung ke tempat yang lain. Hampir tiap malam aku mendapatkan tanggapan yang secara bersambung di antara kota satu ke kota lainnya. Jadi, selama itu pula tidak sempat pulang ke Wonogiri.
Di siang harinya, kadang-kadang aku gunakan untuk pergi ke tempat-tempat yang menarik. Contohnya ketika di Blitar. Waktu itu aku mendengar kabar bahwa ada orang yang sedang bersamadi di Gunung Kombang. Aku mengajak Suloto dan Sutarto untuk ke sana. Untuk diketahui, jalan menuju Gunung Kombang harus melewati selat. Nah, pada saat menyeberangi selat itu aku mendapatkan kol buntet. Entah datangnya dari mana, aku tidak tahu persis. Mungkin itu sudah milikku.
Sepulang dari Gunung Kombang kami bertiga kelaparan. Di daerah situ tidak ada warung yang menjajakan makanan. Terpaksa kami masuk ke suatu penginapan (hotel). Anehnya, penginapan sebagus itu tidak ada makanan yang bersedia kecuali nasi tiwul. Juga, sebagai lauknya pun hanya bawang merah. Saking laparnya makanan itu segera pindah ke perut kami masing-masing. Sehabis makan kami istirahat untuk persiapan mendalang malam harinya.
Jauh dari peristiwa di atas, aku pernah mendalang di Caruban. Ketika itu aku melihat seorang gadis cantik yang sangat mempesonaku. Gadis itu bernama Sumining Entah bagaimana awalnya, aku dan dia mudah akrab. Mungkin ini yang dinamakan jodoh. Aku putuskan menikah dengannya pada tahun 1967. Dari perkawinanku dengan Ning (nama panggilanku kepadanya) ini aku dikaruniai seorang anak bernama Harsono. Kini istriku ini tinggal di Caruban. Hanya sesekali saja datang ke Dung Gebang Baturetno. Begitu juga istriku yang di sini, jika ada kesempatan juga bersilaturahmi ke sana. Kedua istriku ini akur dan saling pengertian.
Sudah aku katakan bahwa aku mendapat tawaran mendalang di Medan, Sumatra. Bersama beberapa teman aku berangkat ke daerah transmigrasi di Medan. Tugasku adalah menghibur para transmigran di perkebunan kelapa sawit. Mereka itu adalah transmigran dari Wonogiri daerah asalku sendiri.
Hidup di Medan jauh dari anak istri tentu membawa suasana hati tersendiri. Sebagai laki-laki normal tentu aku butuh pelayanan seorang istri. Disaat cinta labil seperti itu, aku bertemu dengan seorang gadis yang cukup cantik. Gadis itu bukan penduduk transmigrasi melainkan dari Lubuk Pakam. Mesinem nama gadis itu. Ia asli Jawa yang lahir di daerah perbatasan antara Jawa Timur dan Jawa Tengah. Tepatnya dari Punung Pacitan Jawa Timur.
Saking sering bertemu dan ada kesempatan untuk saling bertukar pikiran, aku benar-benar jatuh cinta pada gadis itu. Waktu itu ia tinggal ikut pamannya. Maka, dengan keberanianku aku menemui pamannya untuk melamarnya dan diterima.
Akhirnya aku menikah dengannya dengan nama Karmi binti Katino di KUA Lubuk Pakam Kabupaten Deli Serdang pada hari Jumat tanggal 6 Mei 1973. Dari istriku yang kelima ini aku mempunyai empat anak yaitu, Supriyono, Suryo Guritno, Bambang Irawan, dan Wibisono.
Kedua istriku terakhir di atas ternyata bertemunya saat aku mendalang jauh dari rumah. Satunya bertemu di Caruban Jawa Timur, satunya lagi bertemu di Medan Sumatra. Mungkin ini adalah jalan bertemunya jodoh. Benar kata orang bahwa jodoh itu rahasia Tuhan. Mudah-mudahan kedua istriku tetap setia menemani sisa hidupku ini sampai aku dipanggil oleh Sang Kholik.
Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi seri berikutnya.

0 Response to "Novel - KELUARGA # EMPU DALANG KI WARSINO - BIOGRAFI"
Post a Comment