Cerpen - BAPAKKU WAYANG # CERNAK
Wednesday, 4 April 2018
Add Comment
![]() |
| Cerpen - BAPAKKU WAYANG # CERNAK |
BAPAKKU WAYANG
Bapakku wayang. Karena jadi wayang kerjanya tiap malam. Lepas magrib Bapak sudah bersiap di depan cermin untuk merias dirinya. Menjadi tokoh Semar adalah pekerjaannya. Bapak harus memutihkan seluruh mukanya dengan bedak murah dan memoles bibirnya dengan lipstick Emak. Bapak tidak pernah menemaniku tidur apalagi mengantarkanku dengan dongeng-dongeng menjelang tidur. Ketika aku berangkat ke sekolah Bapak masih tidur dengan dengkurannya yang begitu keras. Keras dan tersengal disela nafasnya yang semakin menyempit karena usia tua. Emak tidak berani membangunkannya. Meski Emak harus sendiri memetik sayur di kebun mengemas dan membawa sayur-sayur itu untuk dibawa ke pasar setelah dimasukkan kekeranjang dan digendong di punggungnya.
Kalau aku sudah pulang dari sekolah, Bapak sudah asyik membuat wayang. Mulai dari membuat pola, menatah gulungan kulit kerbau itu samapi memberi ornament warna dari tokoh yang dibuatnya. Kalau aku mendapat pekerjaan rumah berbahasa jawa, maka dengan fasihnya Bapak memberikan beberapa contoh sekaligus menembangkan bermacam-macam lagu jawa tanpa aku memintanya. Meski aku sering bosan mendengar tetapi aku tidak mau membantah kalau tidak ingin pekerjaan rumahku terselesaikan.
Aku kadang protes ketika harus membantu Emak berkebun sementara Bapak enak-enak saja menuruti kesenangannya sendiri membuat wayang sambil dari mulutnya menembangkan beberapa tembang jawanya. Tetapi ketika tidak ada protes sedikitpun dari bibir Emak meski dengan banjir keringat di keningnya aku menyimpan saja kegusaranku itu. Bahkan seringkali di sore hari itu Emak ikut mengemas wayang-wayang kalau bapak selesai menatah sambil mulutnya juga keluar tembang-tembang jawa. Kalau kebetulan malam Bapak tidak ada tanggapan untuk menokohkan wayang Semar di suatu klub wayang orang di kota kecilku. Bapak akan menabuh gender dan Emak akan melagukan beberapa tembang jawa. Sedang aku anak semata wayangnya hanya dapat menyingkir pergi minta ijin keluar dengan alasan belajar kelompok.
Entah sudah berapa tokoh wayang yang dibuat oleh Bapak aku tidak pernah mengetahui bahkan aku tidak memiliki rasa ketertarikan sama sekali. Yang aku tahu wayang-wayang itu dimasukkan dalam kotak kayu jati dan ditutup kemudian masih diselimuti dengan kain.
Beberapa tetangga menganggap Bapak itu orang yang pemalas. Bagaimana mungkin dijaman yang sedemikian sulit mencari uang Bapak dengan tenang melakukan pekerjaan yang tidak pernah menghasilkan uang. Sekalipun ada uang dari hasil Bapak menjadi wayang pada malam hari apabila Bapak pentas tetapi itupun hanya dibelikan kulit kulit kerbau utnuk dibuat wayang. Tetapi sekali lagi Emak tidak pernah sedikitpun mengeluh perilaku Bapak. Emak menjalani kehidupan yang tampaknya begitu bahagia meskipun harus banting tulang untuk memenuhi kebutuha keluarga.
Pernah suatu ketika Bapak mengumpulkan anak-anak di kampung itu untuk diajari cara membuat wayang atau bagaimana menjadi wayang. Kegiatan yang baru berlangsung sehari itu ternyata mendapat protes dari orang tua mereka.
“Memangnya anakku akan dijadikan Semar” ungkap Pak Parjo pemilik bengkel dengan ketus.
Bapak tidak menanggapi tetapi selalu tersenyum dengan panuh kesabaran. Karena tidak ada temannya aku pun selalu mencari alasan untuk tidak masuk pada keinginan Bapak. Dan seperti hari-hari yang berlalu Bapak masih saja menatah dan menyungging tokoh demi tokoh wayang sehingga hampir semua tokoh dalam pewayangan dibuat oleh Bapak. Tokoh wayang orang di suatu studio pementasan seni tradisional di kota. Bapak tinggal membuat wayang setiap harinya dengan mata tuanya yang disambung dengan kaca tebal. Anak-anak semakin jauh dari keinginan untuk menggeluti seni tradisional yang namanya wayang.
Sampai suatu sore ketika sku bermain sepak bola dengan anak-anak kampung yang lain datang sebuah mobil mewah mendekat. Dari dalam keluar seorang guide
dan tiga orang turis dari belanda. Suami istri denga seorang anak laki-lakinya. Guide itu menanyakan tentang alamat Bapak Prawira Raharjo.
“Kami mendapatkan website bapak ini di internet. Kalau tidak salah desa ini yang dia maksudkan,” kata guide ini pada kami yang semakin bingung tidak mengetahui arah pembicaraan.
Kami semua terperangah . kami tidak pernah memahami apa itu website dan bagaimana bapak bisa masuk dalam website dan mengapa orang asing itu mencarinya.
“Gus, bapakmu dicari turis,” kata Andi teman mainku.
“Bawa anak itu masuk ke mobil untuk menunjukkan rumah Bapak Prawira,” kata turis perempuan itu dengan bahasa Indonesia yang terdengar dalam aksen aneh.
“Tetapi kaki saya kotor,” aku beralasan.
“Tidak apa-apa, tidak apa-apa,” kata yang laki-laki yang akhirnya saya tahu turis dari Belanda yang ingin mempelajari seni etnik dunia.
Sampai di rumah bapak tampaknya sudah siap menerima mereka. Mungkin mereka sudah menghubungi lewat HP. Benar Anda Bapak Prawira Raharjo?,” tanya turis itu sambil menyalami bapak.
Bapak mengangguk. Kemudian meenyilakan tamunya masuk.
“Kami baca Anda mau mengajari membuat sekaligus bermain wayang.”
Bapak mengangguk lagi sambil menerangkan tentang perbedaan ketrampilan membuat wayang dan bermain wayang dan mana yang lebih dahulu akan dipelajari. Beberapa anak sudah berkumpul di situ. Dengan mulut ternganga mereka melihat bapak menerangkan tentang seni pada orang asing itu. Apalagi ketika terkadang bapak begitu fasihnya menyelipkan dengan bahasa Belanda di sela-sela keterangannya.
Turis itu mengangguk, berunding dengan anaknya. Kemudian disepakati kalau anaknya berkeinginan untuk belajar bermain wayang terlebih dahulu.
“Bagaimana kalau Bapak saya bawa kerumah saya. Berapa gaji yang Bapak minta,” tanya turis asing itu.
Bapak menyebutkan sejumlah angka dalam euro. Setelah disepakati tentang harga akhirnya bapak pergi setelah memberi ciuman kepadaku dan berpamit kepada Emak. Bapak telah pergi dibawa ke Belanda. Perlakuan tetangga kepada kami menjadi begitu istimewa. Mereka ternyata mengukur orang hanya dari kekayaan yang dimiliki. Apalagi ketika Bapak mentransfer beberapa uang sehingga mengubah kehidupan kami menjadi lebih baik. Dan yang lebih aneh dari semua ketika beberapa anak tetangga mulai belajar menatah wayang di rumah kami. Meski kami hanya meraba-raba tidak mengerti tokoh siapa yang kami buat. Tiba-tiba aku mulai merindukan wajah bapak dan tembang-tembang merdunya. Bapak ternyata bukan orang yang pemalas tetapi orang yang cerdas dan profesional. Aku bangga, aku rindu.
***
Bapakku Wayang
Dimuat di Wawasan Minggu edisi 10 Oktober 2010
Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi kami, ya.

0 Response to "Cerpen - BAPAKKU WAYANG # CERNAK"
Post a Comment