Budaya - JAMASAN PUSAKA MANGKUNEGARAN DI WONOGIRI # 16
Wednesday, 4 April 2018
Add Comment
![]() |
| Budaya - JAMASAN PUSAKA MANGKUNEGARAN DI WONOGIRI # 16 |
JAMASAN PUSAKA
MANGKUNEGARAN DI WONOGIRI # 16
Oleh: Parpal PoerwantoPenutup
Upacara jamasan pusaka Mangkunegaran di Kabupaten Wonogiri merupakan tradisi rutin untuk memandikan atau membersihkan pusaka-pusaka yang dimiliki oleh Kanjeng Gusti Adipati Ario Mangkunegara I (Raden Mas Said) yang keberadaannya di Wonogiri, baik di Nglaroh Selogiri, di Bubakan Girimarto maupun di Sendang Kaliwerak Giritirto. Pusaka-pusaka yang berada di Nglaroh Selogiri yaitu Kiai Totog, Kiai Korowelang, dan Kiai Jaladara. Pusaka yang ada di Bubakan Girimarto yaitu Kiai Semar Tinandhu dan Kiai Limpung. Sedangkan pusaka yang ada di Sendang Kaliwerak adalah Kiai Bancak dan Kiai Alap-alap. Jamasan pusaka Mangkunegaran ini dilaksanakan sejak diserahkannya pusaka-pusaka milik Pangeran Sambernyowo itu oleh pihak Pura Mangkunegaran. Sebelum tradisi jamasan pusaka ini pelaksanaannya ditarik ke kabupaten, setiap tahunnya sudah dilaksanakan di Selogiri dan Girimarto. Tradisi jamasan pusaka diselenggarakan di Obyek Wisata Sendang Asri Waduk Gajahmungkur baru dilaksanakan pada tahun 1986 atas prakarsa Bupati Wonogiri Oemarsono untuk pusaka-pusaka yang ada di Selogiri dan Girimarto. Sedangkan pusaka yang ada di Kaliwerak Giritirto baru diikutkan dalam penjamasan pada tahun 2003.
Prosesi jamasan pusaka Mangkunegaran di Kabupaten Wonogiri merupakan suatu kegiatan membersihkan atau memandikan pusaka yang memerlukan persiapan baik dan matang, baik itu persiapan material maupun spiritual. Secara garis besar prosesi uipacara jamasan pusaka dibagi menjadi empat tahap, yaitu tahap pengambilan pusaka di tempat penyimpanannya (Selogiri, Girimarto, dan Giritirto), malam tirakatan, kirab pusaka, dan jamasan itu sendiri.
Dampak-dampak postif yang ditimbulkan dari diselenggarakannya upacara jamasan pusaka Mangkunegaran di Kabupaten Wonogiri antara lain:
a. Dampak dalam bidang sosial yang tampak yaitu dapat menggugah perasaan masyarakat untuk mengetahui prosesi tradisi jamasan pusaka Mangkunegaran dan sikap gotong royong bagi para pendukung jamasan.
b. Dampak dalam Bidang Budaya : Bahasa, Mata Pencaharian, Agama, Adat, dan Seni.
1) Bahasa yang digunakan dalam prosesi jamasan pusaka Mangkunegaran sejak pengambilannya di tempat penyimpanan (Selogiri, Girimarto, dan Giritirto) secara serenomial menggunakan bahasa Jawa. Pada malam tirakatan dan pada upacara seremonial di pendopo kabupaten serta tempat penjamasan yaitu di Obyek Wisata Sendang Asri Waduk Gajahmungkur juga menggunakan bahasa Jawa dan Jawa Kuno. Hal ini dapat menumbuhkembangkan bahasa Jawa yang dalam kesehariannya hampir ditinggalkan oleh masyarakat Jawa sendiri.
2) Ditinjau dari bidang mata pencaharian, dengan adanya prosesi upacara jamasan pusaka Mangkunegara di Kabupaten Wonogiri juga dimanfaatkan oleh para pedagang, baik pedagang yang sudah terbiasa karena pekerjaannya maupun pedagang dadakan. Para pedagang dadakan ini pekerjaan pokok sehari-harinya adalah bertani, mereka mengerjakan ladang yang sempit, disamping itu juga memelihara beberapa ternak seperti kambing, sapi, dan lain sebagainya. Mereka mengandalkan kebutuhan hidupnya dari hasil pertanian. Semula masyarakat malu untuk memanfaatkan momen prosesi jamasan pusaka Mangkunegaraan untuk mencari penghasilan tambahan dengan cara berdagang. Namun, akibat adanya tuntutan pemenuhan kebutuhan hidup yang semakin banyak dan besar, mereka akhirnya berdagang pula. Penyelenggaraan upacara jamasan pusaka Mangkunegaran inipun juga dapat menarik orang-orang yang memiliki modal untuk membuka usaha di daerah Wonogiri. Mengingat lokasi Obyek Wisata Sendang Asri Waduk Gajahmungkur di mana tempat diselenggarakannya prosesi jamasan tersebut sering digunakan untuk acara-acara besar lainnya. Selain itu, dengan banyaknya wisatawan baik lokal maupun dari daerah lain, maka perlu adanya layanan transportasi yang baik dan banyak jumlahnya. Selain angkot yang beroperasi juga kelihatan kendaraan-kendaraan pribadi mengangkut pengunjung ke lokasi jamasan. Usaha inipun juga dapat menjadi lapangan kerja baru sebagai pekerjaan sambilan.
3) Di tinjau dari segi agama, ada dua pendapat yang sama mengenai tradisi jamasan pusaka yaitu boleh-boleh saja asal tidak mengkultuskan sesuatu.
4) Ditinjau dari adat istiadat, masyarakat Wonogiri sebagian besar terdiri dari lapisan bawah yang pada umumnya masih mempunyai kepercayaan dan keyakinan yang tebal terhadap hal-hal ghaib, akan merasakan bahwa penyelenggaraan jamasan pusaka tersebut dapat mendatangkan suatu berkah dan ketenteraman tersendiri. Dalam hal kehidupan semacam ini tradisi atau adat tersebut sifatnya masih sangat mengikat dalam kehidupannya. Hal ini disebabkan dari kepercayaan dan keyakinan dari masyarakat tersebut. Masyarakat akan merasa bersalah dan akan mendapatkan tulah (kesialan) apabila tidak melaksanakan suatu tradisi tertentu termasuk jamasan pusaka. Akan tetapi sudah banyak masyarakat yang berpandangan bahwa tradisi jamasan pusaka Mangkunegaran merupakan suatu seni budaya yang salah satu tujuannya adalah untuk tujuan pariwisata.
5) Ditinjau dari bidang seni, upacara jamasan pusaka memiliki arti seni ditinjau dari segi prosesi upacara jamasan pusaka serta seni yang ada pada benda-benda pusaka itu sendiri.
Penyelenggaraan upacara jamasan pusaka Mangkunegaran di Kabupaten Wonogiri juga memiliki dampak dalam bidang ekonomi. Dampak-dampak tersebut antara lain :
1) Adanya lapangan kerja baru bagi penduduk sekitar tempat penyelenggaraan jamasan pusaka Mangkunegeran.
2) Adanya peningkatan pendapatan masyarakat. Dampak dari terbukanya lapangan kerja baru dan mata pencaharian baru bagi masyarakat sekitar tempat penjamasan, maka secara otomatis juga memengaruhi terhadap penghasilan mereka.
3) Adanya ajang promosi. Pelaksanaan tradisi upacara jamasan juga dimanfaatkan oleh perusahaan untuk memromosikan produknya. Even-even seperti ini sangat cocok untuk mengenalkan produk perusahaan kepada masyarakat.
4) Adanya peningkatan pendapatan daerah meskipun nilainya belum signifikan. Pendapatan tersebut berasal dari tiket yang terjual serta beaya retribusi untuk warung-warung atau stan-stan di lokasi jamasan pusaka. (selesai).

0 Response to "Budaya - JAMASAN PUSAKA MANGKUNEGARAN DI WONOGIRI # 16"
Post a Comment