Novel - ANAK # EMPU DALANG KI WARSINO - BIOGRAFI
Thursday, 5 April 2018
Add Comment
![]() |
| Novel - ANAK # EMPU DALANG KI WARSINO - BIOGRAFI |
ANAK
Oleh: Parpal PoerwantoTiada gading yang tak retak, tak ada yang sempurna di kehidupan ini. Bagaimanapun juga aku adalah manusia biasa yang sarat kekurangan. Hal ini juga tercermin dari kegagalanku dalam membina keluarga. Walaupun apa alasannya aku adalah seorang laki-laki yang berhak membuat abang-ijone keluarga.
Sudah berkali-kali aku gagal dalam membina rumah tangga. Semua itu pasti ada hikmahnya. Salah satu hikmah yang paling berharga adalah bahwa aku bisa mengenal karakter perempuan. Setelah aku pelajari ternyata selain mempunyai kepribadian yang berbeda, perempuan juga mempunyai kesamaan, yaitu lebih banyak bicara. Tidak mau mengalah.
Sebagai dalang, aku sebenarnya punya modal untuk bicara banyak-banyak. Namun, jika berhadapan dengan istriku (jika suatu ketika marah) tentu aku lebih memilih diam. Hal ini bukan berarti aku takut atau takluk kepada perempuan. Aku tidak ingin membuat suasana keruh semakin menjadi keruh. Sebab, yang namanya marah atau emosi pasti ada berakhirnya. Ketika marah atau emosi berakhir, saat itulah aku mulai bicara. Tentunya dengan cara-cara tertentu agar tidak menimbulkan marah lagi bagi istri. Kalau toh dengan cara itu ia masih ngomel, aku lebih baik pergi atau bekerja apa saja, misalnya bersih-bersih.
Aku sudah membiasakan dan menanamkan hidup mandiri terhadap semua anak-anakku. Sejak kecil, mereka telah aku bebani tanggung jawab. Tentu sebuah tanggung jawab yang biasa dilakukan anak seusianya. Tidak mungkin aku memberikan tanggung jawab diluar kemampuannya.
Terhadap anak, aku juga tidak membeda-bedakan antara anak satu dengan lainnya. Meskipun dari enam anakku lahir dari tiga ibu yang berbeda, tetap aku rengkuh tanpa terkecuali. Alhamdulillah, hubungan di antara mereka juga tidak menemui masalah. Yang tua menyayangi yang lebih muda. Begitupun sebaliknya, yang muda menghormati saudara tuanya. Bahkan anak-anakku juga bisa menerima dan sangat hormat kepada ibu yang bukan merupakan ibu kandungnya.
Terhadap pendidikan dan kemauan anak-anak pun aku tidak mendiktenya. Aku tidak pernah berkata, kamu harus jadi ini, kamu harus jadi itu. Sejak kecil sudah aku tanamkan bahwa dirinya sendirilah yang menentukan masa depannya. Ini bukan berarti aku balas dendam atas kehidupanku pada waktu kecil. Sekali lagi bukan. Bahkan aku sangat bersyukur bahwa dalam usia belia aku “terpaksa” hidup mandiri.
Nah, dari kata itu jelas bahwa mandiriku dan mandirinya anak-anakku lain persoalan. Aku mandiri sejak kecil karena terpaksa oleh keadaan. Namun, aku tetap tabah dan senang menjalaninya. Alhasil, saat tua aku sendirilah yang memetiknya. Selain itu, aku juga bisa mengambil hikmahnya bahwa mandiri sejak kecil itu sangat berguna kelak ketika dewasa. Kita menjadi lebih mudah menentukan arah ketika menemui suatu persoalan atau jalan buntu.
Kemandirian pada anakku merupakan kebiasaan, bukan keterpaksaan. Mungkin jaman telah berubah. Ketika punya anak, hidupku sudah agak mapan. Anak-anak terurus dengan baik. Namun demikian, kemandirian tetap aku tanamkan. Hal ini merupakan pendidikan yang insya Allah akan berguna pada kehidupannya di kemudian hari.
Dalam hal pendidikan anak-anakku, tetap aku nomor satukan. Mereka aku bebaskan untuk memilih bidang mana yang disukai. Aku tidak mendikte. Sebab, masa depan mereka hanya mereka sendirilah yang akan menentukan. Orang tua hanya memberi dorongan dan semangat. Toh, di dunia ini jalan hidup itu ribuan jumlahnya. Hanya, terus terang, sebagai orangtua akan merasa bangga dan senang bila anaknya mendapat pekerjaan yang enak serta menghasilkan uang yang banyak. Tentunya suatu pekerjaan yang halal.
Memang, dari keenam anakku ada yang menggeluti bidang seni seperti diriku. Hal ini bukan atas dasar saran atau kemauanku. Semua itu mereka sendirilah yang memilihnya. Untuk menunjang semua itu, mereka belajar di sekolah seni. Kalau toh mereka tidak tamat sekolah atau kuliah itu bukan salah orang tua. Sebab aku sebagai orangtua selalu siap menanggung semua biaya sekolah atau kuliah mereka. Ya tentunya sesuai kemampuanku.
Mereka yang bersekolah di SMKI atau kuliah di STSI seperti Suryo Guritno, Bambang Irawan, dan Wibisono. Namun juga ada yang mengambil tehnik seperti anakku yang pertama, Sriyono. Ada yang menggeluti dunia usaha seperti Harsono. Sementara anakku Supriyono selepas SMA bekerja di Sariboga Semarang.
Di dalam mendidik anak pun aku tidak kaku. Bahkan, aku tidak mau ribut dengan anak. Misalnya saja anak berbuat kesalahan. Tidak serta merta aku marahi dia. Aku selidiki dulu apa penyebabnya serta saran apa sebaiknya yang cocok. Setelah semua itu aku temukan, aku pun tidak bertindak sendirian. Aku menggunakan tangan panjang untuk menyampaikannya. Biasanya anak-anak akan malu jika kesalahan itu diketahui orang lain. Apalagi jika orang lain itu sebaya usianya. Tentu cara menyampaikannya pun sesuai dengan bahasa mereka. Mungkin hal ini akan lebih bisa mengena. Anak-anakku tahu bahwa itu semua adalah perintahku. Karenanya mereka akan sungkan untuk berbuat kesalahan lagi. Dan buktinya memang cara itu tidak salah meskipun tidak benar seratus persen.
Bagaimanapun yang namanya anak adalah tanggung jawab orang tua. Anak adalah amanah. Makanya, sebagai seorang ayah tentunya aku harus bisa mengarahkan. Dalam hal ini tentu berbeda dengan mendikte. Mendikte itu merupakan paksaan. Jadi, mau tidak mau harus ini atau itu yang dipilih. Dalam mengarahkan aku memberi gambaran serta saran tentang langkah-langkah yang baik untuk kemudian ditempuh. Kalau cocok silakan digunakan, sebaliknya, jika tidak pas maka carilah yang lebih tepat.
Selain itu, sebagai rasa tanggung jawab, tidak henti-hentinya aku memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar anak-anakku selalu menjadi anak yang soleh dan nantinya bahagia di dunia dan di akherat.
Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi seri berikutnya.

0 Response to "Novel - ANAK # EMPU DALANG KI WARSINO - BIOGRAFI"
Post a Comment