-->

Misteri - PASAR LELEMBUT (BAGIAN 1)

Misteri - PASAR LELEMBUT (BAGIAN 1)
Misteri - PASAR LELEMBUT (BAGIAN 1)

PASAR LELEMBUT (BAGIAN 1)

Parpal Poerwanto

TAMAN TEMBANG DAN SASTRAMISTERI - Rumahku terdapat Pasar Lelembut. Mungkin banyak orang yang tidak mempercayai atau bahkan mencibirnya. Perihal rumah itu, kudapatkan dengan perjalanan yang cukup unik. Beginilah ceritanya.

Tahun 1972 aku diangkat menjadi PNS, menjadi guru olah raga (Penjaskes) di sebuah SD kota gaplek, Wonogiri. Asalku dari Wonosari, Gunung Kidul. Hidup sendiri di tempat yang baru membutuhkan penyesuaian diri. Sebab, meskipun sama-sama bersuku Jawa, antara Wonogiri dan Wonosari memiliki adat dan kebiasaan yang berbeda, utamanya tentang bergaul.

Tahun 1975 aku menikah. Istriku asli Wonogiri. Kami mengontrak rumah yang tidak jauh dari tempat kerja. Pada tahun pertama usia perkawinan kami dikaruniai seorang anak laki-laki. Dua tahun kemudian kami dikaruniai anak lagi. Kali ini perempuan. Lengkaplah kebahagiaan kami. Akan tetapi ada masalah baru, yakni kontrakan kami yang kecil serasa kurang bagus untuk tumbuh kembang kedua buah hatiku.

Suatu hari aku bicarakan tentang rencana untuk memiliki rumah dengan istriku. Istriku yang lugu agak kaget dengan rencanaku. Aku paham. Sepertinya istriku meragukan akan kesungguhanku untuk memiliki rumah. Namun, setelah kujelaskan bahwa selama ini aku rajin menabung, istriku kelihatan gembira sekali. Lagi pula, meskipun rencanaku ingin memiliki rumah, tetapi dicicil dari sedikit. Jelasnya, aku ingin punya tabungan dulu berupa tanah pekarangan. Sedangkan biaya untuk membangun rumah bisa mengumpulkan sedikit dari sedikit.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Tidak jauh dari kota Wonogiri, tepatnya di Bulusulur, kira-kira tiga kilo sebelah timur kota Wonogiri ada yang menjual tanah. Tidak lebar memang, yakni hanya 300 meter persegi. Namun, posisinya cukup strategis karena menghadap jalan raya Wonogiri-Ngadirojo. Oleh empunya tanah, tanah itu dibadrol harga 8 juta. Aku tawar 5 juta karena uangku hanya segitu. Mungkin karena sudah rejekiku, tanah itu diberikan.


Sebulan berikutnya, tanah itu diingini temanku. Aku jawab tidak kujual. Tetapi temanku maksa. Karena dia memaksa, aku beri harga tinggi dengan harapan dia mundur. Akan tetapi dia tetap mau membayar dengan harga 12 juta. Uang 12 juta waktu itu masih berharga sekali.

Dalam satu bulan, uangku yang awalnya hanya 5 juta menjadi 12 juta. Hal ini semakin membuat tekadku untuk memiliki rumah atau tanah pekarangan semakin kuat. Untuk itu aku kembali mencari informasi. Kali ini aku mencari ke daerah Wonokarto. Wonokarto adalah pemekaran dari Kelurahan Giriwono, masih termasuk kota. Atas informasi seorang teman, aku menemui orang yang akan menjual tanah pekarangannya. Ukuran tanah 200 meter persegi. Si empunya tanah mematok harga sepuluh juta. Aku menawar 7 juta. Akhirnya dapat 8 juta. Aku gembira sekali. Apalagi sisa uang yang 4 juta dapat aku belikan motor dan masih sisa sedikit, aku tabung.

Rencana selanjutnya adalah bagaimana agar bisa membangun rumah meskipun kecil dan sederhana. Aku kembali bermusyawarah dengan istriku. Malam itu kami sepakat untuk hutang di koperasi atau bank. Namun, keesokan harinya aku kedatangan teman. Teman itu bermaksud ingin membeli tanah pekaranganku. Khusus untuk teman ini aku tidak bisa bilang tidak. Sebab ia adalah sahabat karibku yang selama ini banyak membantu kami. sebagai tolakan halus agar dia mundur, tanah yang kubeli dengan harga 8 juta itu aku tawarkan 25 juta. Anehnya temanku langsung setuju. Antara sedih dan gembira campur jadi satu saat itu. Sedihnya, aku sudah merasa senang dan nyaman dengan tanah pekaranganku itu. Senangnya, hanya selang dua hari, modal 8 juta bisa berubah menjadi 25 juta. Aku hanya bisa mupus bahwa inilah rejeki masing-masing kami.

Di lingkungan Wonokarto aku memang sudah sangat nyaman. Untuk itu aku segera mencari informasi tentang tanah atau rumah dijual. Tidak jauh dari bekas pekaranganku ada orang yang menjual rumah berikut pekarangannya. Rumah itu cukup megah dan menghadap jalan utama. Pemiliknya adalah mantan seorang pejabat. Sebenarnya aku agak ragu untuk menawarnya, sebab kuperkirakan harga mendekati ratusan juta rupiah. Anehnya, rumah semegah itu hanya ditawarkan 30 juta saja. Aku berkata jujur bahwa sebenarnya berminat membeli, tetapi uangku hanya 25 juta. Anehnya lagi, rumah megah itu dilepas oleh yang punya. Aku seperti tidak percaya dengan apa yang aku alami. Namun, semua ini kenyataan.

Awal-awal bulan menempati rumah baru, kehidupan keluargaku biasa-biasa saja. Tidak ada peristiwa yang aneh-aneh.  Akan tetapi seiring waktu ada kejadian-kejadian yang tidak masuk akal. Awalnya, aku sering kehilangan uang-uang kecil. Aku biarkan sebab kukira anak atau istriku yang mengambilnya. Namun timbul pikiranku bahwa membiarkan berbuat tidak baik meskipun hanya mengambil uang kecil itu tetap tidak baik. Untuk itu di saat kami makan bersama, aku ungkapkan tentang kehilangan uang itu. Anehnya, istri dan anak-anakku merasa tidak pernah berbuat seperti itu. Jangankan mengambil, ibarat membuka laci tempat menaruh uang saja istri dan anak-anakku tidak berani.

Hari-hari selanjutnya aku sering kehilangan uang dengan nominal yang lebih besar. Jika awalnya hanya 500 atau 1000 rupiah, menjadi 5000 hingga 10000 rupiah. Awal tahun 90-an uang 10000 rupiah itu masih berharga. Kali ini aku marah. Bisa saja alasan anak dan istriku kemarin hanya untuk menutupi perbuatannya. Akibatnya, aku sering bertengkar dengan istriku. Dan kejadian itu hampir setiap hari. Bahkan hal-hal yang sepele bisa menjadi penyebab pertengkaran.

Untuk membuktikan bahwa anak dan istriku tidak mengambil uang, suatu hari Minggu aku menaruh uang dilaci dan kukunci. Aku sengaja tidak kemana-mana waktu itu. Bahkan kunci laci aku kantongi. Beberapa jam kemudian laci aku buka. Betapa kagetnya ternyata uang yang kutaruh telah raib. Kejadian itu aku utarakan kepada istri dan tidak lupa meminta maaf karena telah menuduh tanpa bukti.

Aku berpikir keras bagaimana agar kejadian di rumahku tidak berulang. Aku ingat bahwa kakekku di Wonosari adalah orang pintar. Saat itu juga aku ke Wonosari dengan mengendarai motor.

Singkat cerita, oleh kakek aku diberi tahu bahwa di rumahku itu terdapat Pasar Lelembut. Mendengar hal itu berdirilah bulu kudukku. Makanya, rumah semegah itu aku beli 25 juta dikasihkan.

Memang, sejak awal menempati rumah itu rasanya lain. Seperti masuk ruang ber-AC meskipun siang hari terasa terik. Bahkan sejak aku tinggal di situ tak satupun tetangga yang pernah berkunjung ke rumah, padahal aku sering bermain ke tetangga.

Kulihat Kakek sedang bersamadi dengan mata terpejam. Melihat hal itu, justru pikiranku tertuju istri dan anak-anakku di rumah. Bisa saja karena merasa diganggu Kakek, para lelembut itu ganti menyerang anak-anak atau istriku. Yah, aku hanya bisa pasrah kepada Tuhan Yang Maha Perkasa, semoga anak dan istriku selalu dalam lindungan-Nya.


Kulihat napas Kakek tersengal-sengal. Keringat keluar dari kedua pelipisnya. Pelan-pelan matanya terbuka. Kemudian kakek memandangku. Aku berharap mendapatkan keterangan yang bisa menenteramkan hati. Namun ternyata tidak. Kakek berkata bahwa rumahku itu memang gawat. Jarang sekali orang yang mampu dan betah tinggal di sana.

Menurut kakek, uang yang diambil lelembut itu sebenarnya tidak hilang, bahkan dikumpulkan di suatu tempat seperti layaknya bank. Siapa saja yang mampu tinggal di rumah itu dan apabila mendapatkan ijin dari lelembut, maka dirinya akan memiliki uang yang disimpan di dalam bank tersebut.

Meskipun dengan rasa takut aku memberanikan diri bertanya bagaimana caranya agar kami sekeluarga betah tinggal di rumah itu dan tidak ada hal-hal yang menakutkan atau mencelakakan. Menurut kakek, semua berjalan apa adanya. Siapa saja yang kuat dan betah tinggal di rumah itu selama tiga tahun berarti dialah yang lulus. (BERSAMBUNG)

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Misteri - PASAR LELEMBUT (BAGIAN 1)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel