Budaya - APA ARTI SEBUAH PUISI
Friday, 20 April 2018
Add Comment
![]() |
| Budaya - APA ARTI SEBUAH PUISI |
APA ARTI SEBUAH PUISI
Oleh : Parpal PoerwantoTAMAN TEMBANG DAN SASTRA – BUDAYA - Apa arti sebuah nama? Kalimat pertanyaan dari William Shakespeare ini tentu tidak asing lagi. Namun, bila kita bertanya tentang apa arti sebuah puisi, tentu masih asing. Meskipun pertanyaan itu hanya pemeo atas pendapat filsuf terkenal itu.
Puisi, adalah sebuah karya sastra yang oleh setiap penikmatnya tentu memiliki nuansa arti sendiri-sendiri. Seseorang yang tengah jatuh cinta, pada saat membaca atau menikmati puisi cinta yang syahdu mendayu tentu akan terbuai ke alam yang serba indah. Serba membahagiakan. Namun sebaliknya. Jika seseorang yang telah dilanda putus cinta atau kecewa karena cinta, bila membaca puisi yang sama di atas, bukannya perasaan bahagia yang didapat. Mungkin segala perasaan muak akan timbul dari ruang batinnya.
Beberapa waktu lalu, pada suatu acara di Solo, ada seorang tenaga pendidik yang tengah membacakan puisi di hadapan banyak hadirin. Salah satu hadirin adalah beliau Wakil Presiden, Muhammad Jusuf Kalla. Puisi yang sederhana dan lugas itu ternyata dicerna dengan lugas pula Wakil Presiden. Sontak beliau “kurang berkenan” dengan puisi “kritik” itu. Padahal, mungkin, si pencipta dan pembaca puisi itu bermaksud hanya sekedar menyampaikan uneg-uneg yang lebih halus lewat “puisi”. Serta, harapan yang “pas” tentunya jawaban yang “puistis” pula. Artinya memiliki nuansa sentuhan hati dan estetis, tidak dicerna seperti kata-kata biasa. Boleh jadi puisi itu sangat “keras” menyentil pemerintah. Tapi ya itu tadi, Apa arti sebuah puisi?
Puisi adalah termasuk karya imajiner yang merupakan imbal balik atau respon dari manusia atas peristiwa atau lingkungan di sekitarnya. Kemudian diendapkan dalam batin dan pikirannya dan selanjutnya dituangkan dalam sebuah tulisan. Berarti, puisi juga merupakan karya fiksi hasil dari interaksi dengan apa yang berada di luar diri manusia. Menurut Burhan Nurgiyantoro dalam bukunya yang berjudul Teori Pengkajian Fiksi menyebutkan bahwa fiksi menceritakan berbagai masalah kehidupan manusia dalam interaksinya dengan lingkungan dan sesama, interaksinya dengan diri sendiri, serta interaksinya dengan Tuhan.
Meskipun dalam buku tersebut Burhan tidak menggolongkan puisi dalam kajiannya, namun tidak salah bahwa puisi kita akui sebagai karya manusia yang imajiner, berarti termasuk karya fiksi. Sebagai karya imajiner hasil dari interaksi, sangatlah mungkin bahwa puisi masuk ke “wilayah kontrol sosial”. Sebab, yang namanya sebuah karya pasti ada manfaatnya, termasuk puisi. Hanya saja, untuk membaca dan menyikapi “kontrol sosial” lewat puisi butuh kematangan emosinal sehingga timbul kearifan. Jika keraifan tidak dikedepankan sebagai pijakan respon atas “kritik sosial” itu, tentu akan timbul sikap anarkis. Sebagai pengingat saja, bagaimana nasib Wiji Tukul sampai detik ini? Untung saja Wakil Presiden Jusuf Kalla “hanya kurang berkenan” atas peristiwa pembacaan puisi itu. Sebab, yang namanya karya sastra pasti ada muatan hiburan kepada pembaca atau penikmatnya.
Sebagai bangsa yang cinta damai, kita semua berharap bahwa peristiwa itu tidak dipermasalahkan lebih panjang. Cukup sebagai peristiwa tersedak ketika kita menikmati sate kambing. Setelah beberapa saat rasa pedih dan panas di saluran pernafasan pada pangkal leher kita hilang, mari kembali kita nikmati lezatnya sate kambing yang … nyuuusss. Dan, ini akan lebih nikmat lagi ketika kita mendengar kisah-kisah nakal Abu Nawas yang sering mengerjai Rajanya tetapi bukan hukuman yang di dapat. Namun, hadiah besar tengah menantinya.
Wonogiri, awal Desember 2005

0 Response to "Budaya - APA ARTI SEBUAH PUISI"
Post a Comment