-->

Misteri - PASAR LELEMBUT (BAGIAN 2)

Misteri - PASAR LELEMBUT (BAGIAN 2)
Misteri - PASAR LELEMBUT (BAGIAN 2)

PASAR LELEMBUT (BAGIAN 2)

Parpal Poerwanto

TAMAN TEMBANG DAN SASTRAMISTERI - Aku diberi sarana atau cara agar betah tinggal di rumah itu. Sesampainya di rumah aku jalankan semua yang diperintahkan oleh kakek. Malam harinya, aku mendengar suara-suara aneh yang mendirikan bulu kuduk. Suara itu seperti layaknya orang berjual-bei di sebuah pasar. Awalnya hanya terdengar biasa, tetapi lambat laun semakin keras semakin keras dan diakhiri dengan tertawa terbahak-bahak. Keringat dingin membasahi sekujur tubuhku. Aku berusaha berdiri dan menyalakan lampu yang awalnya sengaja kumatikan. Kulihat anak-anak dan istriku tertidur pulas seolah tidak ada kejadian apa-apa.


Apa yang kualami semalam kusimpan rapat-rapat. Aku berlaku biasa-biasa saja agar istri dan anak-anakku tidak curiga, meskipun pikiranku berkecamuk tidak karu-karuan.

Malam selanjutnya aku kembali menjalankan perintah kakek. Kali ini aku sambil duduk di kursi tamu dan lampu juga aku padamkan. Sejurus kemudian, kakiku seperti ada yang menggelitik. Ketika kulihat ada 4 anak kecil berkepala pelontos. Spontan aku berusaha menangkapnya dan berhasil. Keempat bocah kecil tadi kumasukkan ke dalam toples kaca.

Setelah kututup rapat-rapat, aku bawa ke luar rumah. Dengan sepeda motor keempat bocah dalam stoples tadi kubuang di kuburan sebelah timur SMA Negeri 1 Wonogiri. Semua berjalan begitu saja. Anehnya, aku yang selama ini punya rasa penakut malam itu rasa takut hilang begitu saja. Bahkan aku melangkah di kuburan yang sepi seperti melangkah di tempat ramai banyak orang. Sebaliknya, justru sesampai di rumah aku merasa kebingungan. Aku sepertinya masuk ke suatu tempat asing yang belum pernah kudatangi. Aku berdoa dan melapaskan amalan yang kakek berikan. Pelan-pelan kulihat istriku masih tidur bersama anak-anakku.


Untuk memastikan tentang rahasia rumah ini, aku mencari info ke tetangga sebelah. Sebenarnya aku sudah terbiasa bermain ke rumahnya. Namun selama ini hanya obrolan biasa. Kali ini aku agak canggung untuk ngobrol ke arah persoalan. Untung saja tetanggaku itu orang pandai bercerita sehingga hilang rasa grogiku.

Menurut tetanggaku, rumah yang kutempati itu sudah berganti-ganti pemiliknya. Aku adalah orang keempat menurut pengetahuan tetanggaku tadi. Dulu ada seorang pegawai PJKA yang menempati rumah itu yang katanya beli dari pemilik sebelumnya. Dia menempati rumah itu kira-kira hanya dua tahun. Setelah anaknya meninggal karena kecelakaan motor, rumah itu dijual.

Sekitar akhir tahun 80-an rumah itu berpindah tangan ke seorang pegawai di Dinas LLAJ.  Sebab karena rumah dijual dengah harga murah kepadaku adalah karena salah satu anaknya juga meninggal akibat kecelakaan.

Mendegar cerita itu berdirilah bulu kudukku. Pikiranku kemudian tertuju kepada anak-anak dan istriku di rumah. Aku ngelangut. Kemudian mohon diri karena hari telah menjelang magrib.

Aku semakin meningkatkan “tirakat”. Setiap malam tidak tidur. Selalu kulapazkan doa-doa mohon keselamatan dan jalan yang terbaik sehingga terhindar dari pengaruh negatif Pasar Lelembut itu. Setiap malam aku selalu melihat hal-hal yang ganjil dan menakutkan. Aka raksasa dengan mata yang bulat dan besar. Yang paling banyak adalah manusia berbadan hewan, seperti ular, babi, buaya, dan lain-lain. Anehnya aku tidak merasa takut sedikitpun. Hal ini sesuai dengan petunjuk kakek agar aku kuat terhadap apa saja yang bakalan terjadi.

Bayangan untuk memiliki uang yang konon jumlahnya milyaran terlintas di benakku. Ya, siapa tahu jika uang itu adalah hakku. Begitu kata hatiku.

Keadaan rumah tanggaku tenteram tidak ada persoalan. Istri tidak pernah uring-uringan seperti awal-awal menempati rumah itu. Tidak terasa waktu terus berjalan dan mendekati akhir tahun yang ketiga. Seperti kata Kakek, jika aku mampu menempati rumah itu selama tiga tahun akan mewarisi uang yang disimpan di bank milik lelembut itu.


Suatu malam, entah malam apa aku lupa. Yang pasti anak bungsuku sejak sore menangis tanpa henti. Padahal badannya tidak ada tanda-tanda sakit. Inginnya digendong terus. Namun, meski dalam gendongan tangisnya tidak pernah berhenti. Anehnya, air matanya tidak keluar, mungkin sudah habis karena menangisnya berjam-jam.

Tengah malam, di saat anakku berhenti menangis, ada suara jelas sekali masuk di telingaku. Suara itu menyatakan bahwa aku berhak memiliki uang di bank pasar lelembut asalkan ada gantinya. Aku bertanya apakah gerangan gantinya. Suara itu menjawab gantainya adalah anakku yang bungsu itu! Aku berteriak, “Jangaaaannn...!” Saat itu juga kulihat anak bungsuku step sambil menjulurkan lidahnya.

“Jangan, aku tidak mau anakku sebagai tumbal....!”
“Tumbal apa, Mas?” tanya istriku. Aku merebut anak bungsuku dari gendongan istriku. Kulihat anakku tengah sekarat. Istriku menciumi bocah umur satu setengah tahun itu dengan isak tangisnya. Pikiranku semakin kalut. Kupegangi nadi di tangannya. Sepertinya tidak ada denyut di situ. Aku berontak, “Tidaaaak....jangan kau ambil anakku!”

“Aku tidak butuh uang. Aku ingin anakku tetap hidup!” kataku sambil terus menggendong anakku. Beberapa waktu kemudian suara itu telah lenyap tidak menjawab. Kulihat anakku bisa membuka matanya. Aku dan istri memeluk buah hati kecilku itu.

Keesokan harinya, aku menceritakan semua kejadian yang kualami sejak awal menempati rumah itu kepada istriku. Untuk itu, melalui kesepakatan bersama, kami akan menjual kembali rumah itu.

Sekitar satu minggu sejak rencana kami menjual rumah itu, adalah calon pembeli datang. Dia seorang PNS di Pemda. Singkatnya, rumah kujual dengan 55 juta rupiah. Dari sejumlah uang itu dapat kubelikan 3 tanah pekarangan. Salah satu pekarangan berhasil kudirikan rumah, sedangkan dua lainnya kutanami buah-buahan.


Entah dari mana asalnya, aku punya pikiran untuk membantu agar yang membeli rumahku di Wonokarto bertahan lama dan tidak mendapat gangguan dari para lelembut di Pasar Lelembut itu. Tiba-tiba ada inisiatif untuk membangunkan rumah kecil di salah satu sudut pekarangan dengan maksud agar digunakan para lelembut sebagai pasar. Saranku itu benar-benar dilaksanakan. Alhamdulillah sejak saat itu tidak ada kejadian yang negatif pada keluarga itu meskipun telah puluhan tahun menempati rumah yang ada Pasar Lelembutnya. Begitu juga aku dan keluargaku selalu mendapat lindungan dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Amin. (Pal).

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Misteri - PASAR LELEMBUT (BAGIAN 2)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel