-->

Cerpen - SEBUAH RUMAH LOTENG # CERNAK

Cerpen - SEBUAH RUMAH LOTENG # CERNAK
Cerpen - SEBUAH RUMAH LOTENG # CERNAK
TAMAN TEMBANG DAN SASTRACERPENSahabat Taman Tembang dan Sastra, selamat berjumpa kembali dengan taman CERPEN. Edisi kali ini disajikan cerita anak berjudul  SEBUAH RUMAH LOTENG dari kumpulan cerita anak Segumpal Awan di Tangan Pinkan karya Didit Setyo Nugroho. Selengkapnya adalah sebagai berikut.

SEBUAH RUMAH LOTENG


Perempuan itu biasa saja, tidak ada keistimewaan. Rambutnya lurus, mukanya tiris putih, kaki-kakinya terlihat lebih panjang karena kurus kurang dagingng. Ia anak baru di sekolahku. Namanya Stefani. Ia pindahan dari suatu sekolah dasar di kota Jakarta. Yang membuat kami semua heran adalah begitu ia memesuki rumah loteng ia tidak akan keluar lagi sampai pagi harinya dalam seragam sekolah.

Kami semua tidak tahu apa yang dilakukan stefani sepanjang harinya. Stefani juga selalu menolak dengan halus dan ramah apabila kami semua ingin sekali berkunjung ke tempatnya.

Jangan di rumahku, lebih baik aku saa yang datang ke rumah Santi,” katanya terlihat agak sedikit ketakutan ketika kelompok belajar kami akan diliran ke rumah dia.
Tetapi rumah santi kan jauh dan rumahmu yang paling tengah di antara rumah kami berlima,” ucap isti sedikit protes.

Kita kan bisa datang bersama-sama,” potong Stefani cepat-cepat.
Kami semua saling berpandangan. Tetapi kemudian menyepakati apa yang diusulkan Stefani. Dan rasa penasaran kami belum terjawab, masih menjadi pertanyaan yang kurasa semakin berat menggantung di kepala kecil kami.

Hari-hari berlalu seperti biasa, seperti waktu yang kemarin atau kemarinnya lagi, saat Stefani selalu mengurung dirinya dalam kamar lotengnya yang beku. Yang dibatasi dengan dinding-dinding yang sedemikian tinggi, yang dibatasi dengan keterasingan-keterasingan dan tentunya kebisuan-kebisuan sepanjang kehidupan. Sampai suatu malam kami mendengar suara tangis dari dalam loteng. Meski suara itu tidak begitu keras tetapi dari luar tembok tampak bergema dan memantul-mantul. Dari jenis suaranya terdengar jelas kalau itu suara perempuan dewasa. Terdengar juga suara yang lain yang mencoba menenangkan suara itu.


“Sudahlah oma, orang bisa datang dan pergi sesuai dengan kehendaknya sendiri,” terdengar suara kecil mencoba menenangkannya. Aku kenal benar itu  suara Stefani teman baruku. Kebetulan rumah kami hanya berselisih dinding jadi aku dapat sedikit mendegnar percakapan dalam nada tinggi.

Esoknya aku menanyakan tentang suara itu pada stefani. Ia terdengar gugup, kemudian memandangku dalam tatapan mata yang aneh.
“Apakah tangis oma terdegnar dari luar?” tanya stefani dalam nada kecemasan.
Aku mengangguk mengiyakan.
“Dan kamu juga mendengar percakapan kami?” tanyanya lagi dalam nada mendesak.

 “Iya Stefani, meskippun aku tidak sengaja mencuri dengar perckapanmu. Tetapi sebagai temanku apakah salah apabila aku sedikit memberi perhatian. Apalagi terhadap teman yang sedang dilanda kesusahan,” jawabku mencoba sedikit membela diri ketika seolah dituduh mencampuri urusan orang lain.
Kulihat Stefani menatap sedemikian jauh. Tampaknya matanya terlihat sedikit berkaca-kaca. Aku tidak mengerti apa yang ada di dalam pikirannya. Dan akupun tidak berusaha untuk menegurnya sampai kemudian ia berkata dalam nada yang teramat sedih.

”Kamu senang ya punya orang tua yang menunggui kamu setiap hari?” tanyanya tiba-tiba.
Aku  mengangguk tanpa memberi komentar apapun tentang arah pembicaraannya.
“Selalu diberi perhatian setiap hari, selalu diluluskan permintaannya, selalu ada teman untuk berbagi cerita, selalu dapat tidur bersama” lanjutnya lagi. Kata-katanya mengalir tanpa henti.

“Apakah kamu sudah tidak mempuyai orang tua?” tanyaku memberanikan diri.
Stefani menatapku lagi. Pandangannya teramat aneh.
“Maaf kalau aku menyinggungmu” aku mencoba meralat kalimatku.
 “Tidak-tidak” jawab Stefani dalam nada tinggi.
“Bagaimana aku harus menceritakan kepada orang lain apa-apa yang aku alami. Semoga orang lain tidak mengalaminya. Dan kurasa kita telah bersahabat karena aku tahu kamu cukup memberi pernhatian kepadaku.”
“Aku terlahir tanpa kehendak orang tuaku,” kata stefani dengan suara bergetar memulai ceritanya.

“Papahku begitu menyayangi mamahku. Tapi nampaknya Oma tidak menyukai hubungan keduanya. Dan mamahku nekat melangsungkan hubungan hingga lahirlah aku dengan harapan Oma dapat menyetujui hubungan papah dan mamahku. Tetapi nampaknya Oma tetap pada pendapat semula, sehingga papah keluar dari rumah kami dan tak pernah kembali lagi.” Stefani menghentikan ceritanya. Kullihat matanya berkaca.


”Dari Oma aku dengar kalau aku ditinggalkan pada oma semenjak aku bayi dan sampai saat ini aku tidak pernah mengerti seperti apa wajah papa dan mamahku,” mata Stefani tak terasa sudah basah.
 “Apakah selama ini mamahmu tidak pernah memberi kabar kepadamu?”tanyaku ikut larut dalam cerita Stefani.

“Pernah sekali dua kali, kemudian tidak pernah ada lagi kabarnya. Aku juga tidak tahu apakah selama ini mamah bersatu dengan papah atau mereka hidup sendiri-sendiri. Berkali-kali kami hanya menerima surat dan surat yang kuterima terakhir selama tiga kali berturut-turut dari kota ini. makanya kami memutuskan untuk pindah ke kota ini dengan harapan kami dapat menemukan mamahku. Dan itu keputusan Oma yang merasa sudah cukup tua sedang opa sudah meniggal dua tahun yang lalu. Kami seperti keluarga korban perang yang terpisah dari orang-orng yang kami sayangi,” lanjut Stefani terbata.
“Bagaimana dengan mamahmu mengetahui kalau kamu ada disini, maksudku di kota ini?” tanyaku.

“Mamahku selalu mengerti kalau Oma suka menempati rumah loteng dengan ciri khas tertentu. Yaitu tertutup dan hanya ada satu pintu kecil untuk masuk dan keluarnya. Sebab omaku orangnya tertutup dan tidak suka diganggu atau mengganggu orang lain. Karena itu aku tidak memperolehkan teman-teman belajar kelompok di rumahku.”
“Tetapi bagaimana kalau oma kamu sakit, sedang disampingnya hanya ada kamu?”
“Kami akan panggil dokter melalui telepon. Kami memang sudah terbiasa hidup dalam kesepian. Tetapi akhir-akhir ini aku menjadi begitu khawatir ketika oma sering sakit-sakitan karena usainya sedangkan aku masih terlalu kecil untuk mengurus banyak hal. Kamu tidak keberatan kan apabila suatu ketika aku minta tolong kepadamu?” tanya Stefani dalam keraguan.
“Aku siap membantumu Stefani. Demikian juga kawan-kawan selama kamu tidak mengambil jarak dari kami. Mudah-mudahan mamahmu cepat menemukan dirimu,” hiburku pada Stefani.
“Aku akan mencoba minta izin pada oma agar teman-teman dapat bermain di rumahku,” potong Stefani meyakinkan.

Hari-hari kemudian berlalu begitu cepat. Tetapi kami sudah terbiasa bermain di dalam rumah loteng yang selama ini menjadi misteri bagi kami. Oma dari Stefani terlihat lebih segar meskipun mamah dan papahnya belum juga datang mengunjungi loteng tua itu. semoga ia cepat mengunjungi Stefani. Tetapi setidaknya ada yang dapat dipetik Stefani dari orang lain bahwa bersahabat itu indah, sepanjang kita tidak menaruh kecurigaan terlampau berlebiiahn pada orang lain.
***

Cernak: Sebuah Rumah Loteng
Dimuat di Wawasan, Minggu 22 september 2002


Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi kami, ya.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Cerpen - SEBUAH RUMAH LOTENG # CERNAK"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel