Novel - BIOGRAFI EKO HARTONO # 10 # MENIKAH
Sunday, 1 April 2018
Add Comment
![]() |
| Novel - BIOGRAFI EKO HARTONO # 10 # MENIKAH |
MENIKAH
Bagian 10
Oleh: Parpal PoerwantoBagaimanapun, aku adalah lelaki. Kata Iwan Fals dalam sebuah syairnya, lelaki kelak akan sendiri. Ya, kelak aku akan sendiri, artinya aku harus bisa menghidupi keluargaku dengan keringatku sendiri. Aku tidak boleh bergantung pada orang lain, terlebih orang tuaku atau saudaraku. Sebagai anak lelaki yang terlahir sulung aku harus bisa menjadi kaca benggala untuk adik-adikku. Bahwa orang yang tuna daksa dan berpendidikan rendah tidak harus hidup oleh belas kasihan orang lain. Bahwa seorang muslim harus bisa menyempurnakan keislamannya dengan berumah tangga. Bahwa seorang suami merupakan imam bagi istri dan anak-anaknya. Bahwa seorang ayah adalah sebagai pengayom dan kepala keluarga.
Untuk menjawab itu semua, dengan keyakinan sebagai hamba-Nya, sebagai khalifah di bumi aku siap untuk mengarungi bahtera rumah tangga. Gadis yang siap hidup bersama baik dalam suka maupun duka adalah Parmi, seorang gadis desa yang lugu tapi penuh rasa percaya diri. Parmi kupilih karena dialah satu di antara dua gadis yang menjadi targetku, yaitu siapa yang lebih dulu membalas suratku maka jika bersedia akan kunikahi nantinya. Dan, akhirnya peristiwa yang sangat bersejarah bagi hidupku itu pun datang pula. Kami menikah secara sederhana pada hari Rabu tanggal 5 Januari 1995 di Kebonagung, Sidoharjo. Kami tidak mengadakan pesta besar. Hanya beberapa saudara atau kerabat saja yang menghadiri pernikahanku. Aku menangis bahagia ketika ijab-kabul selesai dilakukan. Kucium kening istriku dengan gemuruh dadaku. Ingin aku ucapkan kata-kata tetapi mulutku hanya menganga. Ada cairan bening yang menetes dari kelopak istriku.
Usai pernikahan aku mengajak Parmi yang telah resmi menjadi nyonyaku ke Banyakprodo, Tirtomoyo. Sebenarnya keluarga Parmi mengharapkan aku tinggal di rumah mereka di Kebonagung, Sidoharjo. Tapi karena kondisi yang belum memungkinkan, aku memilih tetap tinggal di rumahku. Soalnya aku juga mengemban tangung jawab mengurus adikku yang cacat.
Sejak pensiun dari jabatan Kades orang tuaku sering pergi ke Jakarta untuk bekerja. Jadi akulah yang harus bertanggung jawab mengurus rumah. Aku pun berusaha hidup mandiri meski tinggal di rumah orang tua. Namun demikian, terkadang orang tua juga membantu aku bila ada kesulitan, tepatnya kami saling membantu.
Masa awal pernikahan kami masih dalam taraf penyesuaian. Mengingat kondisiku yang cacat, istriku agak canggung bagaimana harus melayani aku. Karena untuk melakukan suatu keperluan, misalnya mandi atau ke kamar belakang aku harus dibantu. Istriku tak segan menggendongku. Hal ini membuatku merasa terharu, karena istriku tak malu memiliki suami cacat sepertiku. Mungkin inilah perwujudan dari doa yang dulu sering kupanjatkan. Aku meminta pada Tuhan agar diberikan pendamping hidup yang mau menerima diriku apa adanya, tidak mesti cantik, berpendidikan tinggi, atau dari kalangan berada. Asalkan dia beriman dan setia, hatiku sudah sangat bahagia. Istriku adalah benar-benar perhiasan dunia yang diberikan Tuhan kepadaku. Mudah-mudahan dengan segala ketulusan dan keikhlasannya bersuamikan aku, merawatku, melayaniku, dan menemaniku dalam segala situasi dan kondisi, Tuhan memberinya kesehatan, kebahagiaan lahir dan batin, serta sebagai pembuka pintu surga di hari kemudian nanti.
Akan tetapi, menjalani bahtera rumah tangga ternyata tidak seperti apa yang terbayangkan sebelumnya. Perkenalan yang singkat, hanya tiga bulan, lalu menikah membuat kami belum sepenuhnya mengenal satu sama lain. Istriku masih peragu dan kikuk bila hendak melakukan sesuatu. Dia bahkan sering menangis diam-diam, jika kebetulan mendengar suaraku yang bernada keras. Apalagi mendengar kata-kata keras dari anggota keluarga lainnya. Watak keluargaku memang agak keras, terlebih ayahku yang mantan anggota Brimob. Akan tetapi hal itu bukan berarti kami tidak menyayangi satu sama lain. Kerasnya kami hanya dalam nada bicara yang sudah berlangsung lama sebelum kami menikah. Jadi, sebenarnya tidak ada sangkut-pautnya dengan apa yang dilakukan istriku. Untuk itu aku sering menasehati dirinya agar tidak memasukkan hati kata-kata keras baik dariku maupun dari anggota keluarga lainnya. Untung istriku lambat laun bisa mengerti dan tidak canggung lagi melakukan sesuatu.
Ada kejadian yang sempat membuat was-was Pamanku. Pasalnya, ketika kami telah melangsungkan pernikahan, datanglah surat dari gadis Pacitan. Entah bagaimana awalnya, surat itu jatuh ke tangan Paman. Paman tahu bahwa itu surat cinta. Paman berpikir jangan-jangan nantinya membawa suasana keruh yang dapat mengancam pernikahan yang baru saja berlangsung. Dengan sembunyi-sembunyi Paman memberikan surat itu padaku dengan pesan bahwa jangan sampai istriku tahu. Aku terima surat itu, dan di depan Paman juga surat itu langsung kuberikan istriku. Istriku membuka surat dengan tangan gemetar. Lalu aku menyuruhnya untuk membaca agar aku dan Paman juga mengetahui isinya. Dengan suara berat dan tangan gemetar istriku membaca surat itu. Aku dan Paman mendengarkan dengan seksama setiap kata yang terucap dari mulut istriku. Aku, Paman, dan juga istriku sangat menikmati dan terbawa suasana ungkapan isi surat itu. Isi surat menjelaskan bahwa Si Gadis itu menginginkan hubungan antara aku dan dia dilanjutkan. Pada saat surat itu ditulis, dia pergi ke Jakarta untuk minta persetujuan orang tua dan saudara-saudaranya. Sebab di Pacitan dia hanya tinggal bersama neneknya.
Selesai membaca surat itu kulihat mata istriku berkaca-kaca. Air mata itupun tumpah menetesi kertas surat yang ada ditangannya. Aku dan Paman berpadangan. Jujur, mataku sendiri juga sembab. Kemudian istriku meraih sesuatu dari dalam amplop. Ternyata di dalam amplop surat itu terselip sebuah foto. Aku melihat sekilas, cantik memang. Aku tahu istriku cemburu. Untuk itu aku berusaha menenangkannya dengan berkata bahwa hanya dirinyalah satu-satunya perempuan pendamping hidupku. Sampai kini foto gadis Pacitan itu masih disimpan dengan baik oleh istriku. Perihal surat itu, sampai sekarang aku tidak pernah membalasnya dengan maksud untuk menjaga perasaan istriku. Lain itu aku juga yakin bahwa dengan tidak kubalas surat itu berarti gadis Pacitan itu sudah tahu jawabannya.
Lambat laun, akhirnya istriku bisa menyesuaikan diri. Istriku sendiri sebenarnya juga berwatak keras, tetapi hatinya sensitif dan mudah trenyuh. Pertengkaran-pertengkaran kecil dan perbedaan pendapat terkadang mewarnai biduk rumah tanggaku. Aku rasa riak-riak kecil dalam mengarungi bahtera rumah tangga sudah lumrah. Apalagi aku dan istri menikah dengan proses kilat tanpa harus mengenal lebih jauh antara satu dengan lainnya. Belum lagi kondisi fisikku yang harus menyita waktu dan tenaga istriku. Sebagai seorang istri tentu banyak sekali pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.
Padahal ia juga harus memperhatikan dan meladeni aku baik lahir maupun batin. Hal yang demikian itu sangat mudah menyulut rasa ketersinggungan yang akhirnya berbuah kemarahan. Namun, satu hal yang menjadi prinsipku, bila sedang ‘marahan’ dengan sang istri aku berusaha tidak melakukan tindakan tercela. Baik itu dengan kekerasan fisik, ucapan kotor, memaki, atau perbuatan yang dilarang agama. Kalau sedang marahan biasanya tak berlangsung lama, paling lama cuma satu hari. Hal itu sudah aku tekankan ketika awal-awal kami menikah dan istri sanggup melaksanakannya. Karenanya, apabila ada yang marah dan melebihi satu hari belum baikan, salah satu harus mengingatkan. Syukurlah kesepakatan itu berlangsung baik. Sebab, kami sadar, kami saling membutuhkan dan menyayangi satu sama lain. Kami berniat akan menegakkan tiang rumah tangga, sehingga menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah.
Tiga bulan setelah menikah istriku hamil, tetapi sayang baru berumur tiga minggu mengalami keguguran. Perasaan yang awalnya berbunga-bunga akhirnya berubah menjadi kesediahan mendalam. Aku dan istri dinasehati orang tua dan sanak saudara agar tidak larut dalam duka. Semuanya telah Tuhan gariskan. Aku dan istri bisa memupus bahwa anak hanyalah titipan Tuhan. Apabila kita belum diberi kepercayaan oleh Tuhan, maka yang belum diberi, meskipun tanda-tanda untuk diberi kesempatan itu ada.
Perihal keguguran tersebut, banyak yang menganalisa kemungkinan disebabkan istriku terlau kecapaian. Istriku orang yang rajin bekerja. Semua pekerjaan rumah ditanganinya, ditambah harus sering menggendong aku sewaktu-waktu ada keperluan. Perasaan sedih dan kecewa tentu saja menghinggapi. Untuk meringankan beban istriku, budeku yang di Jakarta lalu membelikan sebuah kursi roda untukku. Dengan kursi roda inilah aku bisa ke mana-mana dan beraktivitas tanpa harus digendong. Aku baru dibantu ketika akan mandi, urusan ke belakang atau mau tidur.
Setahun kemudian istriku hamil lagi. Aku gembira sekali. Kuciumi perut istriku dengan penuh kasih sayang. Oleh Ibu, istriku disuruh untuk tidak melakukan pekerjaan yang terlalu berat sehingga menyebabkan kecapaian. Istriku menurut. Ia hanya melakukan pekerjaan harian yang ringan-ringan. Akan tetapi yang mengurus diriku ya tetaplah istriku. Misalnya urusan ke belakang atau mengangkatku ke tempat tidur karena hal itu mustahil kulakukan.
Hari demi hari kulihat perkembangan perut istriku. Ada perasaan bangga di hati. Insya Allah tidak lama lagi aku akan menjadi seorang ayah. Seandainya hal itu benar-benar terjadi, seandainya hal itu terlaksana, betapa indahnya kehidupan ini. Akan tetapi kegembiraan itu berubah menjadi kegusaran. Ketika umur kehamilan mendekati lima bulan terlihat ada sedikit kelainan. Perut istriku terlihat lebih besar dari ukuran normal. Oleh bidan Puskesmas Desa, kami disarankan untuk memeriksakan ke dokter ahli kandungan. Padahal, di daerahku tidak ada dokter ahli kandungan. Praktis kami kebingungan. Selain ke kota jaraknya jauh, kami harus keluar uang untuk sewa mobil dan ongkos dokter. Hal ini memang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Untunglah orang tua dan paman sudi membantu. Dengan diantar Ibu dan beberapa saudara, istriku di bawa ke dokter ahli kandungan di Nambangan, Kecamatan Selogiri – Wonogiri. Aku tidak ikut sebab kalau ikut pasti lebih merepotkan. Perasaanku gundah-gulana tak karuan. Aku berdoa mudah-mudahan bukan penyakit yang menghinggapi perut istriku.
Menunggu kabar sangat melelahkan. Hampir lima jam setelah istriku diantar ke dokter sampai kini belum ada kabar berita. Setelah lama menunggu, saat yang dinanti pun tiba. Aku segera menanyakan perihal kandungan istriku ketika rombongan dari periksa ke dokter itu tiba. Ibu menjelaskan bahwa tidak ada penyakit di perut istriku. Perut besar istriku itu disebabkan karena mengandung bayi kembar.
Aku akan memiliki anak kembar? Perasaan gembira bercampur cemas melebur menjadi satu. Apalagi ketika dokter memberi tahu bahwa salah satu janin perkembangannya mengalami kelambatan. Oleh dokter diberi vitamin untuk membantu perkembangan bayi satunya. Aku hanya bisa berdoa dan berdoa semoga kedua janin dalam kandungan istriku tumbuh menjadi bayi yang normal. Dan pada saatnya nanti kedua bayi itu lahir dengan mudah tiada halangan suatu apapun, begitu juga dengan keselamatan ibunya. Untuk itu, aku selalu berdoa memohon kemurahan Tuhan Yang Maha Pencipta.
Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi seri berikutnya.

0 Response to "Novel - BIOGRAFI EKO HARTONO # 10 # MENIKAH"
Post a Comment